Bos Mal Bilang Warga RI Masih Doyan Belanja, Tapi Incar Barang Murah

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
ketua-umum-appbi-alphonzus-widjaja-saat-ditemui-di-auditorium-kementerian-perdagangan-jakarta-senin-862026-1780922299962_169

Bos Mal: Warga Indonesia Masih Aktif Belanja, Tapi Lebih Incar Barang Murah

Dailynesia.com – Jakarta, Meski daya beli masyarakat mengalami tekanan akibat kenaikan harga-harga, pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia masih optimis. Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), mengatakan bahwa warga Indonesia tetap aktif melakukan aktivitas belanja, meski pola konsumsi mereka telah berubah. Kini, konsumen lebih cenderung memilih produk dengan harga satuan yang kompetitif, bukan hanya berdasarkan merek atau kualitas.

Tren Belanja Konsumen Indonesia

Dalam wawancara di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026), Alphonzus menjelaskan bahwa meski tingkat kunjungan ke mal belum menurun signifikan, kebiasaan belanja bertransformasi. “Solving Problems” dalam penyesuaian gaya hidup masyarakat terlihat jelas, dimana pembelian diutamakan pada aspek ekonomis. Penggunaan konsep unit price (harga satuan) menjadi kunci dalam pengambilan keputusan belanja, terutama untuk barang kebutuhan pokok.

Menurut Alphonzus, perubahan ini tidak berarti konsumen mengabaikan kualitas. Faktanya, keinginan untuk mendapatkan nilai lebih membuat mereka lebih selektif. “Warga Indonesia masih memiliki minat untuk berkumpul, tapi mereka ingin mendapatkan barang yang terjangkau secara harga,” ujar Alphonzus. Hal ini juga didukung oleh data penjualan yang menunjukkan peningkatan transaksi kecil namun frekuensi belanja meningkat.

Dampak dari pola ini terasa pada industri ritel. Alphonzus menegaskan bahwa peningkatan omzet ritel belum optimal karena tekanan ekonomi. “Solving Problems” di sektor retail diwujudkan melalui inovasi harga dan promosi, termasuk penggunaan teknologi digital untuk memudahkan akses informasi harga. Meski demikian, banyak pusat perbelanjaan dan merek baru yang terus masuk ke pasar Indonesia, terutama dari negara-negara tetangga seperti Tiongkok.

Analisis Kinerja Industri Ritel

Alphonzus menyebutkan bahwa ekspansi ritel di Indonesia terus berjalan, meski dengan penyesuaian strategi. “Solving Problems” dalam bisnis ritel tidak hanya terbatas pada harga, tetapi juga pada pengalaman belanja. Pusat perbelanjaan yang terus muncul mencoba menyesuaikan tawaran mereka untuk menarik konsumen yang lebih hemat. “Kita melihat adanya pergeseran ke arah lebih efisien, baik dalam struktur harga maupun layanan,” tambahnya.

Konsumen juga semakin memperhatikan kualitas produk secara relatif. Mereka memilih barang yang memenuhi kebutuhan tanpa mengorbankan kenyamanan. “Solving Problems” ini menuntut pengusaha ritel untuk mengoptimalkan strategi promosi dan pengelolaan stok. Misalnya, barang elektronik atau pakaian sering kali ditawarkan dengan diskon besar, sementara makanan pokok dan produk kebutuhan sehari-hari mendapat perhatian lebih pada harga satuan.

Alphonzus menambahkan bahwa kenaikan pengunjung ke mal di daerah seperti Makassar atau Bali juga menunjukkan pergeseran ini. “Di sana, ada perubahan pola belanja yang lebih berfokus pada nilai ekonomis,” jelasnya. Fenomena ini memberikan peluang bagi ritel lokal untuk meningkatkan daya saing, terutama dengan menyesuaikan tawaran mereka dengan preferensi konsumen.

“Solving Problems” dalam retails adalah kombinasi antara inovasi harga dan kepuasan konsumen. Jika ritel mampu menjawab kebutuhan warga Indonesia untuk belanja lebih hemat tanpa mengorbankan kualitas, maka pertumbuhan industri ini akan lebih optimal,” tutur Alphonzus.

Ketua APPBI juga menyoroti peran globalisasi dalam membentuk pola belanja. Munculnya merek asing dan berbagai bentuk promo menjadikan persaingan semakin ketat. “Solving Problems” dalam persaingan ini memaksa pengusaha lokal untuk lebih kreatif dalam menawarkan berbagai pilihan barang yang sesuai dengan kondisi ekonomi warga Indonesia. “Kami melihat adanya penyesuaian, baik dari sisi harga maupun keragaman produk,” ujarnya.

MORE FROM THIS CATEGORY