Wamenko Pangan Yakin RI Bisa Kurangi Impor Daging dengan Cara Ini

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
46cd9602-9783-464f-b32a-9b96a1c8daf3-0

Topics Covered: Wamenko Pangan Yakin RI Bisa Kurangi Impor Daging Melalui Pendekatan Ini

Dailynesia.com – Jakarta – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa integrasi antara perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging. Ia menekankan bahwa model ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan daging lokal, tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Menurut Hanif, lahan sawit yang luas dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan sapi secara alami, sehingga menghasilkan pasokan daging yang lebih stabil.

Model integrasi ini dianggap lebih efisien dibandingkan metode inseminasi buatan, karena proses reproduksi alami memungkinkan pengelolaan biaya yang lebih rendah dan pengurangan risiko penyakit. “Pertumbuhan sapi di lahan sawit sangat cocok untuk program Topics Covered. Setelah usia 3-9 bulan, anak sapi disapih agar tumbuh secara merata dan meningkatkan efisiensi produksi,” jelas Hanif dalam pernyataan resmi, Jumat (19/6/2026). Ia menambahkan bahwa sistem ini bisa menjadi bagian dari peningkatan kapasitas produksi daging di dalam negeri.

“Model ini tidak perlu memaksakan sistem dari negara lain. Kita harus menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia,” tegas Hanif.

Kebutuhan Daging di Kalimantan Selatan

Dalam wawancara terpisah, Hanif menyebutkan bahwa kebutuhan daging di Kalimantan Selatan mencapai 56.000 hingga 57.000 ekor per tahun. Namun, produksi lokal hanya mencapai 33.000 ekor, sehingga masih ada defisit lebih dari 20.000 ekor. Ia menyatakan bahwa integrasi sawit dan peternakan sapi di wilayah tersebut memiliki peluang besar, terutama di 250.000 hektare lahan sawit yang dianggap layak untuk dikembangkan. “Kebutuhan daging di Kalimantan Selatan bisa terpenuhi melalui program Topics Covered, yang memanfaatkan lahan sawit untuk menghasilkan sapi secara berkelanjutan,” tambah Hanif.

Dengan rasio satu sapi per 13 hektare, lahan sawit di Kalimantan Selatan diperkirakan bisa menampung sekitar 20.000 ekor sapi. “Jumlah ini bisa memenuhi kebutuhan daging lokal, sekaligus memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan nasional,” imbuh Hanif. Integrasi ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 yang menekankan kawasan swasembada pangan, energi, dan air. Program Topics Covered diharapkan menjadi bagian dari upaya ini untuk mengurangi impor daging secara bertahap.

Manfaat Ekonomi untuk Perusahaan Sawit

Menurut Hanif, adanya sapi di area perkebunan membawa dampak positif secara ekonomi. Ternak ini bisa membantu mengurangi biaya pengelolaan gulma hingga 50%-70%, serta meningkatkan kesuburan tanah melalui kotoran sapi. “Manfaat ekonomi dari program Topics Covered cukup signifikan, karena mengoptimalkan penggunaan lahan sawit untuk produksi daging lokal,” jelas Hanif. Sistem penggembalaan yang dilakukan secara bergilir juga memastikan kualitas tanaman tetap terjaga tanpa mengganggu pertumbuhan sapi.

Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) saat ini sedang dikaji lebih lanjut. Pemerintah berencana menggandeng Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk mengembangkan regulasi serta iklim usaha yang mendukung model ini. Hanif menilai, sistem Topics Covered bisa menjadi keunggulan kompetitif Indonesia dalam memenuhi kebutuhan daging nasional. “Dengan luas lahan sawit nasional sekitar 17 juta hektare, potensi pengembangan SISKA cukup besar. Dalam perhitungan, lahan sawit mampu menampung 1,3 juta ekor sapi, yang mampu memenuhi kebutuhan daging sebesar 800.000 ton per tahun,” tutur Hanif.

Hal ini juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian dan peternakan. Dengan menggabungkan kelebihan lahan sawit sebagai area hijau yang bisa dimanfaatkan untuk berkembang biak sapi, industri lokal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor. “Topics Covered memberikan solusi yang menggabungkan keberlanjutan lingkungan dengan peningkatan produksi pangan,” lanjut Hanif. Selain itu, model ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan peternak lokal melalui pendapatan tambahan dari penjualan daging.

Adapun tantangan utama dalam implementasi program ini adalah memastikan kesiapan infrastruktur dan pelatihan peternak. Hanif menyebutkan bahwa pemerintah sedang berupaya memberikan dukungan teknis dan kebijakan untuk memudahkan transisi dari sistem pertanian konvensional ke model Topics Covered. “Dengan komitmen yang kuat, kita bisa mencapai target pengurangan impor daging dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

“Program Topics Covered bukan hanya tentang produksi daging, tetapi juga tentang peningkatan kapasitas pangan secara holistik,” tegas Hanif.

MORE FROM THIS CATEGORY