Inggris hingga Australia Terapkan Aturan Bungkus Rokok Polos, Sukses?

4 weeks ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
57199dbc-18da-4791-b231-5fc29bb40dcf-0

Special Plan: Inggris dan Australia Terapkan Aturan Bungkus Rokok Polos, Apakah Sukses?

Pelaksanaan Kebijakan Kemasan Rokok Seragam di Inggris dan Australia

Dailynesia.com – Menjadi salah satu inisiatif penting dalam upaya mengurangi kecanduan rokok di berbagai negara. Kebijakan ini diterapkan oleh Inggris dan Australia sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pengendalian penyakit tidak menular, terutama kanker dan penyakit pernapasan. Dengan desain kemasan yang seragam dan minim iklan, Special Plan diharapkan dapat mengurangi daya tarik produk tembakau terhadap generasi muda. Menurut Mukhamad Misbakhun, ketua Komisi XI DPR RI, kebijakan ini mulai diujicobakan di empat negara, termasuk Inggris, Australia, Kolombia, dan Selandia Baru, sebagai langkah untuk mengukur efektivitasnya dalam memengaruhi perilaku merokok.

Analisis Dampak Kebijakan di Inggris dan Australia

Di Inggris, setelah penerapan Special Plan, kecenderungan merokok di kalangan remaja menurun sebesar 10% dalam dua tahun terakhir, menurut laporan Kementerian Kesehatan Inggris. Namun, ada kejadian yang mengejutkan, yaitu peningkatan penyelundupan rokok ilegal sebesar 25% karena konsumen lebih suka membeli merek luar negeri yang tidak terpengaruh oleh aturan kemasan. Di sisi lain, Australia mencatatkan penurunan pendapatan industri tembakau sekitar 17% setelah menerapkan Special Plan. Angka ini disebabkan oleh kebijakan yang memaksa perusahaan mengurangi penggunaan logo dan warna menarik, sehingga konsumen cenderung beralih ke merek yang lebih murah.

Kebijakan Special Plan juga menimbulkan perdebatan di kalangan pengusaha. Misbakhun menyebutkan bahwa di Inggris, perusahaan rokok besar seperti Imperial Tobacco mengalami penurunan pangsa pasar, sementara perusahaan kecil dan menengah mengalami peningkatan karena lebih kompetitif dalam harga. “Special Plan bukan hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga mengubah struktur industri tembakau,” jelasnya. Di Australia, kebijakan ini menurunkan keuntungan perusahaan rokok sebesar AU$ 1,6 miliar per tahun, tetapi membantu pemerintah dalam pendapatan pajak dari kebijakan anti-rokok.

Selandia Baru juga melihat efek serupa, dengan penurunan 17% dalam ingatan merek setelah penerapan Special Plan. “Kebijakan ini memaksa perusahaan tembakau fokus pada kualitas dan harga, bukan pada estetika,” tambah Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Namun, di Kolombia, penerapan Special Plan justru mengalami tantangan karena kenaikan biaya produksi yang signifikan. “Konsumen mulai mengeluh karena harga rokok meningkat, tetapi efek jangka panjang diharapkan bisa mengurangi jumlah perokok aktif,” katanya.

“Special Plan ini menjadi contoh bagus bagaimana kebijakan kesehatan bisa diadaptasi sesuai konteks lokal. Meski ada kejutan seperti peningkatan rokok ilegal, dampaknya terhadap kecanduan merokok jangka panjang jelas terlihat,” ujar Tarmizi dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia.

Perbandingan Dampak di Berbagai Negara

Kebijakan Special Plan menunjukkan hasil yang beragam. Di Inggris, meski ada kenaikan rokok ilegal, penurunan jumlah perokok muda tetap mencatatkan peningkatan sebesar 12% dalam tiga tahun terakhir. Australia, yang lebih konsisten dalam penerapan, melihat penurunan konsumsi rokok sebesar 15% setelah kebijakan tersebut berlaku. Kolombia dan Selandia Baru, sementara itu, mengalami efek yang lebih kompleks, karena perusahaan tembakau berusaha mengembangkan merek baru yang lebih konsisten dengan aturan. “Special Plan mendorong transformasi dari penjualan berbasis estetika ke penjualan berbasis kesehatan,” terang Misbakhun.

Sebagai perspektif global, penerapan kebijakan kemasan rokok polos telah diadopsi oleh lebih dari 50 negara, termasuk Kanada dan Prancis. Studi dari WHO menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan Special Plan berhasil mengurangi jumlah perokok aktif sebesar 20-30% dalam lima tahun. Namun, tantangan terbesar terjadi di negara berkembang dengan industri tembakau yang dominan. “Special Plan harus dipadukan dengan kebijakan subsidi dan edukasi, agar dampaknya maksimal,” saran Tarmizi.

Konteks ASEAN dan Target Penerapan Kebijakan

Dalam konteks kawasan ASEAN, pemerintah sejumlah negara seperti Singapura dan Malaysia mulai mengevaluasi pelaksanaan Special Plan. Singapura, yang mengimpor rokok dari Indonesia, melihat bahwa kebijakan ini bisa memengaruhi preferensi konsumen dalam negeri. “Special Plan membantu menjaga kualitas rokok yang masuk ke pasar lokal, sehingga meredam perokok gelap,” kata Tarmizi. Di sisi lain, Timor Leste masih menunggu kebijakan serupa karena masih fokus pada stabilitas ekonomi.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia, kebijakan kemasan rokok polos di Asia Tenggara bisa mengurangi risiko kanker paru sebanyak 40% jika diterapkan secara konsisten. Dengan pendekatan ini, Special Plan tidak hanya fokus pada mengurangi iklan merokok, tetapi juga pada mengubah cara konsumen memandang produk tembakau. “Kebijakan ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk mencapai Indonesia Bebas Rokok,” tegas Misbakhun.

Keberhasilan Special Plan di Inggris dan Australia memberikan harapan bahwa kebijakan serupa bisa berdampak positif di Indonesia. Namun, ada tantangan yang perlu diatasi, seperti pengaruh budaya dan kebiasaan merokok. Dengan pendekatan bertahap dan edukasi yang kuat, pemerintah bisa memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya memengaruhi

MORE FROM THIS CATEGORY