Stres Belajar, Kronologi Siswa 14 Tahun Tembak Sekolah & Bunuh Guru

3 hours ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
petugas-penyelamat-berdiri-di-dekat-ambulans-di-sekolah-debsirin-nonthaburilokasi-terjadinya-insiden-penembakandi-distrik-bang-1786084015199_169

Tragedi Sekolah Debsirin Nonthaburi: Remaja 14 Tahun Tewaskan 7 Orang

Dailynesia.com – Pagi tanggal 7 Agustus 2026 di Sekolah Debsirin Nonthaburi, kawasan pinggiran Bangkok, berjalan seperti hari-hari biasa. Murid-murid masuk ke kelas masing-masing sementara para pendidik mempersiapkan materi pelajaran. Namun, dalam beberapa jam saja, suasana tenang berubah menjadi salah satu tragedi terbesar Thailand modern. Seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang membawa pistol kaliber 9 mm milik kakeknya melakukan penembakan acak yang menewaskan dua kakek-neneknya serta lima guru. Total korban jiwa mencapai tujuh orang, dengan lebih dari 30 orang lainnya terluka.

Kronologi Serangan yang Terorganisir

Kepanikan dimulai tak lama setelah pukul 10.00 waktu setempat. Remaja tersebut mulai menargetkan para guru satu per satu dengan tembakan yang cukup akurat. Beberapa peluru mengenai bagian vital tubuh para korban. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang memberikan keterangan langsung dari lokasi kejadian, menyatakan bahwa serangan ini telah dipersiapkan dengan matang. Ia menjelaskan bahwa sang pelaku sudah memiliki “langkah-langkah yang jelas dan sasaran yang jelas” sebelum memulai aksi tersebut.

Awalnya, pelaku diduga telah membunuh kedua kakek-neneknya di rumah sebelum berangkat ke sekolah. Fakta ini baru terungkap setelah polisi melakukan penggeledahan di tempat tinggal pelaku dan menemukan dua jenazah. Di sekolah, ia berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain sambil melepaskan tembakan. Lima guru meninggal dunia dalam serangan tersebut, termasuk seorang guru bahasa Thailand yang dulunya adalah murid di sekolah yang sama sebelum kembali menjadi tenaga pengajar.

“Salah satu guru yang tewas, guru bahasa Thailand, adalah teman saya. Usia kami sama. Kami dulu bersekolah di sini bersama, lalu sama-sama menjadi guru di sekolah ini,” kata seorang saksi sebagaimana dimuat BBC international.

Saksi Mata Menggambarkan Kengerian

Seorang siswi kelas tujuh menceritakan pengalamannya saat pelaku datang. Ia sedang berdiri di depan gurunya ketika pistol itu ditembakkan. “Saya tidak bisa melihat apa pun selain kepulan debu. Dia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Meja saya sangat dekat dengan guru. Saya harus memanjat pagar sekolah bersama teman-teman untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.

Pawarisa Maylissa, siswi berusia 17 tahun, juga menggambarkan ketakutannya kala itu. Ia mengatakan sempat takut karena tak dibayangi kekhawatiran masa depannya selesai. “Saya takut akan meninggal dan takut tidak bisa mengejar impian saya,” ujarnya dimuat BBN Times dari AFP. Menurutnya, ia mendengar beberapa kali suara tembakan dari lantai tepat di atas ruang kelasnya. Ia berujar mendengar suara peluru menghantam lantai di atasnya.

Pelaku Tewas dengan 30 Peluru Tersisa

Serangan berlangsung sekitar satu jam. Saat aparat berhasil mencapai pelaku, remaja tersebut telah menembak dirinya sendiri. Petugas medis masih menemukan denyut nadi dan melakukan CPR sebelum membawanya ke rumah sakit, namun ia meninggal dalam perjalanan. PM Charnvirakul mengungkapkan bahwa ketika bunuh diri, pelaku masih memiliki lebih dari 30 butir peluru. Ini menunjukkan jumlah korban berpotensi jauh lebih besar.

Tragedi Berulang di Thailand

Tragedi ini merupakan penembakan di sekolah kedua di Thailand sepanjang tahun ini. Pada Februari lalu, seorang pria bersenjata berusia 18 tahun menembak kepala sekolah dan seorang siswi saat penyanderaan di Thailand selatan. Thailand juga masih dibayangi tragedi Nong Bua Lamphu pada Oktober 2022, ketika seorang pria berusia 34 tahun menewaskan 37 orang, sebagian besar anak-anak prasekolah. Peristiwa itu menjadi salah satu pembantaian anak paling mematikan dalam sejarah modern.

Menurut para pengamat, salah satu penyebab utamanya adalah mudahnya memperoleh senjata api di Thailand meski negara tersebut memiliki berbagai aturan pembatasan. Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara. Senjata yang digunakan dalam berbagai aksi penembakan umumnya diperoleh secara legal maupun melalui jalur ilegal. Hambatannya, yang relatif kecil.

Stres Akademik sebagai Pemicu?

Informasi awal mengenai pelaku menggambarkan sosok remaja yang tampak biasa. Polisi mengatakan pelaku diduga mengalami tekanan akibat pelajaran di sekolah, berdasarkan keterangan teman dekatnya. Namun, seorang guru menyebut pelaku sebagai siswa yang cukup baik dan rajin. Krisis kesehatan mental di kalangan remaja kembali menjadi sorotan setelah insiden ini, mengingat tekanan akademik yang semakin tinggi di sistem pendidikan Thailand.

Frequently Asked Questions

What is Stres Belajar Kronologi Siswa 14 Tahun?

Stres Belajar Kronologi Siswa 14 Tahun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Stres Belajar Kronologi Siswa 14 Tahun matter?

Stres Belajar Kronologi Siswa 14 Tahun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category