Petani Tebu Teriak Desak HPP Naik ke Rp15.500-Curhat Harga Pupuk Mahal

2 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
ketua-umum-aptri-dalam-rakernas-aptri-di-jakarta-senin-2552026-1779704290542_169

Solution For: Petani Tebu Desak HPP Naik ke Rp15.500

Dailynesia.com – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengusulkan peningkatan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula petani hingga Rp15.500 per kg. Mereka menilai harga jual gula saat ini tidak seimbang dengan kenaikan biaya produksi yang terus meningkat. Petani menyebutkan bahwa harga pupuk non-subsidi, terutama akibat konflik di Timur Tengah, telah menyebabkan biaya budidaya tebu melonjak signifikan.

Kenaikan Harga Pupuk dan Dampaknya pada Petani

Konflik global memicu kenaikan harga bahan baku pertanian, khususnya pupuk non-subsidi. Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen, menunjukkan bahwa harga pupuk non-subsidi kini mencapai Rp9.000 per kg, bahkan lebih. Di awal 2025, pupuk ZA Plus non-subsidi hanya Rp4.300 per kg, namun kini melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp8.600 per kg. Solution For petani tebu mengingatkan bahwa kenaikan ini mengancam keberlanjutan usaha pertanian mereka.

“Biaya produksi kita meningkat karena dolarnya naik akibat konflik di Timur Tengah. Akibatnya, harga pupuk sekarang mencapai Rp9.000 per kg, yang sangat berpengaruh pada kesulitan petani,” ujar Soemitro dalam Rakernas APTRI di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Solution For petani tebu juga menyebutkan bahwa bantuan pupuk subsidi hanya diberikan untuk lahan maksimal 2 hektare. Ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar petani. Karena itu, sebagian besar pupuk harus dibeli secara non-subsidi, yang mengakibatkan biaya produksi tetap tinggi. Problem ini memperparah kesulitan petani dalam menghasilkan tebu secara ekonomis.

Permintaan Peningkatan HPP dan Hapus HAP

Soemitro menekankan bahwa HPP gula petani perlu dinaikkan agar sejalan dengan biaya produksi yang naik. Solution For ini mengusulkan HPP minimal mencapai Rp15.000 hingga Rp15.500 per kg. Selain itu, mereka meminta pemerintah menghapus Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Dengan penghapusan HAP, harga gula bisa lebih fleksibel mengikuti dinamika pasar.

“Jika HPP gula petani dinaikkan ke Rp15.500, harga gula di tingkat konsumen bisa lebih stabil. Solution For ini tidak hanya untuk petani, tetapi juga untuk keberlanjutan industri gula secara keseluruhan,” tambah Soemitro.

Kenaikan HPP yang diminta dianggap penting karena harga beras, sebagai bahan baku utama, kini berada di sekitar Rp12.500 per kg. Solution For petani tebu menilai bahwa harga gula minimal harus mencapai Rp18.000 per kg agar seimbang dengan harga beras. Dengan perbandingan ini, keadilan dalam harga gula bisa terjaga, sekaligus menyesuaikan kondisi inflasi yang sedang tinggi.

Menurut Sekretaris Jenderal APTRI, M. Nur Khabsyin, kenaikan harga BBM dan bahan baku lainnya memperparah kesulitan petani. Solution For ini memperingatkan bahwa HPP gula petani sebesar Rp14.500 per kg telah stagnan selama tiga musim giling. Padahal, biaya produksi terus naik, terutama dari kenaikan harga pupuk dan BBM. “Solution For ini diperlukan untuk menjamin ketahanan sektor pertanian,” tambah Nur.

Solution For petani tebu juga menyoroti bahwa harga gula di tingkat konsumen belum meningkat sejalan dengan kenaikan HPP. Padahal, saat ini harga gula di pasaran hanya naik dari Rp17.500 menjadi Rp18.000 per kg. Solution For ini dinilai tidak mencerminkan penyesuaian yang signifikan, sementara harga cabai dan komoditas lain mengalami kenaikan lebih besar. Dengan demikian, petani merasa terkesan tidak adil, karena keuntungan mereka tidak sebanding dengan beban produksi yang semakin berat.

Soemitro menegaskan bahwa kenaikan HPP gula petani harus diiringi dengan kebijakan yang mendukung. Solution For ini berharap pemerintah mampu merespons permintaan petani secara cepat, sehingga mereka tidak terus-menerus dalam keadaan kritis. Dengan penyesuaian harga, petani bisa memperoleh keuntungan yang lebih adil, dan sektor gula bisa bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.

MORE FROM THIS CATEGORY