Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sederet Upaya RI Bangun “Benteng” Hadapi Krisis Energi

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Anthony Johnson - dailynesia.com

Foto : Anthony Johnson - dailynesia.com

Indonesia Perkuat Ketahanan Energi di Tengah Risiko Gejolak Global

Dailynesia.com – Ketidakpastian harga minyak dan gas dunia kembali menempatkan ketahanan energi sebagai perhatian utama Indonesia. Pemerintah menyiapkan sejumlah lapisan perlindungan, mulai dari subsidi energi, kewajiban pasokan domestik batu bara, penguatan sumber energi dalam negeri, hingga perluasan asal impor minyak mentah.

Berbagai instrumen tersebut dirancang agar perubahan harga komoditas energi internasional tidak serta-merta membebani masyarakat. Meski demikian, perlindungan ini bukan berarti Indonesia sepenuhnya bebas dari risiko krisis energi. Ketergantungan terhadap perdagangan global, kebutuhan impor tertentu, serta pergerakan harga minyak tetap menjadi faktor yang perlu dikelola secara hati-hati.

Posisi Indonesia dalam guncangan energi global

Dalam kajian Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia ditempatkan di antara negara yang relatif lebih terlindungi dari lonjakan harga minyak dan gas internasional. Pada indikator total protection factor, Indonesia menempati posisi kedua, berada tepat setelah Afrika Selatan.

Posisi tersebut mencerminkan adanya kombinasi kebijakan dan sumber daya yang dapat meredam tekanan dari luar negeri. Salah satu faktor pentingnya adalah kemampuan pemerintah melakukan intervensi melalui subsidi bahan bakar minyak dan listrik. Kebijakan Domestic Market Obligation atau DMO batu bara juga berperan menjaga kebutuhan domestik agar tidak seluruhnya mengikuti dinamika pasar ekspor.

Dengan adanya mekanisme itu, kenaikan harga energi global dapat ditahan sebagian sebelum sampai ke konsumen. Dampaknya penting bagi rumah tangga, pelaku usaha kecil, sektor transportasi, dan kegiatan produksi yang sangat dipengaruhi harga bahan bakar serta listrik.

Batu bara masih menjadi penopang utama

Ketersediaan sumber energi domestik menjadi salah satu bantalan terbesar bagi Indonesia. Dalam bauran energi primer, batu bara masih memiliki porsi paling besar, yakni 40,37%. Setelah itu terdapat minyak bumi dengan kontribusi 28,82%, gas alam 16,17%, serta energi baru terbarukan atau EBT sebesar 14,65%.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa batu bara masih menjadi fondasi penting bagi sistem energi nasional, terutama dalam mendukung penyediaan listrik. DMO batu bara menjadi instrumen yang relevan karena memastikan sebagian produksi tersedia untuk kebutuhan di dalam negeri, bukan sepenuhnya disalurkan ke pasar luar negeri.

Di sisi lain, porsi minyak bumi yang besar dalam bauran energi juga menjelaskan mengapa harga minyak global tetap memiliki pengaruh kuat bagi Indonesia. Karena itu, pengelolaan subsidi dan strategi pengadaan minyak menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga energi domestik.

APBN digunakan sebagai peredam harga

Pemerintah memilih tidak langsung menyesuaikan harga BBM bersubsidi ketika harga minyak mentah dunia meningkat. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN digunakan sebagai shock absorber, sehingga lonjakan harga global tidak langsung dialihkan kepada pengguna bahan bakar di dalam negeri.

Hingga saat ini, harga BBM bersubsidi, termasuk Pertalite dan solar, belum dinaikkan. Pendekatan tersebut membantu menjaga daya beli masyarakat dan menahan kenaikan biaya distribusi barang. Sebab, perubahan harga solar dan bensin dapat memengaruhi biaya transportasi, logistik, serta harga kebutuhan sehari-hari.

Namun, penggunaan APBN sebagai penyangga juga menuntut pengelolaan fiskal yang cermat. Ketika harga energi dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi dapat ikut meningkat. Karena itu, kebijakan harga, pasokan, dan penghematan energi perlu berjalan secara beriringan.

Pertamina memperluas asal pasokan minyak

Upaya memperkecil kerentanan terhadap gangguan pasokan juga dilakukan melalui diversifikasi impor minyak mentah oleh Pertamina. Pasokan tidak hanya diupayakan dari kawasan Timur Tengah, tetapi juga dari Amerika Serikat serta wilayah lain.

Strategi ini memberi ruang yang lebih besar untuk menyesuaikan pengadaan ketika terjadi gangguan geopolitik, perubahan rute perdagangan, atau fluktuasi harga di satu kawasan. Memiliki pilihan pemasok yang lebih luas dapat membantu menjaga kesinambungan bahan baku bagi pengolahan minyak di dalam negeri.

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, sebelumnya menyampaikan adanya komitmen pasokan minyak mentah Rusia dalam jumlah besar. Indonesia disebut memperoleh komitmen 150 juta barel minyak mentah yang dapat disimpan di dalam negeri dengan harga khusus.

Komitmen itu merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin, 13 April 2026.

“Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” ucap Hashim saat memberikan acara Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta beberapa waktu lalu.

Ketersediaan cadangan dan fleksibilitas pasokan menjadi penting ketika pasar energi bergerak cepat. Penyimpanan minyak dalam negeri dapat memberi tambahan ruang bagi pemerintah dan pelaku usaha energi untuk menghadapi perubahan kondisi pasar.

Biodiesel sawit mengurangi kebutuhan diesel impor

Selain memperkuat pasokan minyak mentah, pemerintah mempercepat penggunaan bahan bakar dari sumber daya domestik. Salah satu kebijakan utamanya adalah program B40, yaitu pencampuran biodiesel berbahan minyak sawit ke dalam solar.

Program ini memungkinkan sebagian kebutuhan solar dipenuhi dengan bahan baku yang tersedia di dalam negeri. Dengan demikian, kebutuhan terhadap diesel impor dapat ditekan, sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor energi dan sumber daya nasional.

PT Pertamina Patra Niaga menargetkan solar dengan kandungan biodiesel minyak sawit 50%, atau B50, tersedia di seluruh SPBU pada September 2026. Implementasi B50 telah dimulai pada 1 Juli 2026, dan saat ini 82% SPBU Pertamina telah menyalurkan produk tersebut.

Perluasan B50 menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas: menjaga harga tetap terkendali, memastikan pasokan tersedia, dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi dari luar negeri. Ketahanan energi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh satu kebijakan, melainkan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara sumber daya domestik, kebutuhan impor, anggaran negara, dan akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Sederet Upaya RI Bangun Benteng Hadapi?

Sederet Upaya RI Bangun Benteng Hadapi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sederet Upaya RI Bangun Benteng Hadapi matter?

Sederet Upaya RI Bangun Benteng Hadapi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.