Penjelasan Seskab Teddy tentang Kenaikan Harga Pertamax
Dailynesia.com – Di Jakarta, Sekretariat Kabinet merilis penjelasan mengenai penyebab kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Non-Subsidi, termasuk Pertamax dan RON 92, yang dikelola Pertamina. Penjelasan ini disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui unggahan Instagram Sekretariat Kabinet, Jumat (12/6/2026).
Kebijakan Harga BBM Non-Subsidi
Teddy menjelaskan bahwa Pertamax termasuk dalam kategori BBM Non-Subsidi, sehingga harganya terikat pada pergerakan harga minyak dunia. “Pertama, Pertamax sebagai BBM Non-Subsidi harus mengikuti harga minyak internasional,” tulisnya dalam pesan.
“Kedua, meskipun harga minyak dunia naik drastis sejak Maret 2026, pemerintah telah membatasi kenaikan harga BBM selama beberapa bulan,”
Pernyataan ini menggarisbawahi upaya pemerintah dalam mengendalikan kenaikan harga bahan bakar. Namun, ia menambahkan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan. Saat ini, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Solar Rp6.800 per liter.
Koreksi Harga Minyak Dunia
Saat ini, harga minyak dunia sedang mengalami penurunan. Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent tercatat di US$89,41 per barel, turun 1,07% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$90,38. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut 1% ke US$86,83 per barel dari US$87,71.
Koreksi ini memperpanjang tren penurunan yang terjadi sejak awal pekan. Data menunjukkan bahwa Brent turun dari US$97,81 pada 3 Juni menjadi US$89,41, atau mengalami penurunan sekitar 8,6%. WTI juga mengalami penurunan signifikan, dari US$96,02 menjadi US$86,83, atau koreksi hampir 9,6%.
Perbandingan Harga BBM Indonesia
Dalam konteks internasional, harga Pertamax dianggap masih relatif lebih terjangkau dibandingkan BBM RON 92/95 di negara-negara lain. Data dari Petrol Price dan Gas Watch menunjukkan perbandingan harga BBM Indonesia dengan beberapa negara: Filipina Rp22.158, Laos Rp31.945, Thailand Rp28.910, Myanmar Rp25.085, serta Singapura Rp42.971. Harga Pertamax di Indonesia sendiri berada di level Rp16.260 per liter.
Dibandingkan dengan 12 Februari lalu, harga Brent turun dari US$69,4 menjadi US$89,41, sementara WTI bergerak dari US$62,8 ke US$86,83. Meski demikian, kenaikan harga Pertamax diakui lebih rendah dibandingkan kenaikan harga minyak global sepanjang periode tersebut.

