Todotua: Indonesia Punya Sumber Energi Hijau Besar, Tapi…
Todotua: Indonesia Punya Sumber Energi Hijau Besar, Tapi...
Dailynesia.com – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu menyoroti tantangan mendasar dalam pemanfaatan kekayaan alam Indonesia. Struktur biaya yang tinggi masih menjadi hambatan utama, termasuk dalam sektor energi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong agenda hilirisasi guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Sebagai pejabat kunci dalam kebijakan investasi, Todotua menekankan pentingnya transformasi ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Dalam acara Mindialogue 2026 bertajuk Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI pada Rabu (12/8/2026), Todotua menjelaskan bahwa diskusi hilirisasi tidak bisa lepas dari pembahasan struktur biaya. Ia mencontohkan sektor energi baru terbarukan (EBT) yang menghadapi tantangan serupa. Menurut Todotua, Indonesia memiliki potensi luar biasa namun belum termanfaatkan secara optimal karena berbagai kendala struktural.
Tantangan Struktur Biaya di Sektor Energi
"Bicara hilirisasi, kita juga harus membahas struktur cost. Misalnya kita masuk ke energi baru terbarukan (EBT), tantangannya itu struktur cost," ujar Todotua.
Salah satu masalah di sektor EBT adalah harga jual yang relatif mahal. Meskipun Indonesia memiliki potensi mencapai 13 GW dari tenaga surya, panas bumi, dan air, kemampuan beli masyarakat masih berada di bawah nilai jualnya. Todotua mengemukakan bahwa PLN saat ini memiliki kemampuan beli sebesar 7 sen, sementara listrik dari panas bumi dijual dengan harga 10 sen. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius bagi pengembangan energi hijau di Indonesia.
Di bidang panel surya, Indonesia baru sebatas melakukan perakitan sehingga biayanya masih tinggi. Padahal, menurut Todotua, 87% komponen panel surya tersedia di dalam negeri, termasuk timah dan bauksit. Potensi ini seharusnya dapat dimanfaatkan lebih maksimal melalui kebijakan hilirisasi yang tepat.
"Padahal solar panel itu 87% komponen kita punya, ada timah, bauksit, semua ada," tambah Todotua.
Strategi Hilirisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi
Menurutnya, mendorong hilirisasi menjadi langkah penting dan strategis. Hal ini bukan hanya dilihat dari volume, tetapi juga dari penciptaan nilai tambah. Todotua menambahkan bahwa kontribusi investasi di bidang hilirisasi saat ini mencapai 29,7% dari total realisasi investasi Semester I-2026. Angka ini menunjukkan tren positif dalam pengembangan sektor strategis nasional.
Peningkatan investasi pada program hilirisasi menjadi andalan untuk menuju pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Todotua menjelaskan bahwa jika menuju target 8%, salah satu indikatornya adalah angka realisasi investasi 2025. Dengan target investasi Rp1950 triliun, Indonesia bisa mencapai 3% di atas itu. Pada tahun 2026, targetnya lebih besar dan di semester 1 diperkirakan mencapai seribu triliun.
"Kalau menuju 8% memang salah satu indikator angka realisasi investasi 2025 daripada target investasi Rp1950 triliun, kita bisa achieve 3% di atas itu, dan di 2026 ini kita memang targetnya lebih besar dan di semester 1 2026 kira-kira mencapai seribu triliunan," kata Todotua.
Frequently Asked Questions
Berapa potensi energi hijau Indonesia? Indonesia memiliki potensi mencapai 13 GW dari tenaga surya, panas bumi, dan air, namun kemampuan beli masyarakat masih menjadi tantangan.
Apa kontribusi investasi hilirisasi terhadap ekonomi? Kontribusi investasi di bidang hilirisasi saat ini mencapai 29,7% dari total realisasi investasi Semester I-2026.
Berapa target investasi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan 8%? Target investasi 2025 adalah Rp1950 triliun dengan kemungkinan mencapai 3% di atas target tersebut.
Bagaimana posisi Indonesia dalam produksi panel surya? Indonesia baru sebatas melakukan perakitan panel surya, padahal 87% komponennya tersedia di dalam negeri.