Butuh Waktu, RI Batal Ekspor Listrik ke Singapura Tahun Ini

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
3d5f54bf-e7dc-4b09-bbe7-2606d6232947-0

Butuh Waktu, RI Batal Ekspor Listrik ke Singapura Tahun Ini

Dailynesia.com – Dalam konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/6/2026), Menteri Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa rencana ekspor listrik ke Singapura belum bisa terealisasi pada tahun ini. Menurutnya, proyek ini memerlukan masa persiapan yang cukup panjang, sekitar 1,5 tahun, untuk memastikan infrastruktur dan regulasi pendukung siap diimplementasikan. Ekspor listrik ke Singapura menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam pertemuan Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong tahun lalu.

“Tidak bisa dilakukan tahun ini. Memang, proyek ini membutuhkan waktu setidaknya 1 sampai 1,5 tahun untuk mempercepat pemanfaatan fasilitas dan kebijakan yang sudah disepakati,” jelas Airlangga Hartarto. Ia menjelaskan bahwa penyelesaian seluruh langkah teknis dan administratif membutuhkan konsistensi dari pihak berwenang serta waktu untuk memastikan kesiapan penuh.

Topik yang tercakup dalam rencana ini mencakup pengembangan jaringan transmisi, regulasi penyediaan listrik ke luar negeri, serta koordinasi dengan Singapura untuk memastikan kebijakan energi bersama dapat berjalan efektif. Airlangga juga menyoroti bahwa pemerintah sedang fokus pada evaluasi terhadap kesepakatan tersebut, termasuk penghitungan volume investasi yang diperlukan untuk mendukung ekspor listrik 3 gigawatt (GW) yang dijanjikan.

Rencana Ekspor dan Perjanjian MoU

Topik yang tercakup dalam MoU antara Indonesia dan Singapura mencakup potensi kerja sama dalam energi terbarukan, infrastruktur listrik, dan kerangka regulasi yang mengatur ekspor ke luar negeri. Dalam pertemuan Leaders’ Retreat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa investasi minimal untuk proyek ini mencapai US$10 miliar, dengan perhitungan yang mempertimbangkan fasilitas transmisi, regulasi, dan integrasi sistem energi kedua negara.

“Topik yang tercakup dalam MoU ini adalah tentang pengembangan infrastruktur listrik, termasuk transmisi dan distribusi, serta kemungkinan kerja sama dalam energi terbarukan,” tambah Bahlil. Ia menjelaskan bahwa proyek ini bukan hanya tentang produksi listrik, tetapi juga tentang kesiapan Indonesia sebagai negara yang mampu menjual energi ke luar negeri secara stabil.

Pengumuman ekspor listrik ke Singapura ini menjadi bagian dari upaya Indonesia meningkatkan ekspor energi dan memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. Dalam MoU yang ditandatangani tahun lalu, ada beberapa topik yang tercakup, seperti penentuan harga listrik, mekanisme perdagangan, serta komitmen untuk membangun pusat penyimpanan energi dan berbagai fasilitas pendukung.

Perkembangan dan Tantangan

Topik yang tercakup dalam evaluasi terbaru menunjukkan bahwa pemerintah sedang mengidentifikasi hambatan utama, termasuk kebutuhan modal yang besar, kebijakan regulasi yang masih perlu disempurnakan, serta koordinasi dengan Singapura untuk memastikan kecocokan antara kebutuhan kedua negara. Airlangga mengatakan bahwa meskipun proyek ini belum bisa dimulai tahun ini, pihaknya tetap berkomitmen untuk mendorong pelaksanaannya secepat mungkin.

“Kami sedang fokus pada penyelesaian topik yang tercakup dalam MoU, termasuk perbaikan regulasi, pembangunan fasilitas, dan integrasi sistem energi. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk memulai ekspor listrik pada tahun depan,” ujar Airlangga. Ia menegaskan bahwa semua langkah yang tercakup dalam MoU akan dikoordinasikan dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta berbagai instansi terkait.

Ekspor listrik ke Singapura menjadi topik yang tercakup dalam perjanjian kerja sama antara dua negara, dan diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor asing terhadap potensi energi Indonesia. Airlangga mengatakan bahwa evaluasi teknis terus berlangsung, dan jika semua topik yang tercakup berhasil diselesaikan, rencana ini akan menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan ekspor energi nasional.

MORE FROM THIS CATEGORY