Israel Takut AS dan Iran Berdamai, Netanyahu di Ujung Tanduk
Dailynesia.com – Jakarta – Tiga bulan berlalu sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, tetapi suasana di Tel Aviv justru berubah dari kegembiraan menjadi kecemasan dan kemarahan. Kesepakatan yang kini sedang dibicarakan oleh Presiden AS Donald Trump dengan Teheran memicu kekhawatiran besar di Israel, dianggap sebagai ancaman terhadap strategi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam analisis The Guardian, Rabu (27/5/2026), dinamika kebijakan luar negeri AS berpotensi mengguncang keberhasilan diplomatis Israel yang selama ini dianggap kunci untuk mencapai tujuan politiknya.
Sebelumnya, operasi gabungan AS dan Israel yang dinamai Operation Epic Fury oleh Washington serta Operation Roaring Lion oleh Tel Aviv, sempat memicu euforia di kalangan elite Israel. Serangan besar yang dilancarkan terhadap Iran pada masa itu diyakini berpotensi meruntuhkan ambisi nuklir Teheran serta menjadi pintu masuk bagi transisi rezim. Namun, tiga bulan kemudian, Iran masih bertahan, bahkan menguatkan posisi strategisnya. Trump kini justru fokus pada pembicaraan baru dengan Teheran, yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal tanker minyak internasional. Isi awal kesepakatan tersebut, yang bocor ke publik, langsung memicu reaksi keras dari media dan pengamat Israel.
Netanyahu: Pemimpin di Ujung Tanduk
Banyak analis dan media lokal mengkritik kemampuan Netanyahu untuk memahami arah kebijakan Washington. Nahum Barnea, seorang komentator di Yedioth Ahronoth, menulis:
“Israel sepenuhnya tunduk pada keputusan presiden Amerika yang berubah-ubah, kosong, dan putus asa.”
Ia menjadi salah satu suara paling tajam yang menyoroti kesepakatan Trump-Teheran serta strategi Netanyahu sebelum dan selama operasi perang. Barnea menambahkan:
“Semakin besar kemarahan, semakin keras aumannya, semakin besar pula kekalahannya.”
Kritik ini menunjukkan bahwa Netanyahu kehilangan kontrol atas alur hubungan luar negeri Israel.
Dalam proses negosiasi terbaru, Israel tidak terlibat langsung. Pemerintah Tel Aviv disebut hanya mendapatkan informasi melalui jaringan sekutu regional dan operasi intelijen. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa strategi negara tersebut tidak lagi menjadi prioritas utama bagi Washington. Kesepakatan yang dibahas oleh Trump memang diyakini masih membatasi program nuklir Iran, tetapi para pengamat Israel menilai batasan itu jauh lebih longgar dibandingkan kesepakatan era Obama, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015.
Kritik terhadap JCPOA dan Strategi Trump
Netanyahu, yang merupakan salah satu pengkritik paling tajam JCPOA, kini menghadapi posisi yang lebih rentan. Ben Caspit, penulis di Ma’ariv, menulis:
“Kesepakatan yang sedang muncul jauh lebih buruk dibandingkan yang sebelumnya.”
Ia memperingatkan bahwa hasil perang dan kesepakatan gencatan senjata justru bisa mempercepat program nuklir Iran, bukan menghancurkannya seperti yang dijanjikan Netanyahu.
“Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi,”
tulis Caspit, menggunakan nama panggilan untuk Netanyahu.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sejak awal menjadi alasan utama bagi operasi perang. Khamenei dikenal sebagai sosok yang membangun infrastruktur nuklir Teheran, tetapi kematian itu juga menghilangkan figur yang menahan tahap akhir pengembangan senjata nuklir. Selain itu, ancaman lain yang menjadi argumen utama Israel, seperti jaringan proxy Iran di kawasan dan arsenal rudal balistik Teheran, tidak masuk dalam agenda negosiasi saat ini. Dampaknya, kebijakan AS dinilai tidak lagi berpijak pada kebutuhan Israel, tetapi lebih bersifat politik.
Elite keamanan Israel sebenarnya telah memperingatkan Netanyahu sejak awal bahwa ambisi mengejar perubahan rezim di Iran bisa mengorbankan aset diplomatik vital, yaitu dukungan bipartisan dari AS. Mereka juga memandang bahwa operasi perang yang dimulai pada Februari lalu justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik domestik, terutama menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang. Namun, dengan pengejaran kesepakatan baru, niat tersebut dinilai tidak lagi mendapat dukungan dari pemerintahan AS.
Jajak pendapat di AS menunjukkan bahwa konflik dengan Iran berpotensi mengguncang warisan hubungan strategis puluhan tahun antara Washington dan Tel Aviv. Kesepakatan yang sedang dinegosiasikan tim Trump mengandung kompromi yang dianggap melemahkan posisi Israel. Meski Iran tetap dibatasi dalam program nuklirnya, kebijakan ini justru memberi alasan bagi pihak-pihak yang ingin melihat keberhasilan Netanyahu diuji. Situasi ini memicu tekanan politik internal, di mana kelompok sayap kanan ekstrem dalam koalisi Netanyahu mulai mendesak pemerintah untuk memperkuat posisi terhadap kebijakan Trump.
Beberapa pihak di Israel menilai kebijakan Trump lebih mementingkan kepentingan minyak daripada keamanan wilayah. Dengan membuka Selat Hormuz bagi kapal tanker, AS berharap memperkuat ekonomi global dan mengurangi risiko konflik yang bisa merusak pasokan energi. Namun, Netanyahu melihat ini sebagai ancaman terhadap keberhasilan diplomatisnya. Dalam pandangan kritikus, kebijakan Trump justru merusak kredibilitas negosiasi dengan Iran, karena menurunkan standar penegakan sanksi.
Implikasi Politik dan Eksistensial
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar lokal, Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran akan membawa konsekuensi serius bagi Israel. Ia menekankan bahwa aliansi dengan AS adalah jantung kekuatan politiknya, tetapi kebijakan Trump menunjukkan bahwa hubungan tersebut bisa diubah dalam waktu singkat. “Jika kesepakatan yang sedang dibicarakan ditandatangani, dampaknya akan jauh lebih buruk,” ujarnya dalam sebuah pidato resmi.
Kebijakan baru ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas regional. Dengan Iran yang masih berdiri dan mengantarkan perjanjian yang lebih longgar, wilayah Timur Tengah bisa kembali ke keadaan ketidakpastian. Para pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan pemerintahan Trump dalam menggandakan konsensus internasional berpotensi mengurangi pengaruh Israel di panggung politik global. Netanyahu, yang selama ini dianggap sebagai simbol kekuatan Israel, kini berada di tengah badai kritik.
Menurut laporan New York Times, Israel tidak lagi mendapat peran aktif dalam proses negosiasi. Kehilangan partisipasi ini membuat pemerintah lokal terpaksa mengandalkan data intelijen dan laporan dari sekutu regional untuk memantau perkembangan. Meski kebijakan Trump dinilai tetap mendukung keamanan Israel, banyak pihak menilai keputusan tersebut tidak sejalan dengan visi Netanyahu. Dengan kesepakatan yang lebih murah, Iran bisa memperkuat posisinya secara ekonomi dan politik, sementara Israel kehilangan kredibilitas sebagai aliansi yang konsisten.
Situasi ini memperlihatkan bahwa Netanyahu tidak hanya dihadapkan pada konflik geopolitik, tetapi juga perang kebijakan dalam pemerintahan sendiri. Kelompok sayap kanan ekstrem yang mendukungnya selama operasi perang kini memperlihatkan keraguan

