Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Trump Beri Sinyal “Manja” ke Kim Jong Un, Korsel Bakal Dikorbankan?

Published August 18, 2026 · Updated August 18, 2026 · By Sandra Taylor - dailynesia.com

Foto : Sandra Taylor - dailynesia.com

Sinyal Manja Trump ke Pyongyang: Seoul Berpotensi Jadi Kurban Diplomasi

Dailynesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka percakapan soal hubungan personalnya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada Senin (18/8/2026), Trump menegaskan bahwa Kim telah memberikan tanggapan atas upaya Washington untuk menormalisasi jalur komunikasi bilateral.

"Dia sudah," ujar Trump.

Yang menarik, Trump tidak menjelaskan bentuk maupun substansi respons tersebut. Baik pejabat Gedung Putih maupun perwakilan Korea Utara di markas PBB, New York, belum memberikan klarifikasi saat dimintai keterangan.

Konteks: Pengurangan Latihan Gabungan AS–Korsel

Pernyataan itu jatuh tepat sehari setelah Trump memerintahkan Pentagon untuk memangkas secara signifikan latihan militer gabungan dengan Korea Selatan. Ia menyebut dua alasan: biaya latihan yang membengkak, serta keputusan Seoul yang menolak bergabung dalam operasi militer terhadap Iran.

Pyongyang selama ini memandang latihan gabungan tersebut sebagai simulasi perang. Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump menyebut Korea Utara sebagai negara yang "tidak mengancam dan penuh rasa hormat" selama masa kepresidenannya.

"Tidak hanya mahal... tetapi mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada negara yang, selama Donald J. Trump menjadi presiden, tidak mengancam dan penuh rasa hormat."

Analisis: Apakah Pertemuan Baru Mungkin Terjadi?

Walaupun Pyongyang dinilai bersikap dingin terhadap pendekatan Washington, dan posisi tawar Kim kini jauh lebih kuat dibanding pertemuan terakhir kedua pemimpin, para pengamat menilai peluang pertemuan baru tetap terbuka.

Victor Cha, kepala program Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Washington, memperkirakan Korea Utara tidak akan langsung menjawab.

"Saya pikir mereka akan menunggu dan bersabar sebentar," kata Cha.

Cha juga menduga Trump mengangkat isu Korea Utara sebagai cara mengalihkan sorotan dari kesulitan yang dihadapinya dalam konflik Iran. Meski demikian, ia mengakui Trump memiliki ketertarikan pribadi untuk kembali duduk berhadapan dengan Kim.

Andrew Yeo dari Brookings Institution, Washington, melihat sisi keuntungan bagi Kim. Menurutnya, pertemuan semacam itu bukan sekadar soal substansi diplomasi, melainkan juga soal reputasi.

"Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada alasan bagi Kim Jong Un untuk bertemu Trump karena sekarang dia memiliki Rusia dan China di kantongnya. Namun, di sisi lain, saya merasa dia tidak akan rugi apa pun dengan bertemu Trump karena dia memiliki Rusia dan China di kantongnya."

"Ini hanya masalah waktu dan kapan waktu yang paling optimal bagi Kim Jong Un," lanjut Yeo.

Jejak Historis: Dari Ulchi Freedom Guardian hingga Runtuhnya Perundingan

Sydney Seiler, mantan National Intelligence Officer AS untuk Korea Utara, mengingatkan bahwa langkah Trump bukan hal baru. Pada 2018, Trump pernah menghentikan latihan besar Ulchi Freedom Guardian sebagai insentif dialog dengan Kim.

"Memang, saat itu hal tersebut tidak memberi kita banyak keuntungan, tetapi saya juga tidak berpikir kita kehilangan banyak hal saat itu," kata Seiler.

Hubungan personal Trump–Kim menjadi sorotan utama pada masa jabatan pertama Trump. Keduanya menggelar pertemuan puncak pada 2018 dan 2019, namun perundingan kemudian macet akibat kebuntuan soal program nuklir Pyongyang.

Tahun lalu, Kim Yo Jong—saudara perempuan Kim yang berpengaruh besar—mengakui bahwa hubungan pribadi antara kakaknya dan Trump "tidak buruk". Namun ia memperingatkan bahwa jika Washington mencoba menjadikan kedekatan personal itu sebagai jalan pintas untuk mengakhiri program nuklir Korea Utara, upaya tersebut hanya akan menjadi bahan "ejekan".

Sejak pertemuan terakhir pada 2019, posisi strategis Korea Utara telah bergeser secara signifikan. Pyongyang memperkuat aliansi dengan sekutu-sekutu besar, mengubah kalkulasi diplomasi kawasan secara mendasar.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Trump Beri Sinyal Manja ke Kim Jong?

Trump Beri Sinyal Manja ke Kim Jong is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Trump Beri Sinyal Manja ke Kim Jong matter?

Trump Beri Sinyal Manja ke Kim Jong matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.