Video: Alasan Pemerintah Nilai Posisi Rupiah Masih “Undervalued”
Dailynesia.com – Pemerintah Indonesia masih optimis bahwa nilai tukar Rupiah (IDR) saat ini masih tergolong “undervalued” di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang disiarkan oleh CNBC Indonesia, Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fithra Faisal, menegaskan bahwa meskipun Rupiah sempat mengalami tekanan akibat pergerakan pasar keuangan internasional, posisinya tetap dianggap lebih rendah dari level yang seharusnya. Hal ini berdasarkan beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan potensi peningkatan nilai tukar mata uang lokal jika faktor-faktor yang memengaruhi kestabilannya diperbaiki. Fithra menambahkan bahwa kondisi ini berbeda dengan krisis ekonomi 1998, ketika Rupiah terpuruk secara drastis hingga mencapai Rp 16.800 per Dolar AS. Saat ini, Rupiah hanya menyentuh Rp 17.400 per Dolar AS, dengan fluktuasi yang lebih terkendali dan tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi domestik yang berjalan stabil.
Analisis Ahli: Rupiah Masih “Undervalued” di Tengah Kondisi Ekonomi Global
Fithra Faisal menjelaskan bahwa posisi Rupiah yang “undervalued” didasarkan pada perbandingan dengan mata uang utama lainnya, seperti Dolar AS dan Euro. Meski pasar global tengah mengalami ketidakstabilan akibat perang dagang dan perubahan kebijakan moneter, pemerintah tetap berupaya memperkuat daya beli Rupiah melalui kebijakan fiskal yang lebih bijak. Menurutnya, faktor-faktor seperti pertumbuhan ekonomi domestik yang mencapai 5,61% pada kuartal I-2026, ketersediaan sumber daya alam yang menunjang ekspor, serta stabilitas politik dalam negeri menjadi penunjang utama untuk menjaga Rupiah tetap pada level yang seimbang. Fithra juga menyoroti bahwa tekanan terhadap Rupiah terutama berasal dari perbedaan yield antara surat utang pemerintah Indonesia dan surat utang AS (US Treasury), yang berdampak pada aliran investasi asing.
Dalam konteks ini, Fithra menegaskan bahwa Rupiah masih memiliki ruang untuk naik karena beberapa indikator ekonomi mendukung kekuatan mata uang lokal. Misalnya, pertumbuhan ekspor yang kuat, kinerja sektor pertanian dan energi, serta peningkatan cadangan devisa negara menjadi bukti bahwa Rupiah tidak terlalu melemah dibandingkan mata uang lain. Ia juga menyoroti bahwa inflasi yang terkendali, yaitu sekitar 3,13% pada Mei 2026, membantu menjaga daya tarik investasi asing. Namun, Fithra mengakui bahwa ada beberapa tantangan, seperti ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global, yang tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Geopolitik dan Faktor Seasonal: Penyebab Tekanan Rupiah
Menurut Fithra Faisal, posisi Rupiah yang masih “undervalued” juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan efek musim haji. Ia menjelaskan bahwa perang dagang antara AS dan Tiongkok, serta ketegangan di Timur Tengah, memengaruhi aliran dana ke pasar keuangan Indonesia. Selain itu, faktor musiman seperti pembagian dividen saham dan puncak musim haji juga memberikan dampak terhadap nilai Rupiah. Fithra menegaskan bahwa dengan penyesuaian kebijakan moneter dan perlindungan terhadap sektor ekspor, pemerintah dapat mendorong perbaikan posisi Rupiah. “Rupiah seharusnya berada di Rp 16.700 per Dolar AS, tapi saat ini masih di Rp 17.400. Ini menunjukkan adanya potensi untuk naik,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Fithra juga membandingkan situasi Rupiah sekarang dengan masa krisis 1998. Pada masa itu, Rupiah mengalami depresiasi yang tajam, mencapai Rp 16.800 per Dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah dan ketergantungan pada aliran dana asing yang tidak stabil. Berbeda dengan kondisi sekarang, ekonomi Indonesia kini memiliki fundamental yang lebih kuat, termasuk peningkatan cadangan devisa hingga mencapai $120 miliar. Fithra menekankan bahwa ini menjadi fondasi untuk memperkuat nilai Rupiah dan mengurangi risiko tekanan eksternal. “Pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan daya beli Rupiah,” katanya.
Menurut Fithra Faisal, kunci utama untuk menjaga Rupiah tetap “undervalued” adalah melalui peningkatan daya saing sektor ekonomi. Ia menyebutkan bahwa diversifikasi ekspor, pengembangan sektor manufaktur, dan peningkatan efisiensi birokrasi akan menjadi faktor yang mendukung peningkatan nilai tukar. Fithra juga menyoroti peran kebijakan fiskal yang lebih inklusif, termasuk subsidi yang diberikan kepada sektor pertanian dan energi, sebagai alat untuk menjaga stabilitas harga dan menjaga daya beli rakyat. Dengan adanya tiga faktor utama tersebut, pemerintah diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam wawancara terkait video “Alasan Pemerintah Nilai Posisi Rupiah Masih ‘Undervalued'”, Fithra menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya fokus pada penstabilan nilai Rupiah, tetapi juga pada peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa pemerintah sedang berupaya memperkuat perekonomian dengan cara meningkatkan investasi domestik, menurunkan defisit neraca perdagangan, dan memastikan inflasi tetap terkendali. Fithra menegaskan bahwa langkah-langkah ini bertujuan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang seimbang, sehingga Rupiah tidak hanya stabil dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki potensi pertumbuhan dalam jangka panjang. “Video ini menjelaskan secara detail bagaimana pemerintah memperhitungkan faktor-faktor ekonomi global dalam menilai posisi Rupiah,” tambahnya.
“Rupiah seharusnya berada di Rp 16.700 per Dolar AS, tapi saat ini masih di Rp 17.400. Ini menunjukkan adanya potensi untuk naik,” ujar Fithra Faisal dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia.
Secara keseluruhan, Fithra Faisal menegaskan bahwa pemerintah memiliki strategi yang matang untuk menjaga posisi Rupiah tetap “undervalued” di tengah tantangan global. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada konsistensi eksekusi dan kemampuan pemerintah untuk menyesuaikan dengan perubahan ekonomi internasional. Dengan adanya kebijakan yang terarah dan faktor-faktor domestik yang stabil, Rupiah diharapkan dapat mencapai level yang lebih optimal dalam waktu dekat. Video ini menjadi bahan referensi penting bagi publik untuk memahami alasan pemerintah menilai nilai Rupiah masih seharusnya ditingkatkan.

