Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Profesor Termuda Ditemukan Tewas Usai Tersangkut Kasus Plagiat

Published August 16, 2026 · Updated August 16, 2026 · By Linda Miller - dailynesia.com

Foto : Linda Miller - dailynesia.com

Kematian Jason Arday: Profesor Termuda Inggris Tewas di Tengah Kontroversi Plagiarisme

Dailynesia.com – Dunia akademik Inggris sedang berduka atas kepergian Jason Arday, seorang sosiolog asal Inggris yang ditemukan meninggal dunia pada hari Jumat, 14 Agustus 2026. Kematian ini terjadi tak lama setelah ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi profesor di Universitas Cambridge. Keputusan tersebut diambil di tengah berbagai tuduhan plagiarisme serta sorotan tajam dari media massa.

Arday sebelumnya mencatatkan diri dalam sejarah sebagai profesor kulit hitam termuda di Universitas Cambridge pada tahun 2023, saat ia berusia 37 tahun. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, namanya menjadi pusat perhatian karena berbagai pertanyaan mengenai integritas akademiknya. Tuduhan plagiarisme menimpa karya-karyanya, sementara klaim prestasi atletik serta penggalangan dana yang pernah ia sampaikan juga mulai dipertanyakan.

Penemuan Jenazah dan Publikasi Memoar

Menurut laporan media Inggris, jenazah Arday ditemukan dalam keadaan tidak responsif di sebuah rumah tinggal di kawasan Battersea, London selatan, pada hari Jumat sore. Kabar duka ini muncul pada pekan yang sama dengan peluncuran buku memoarnya yang berjudul "Great and Unfortunate Things". Penerbit Simon & Schuster tetap menerbitkan karya tersebut meskipun muncul keraguan publik terhadap kredibilitas penulisnya.

Keluarga Arday menyampaikan pernyataan resmi melalui penerbit buku tersebut. Mereka mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kehilangan sosok yang mereka cintai.

"Kami sangat terkejut kehilangan ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa ini," kata pihak keluarga, dikutip dari APNews pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Mereka juga menilai bahwa tekanan dari publik telah melampaui batas kemampuan Jason. Disinformasi yang beredar dinilai terlalu berat bagi seorang pria yang dikenal lembut dan selalu berusaha melihat sisi baik dari setiap orang. Selama tiga tahun terakhir, Arday menjadi sasaran pelecehan berkelanjutan dari berbagai pihak yang ingin meruntuhkan reputasinya.

Respons Kepolisian dan Universitas

Kepolisian Metropolitan London mengonfirmasi bahwa seorang pria berusia 41 tahun dinyatakan meninggal di Battersea. Namun, pihak kepolisian belum menyebut identitas korban secara eksplisit. Mereka menyatakan bahwa kematian ini diperlakukan sebagai kejadian tidak terduga, namun tidak mencurigakan.

Deborah Prentice, Wakil Rektor Universitas Cambridge, menyampaikan rasa berduka yang mendalam. Sebelumnya, ia telah mengumumkan bahwa universitas akan melakukan penyelidikan terhadap proses perekrutan Arday.

"Simpati terdalam kami sampaikan kepada keluarga dan teman-teman Jason Arday pada masa yang sangat sulit ini," ujar Prentice.

Pengunduran Diri dan Bantahan Tuduhan

Dalam surat pengunduran dirinya sebagai profesor sosiologi pendidikan, Arday menjelaskan bahwa tekanan terus-menerus telah berdampak signifikan terhadap dirinya dan orang-orang terdekatnya. Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk mundur tidak boleh diartikan sebagai pengakuan atas narasi negatif yang berkembang.

"Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tak henti-hentinya telah memberikan dampak yang sangat mendalam bagi saya dan orang-orang yang saya cintai," tulisnya.

Arday membantah keras tuduhan plagiarisme, meskipun ia mengakui adanya beberapa kesalahan dalam proses penyusunan disertasinya. Sejumlah pendukung, termasuk puluhan akademisi dan politisi, menyebut tuduhan tersebut sebagai kampanye fitnah yang bertujuan merusak reputasi Arday serta akademisi kulit hitam lainnya yang memegang posisi berpengaruh.

Latar Belakang dan Awal Kontroversi

Karier Arday di Cambridge dikenal karena kisah hidupnya yang inspiratif. Ia mengaku hidup dengan disleksia, keterlambatan perkembangan, dan autisme. Kondisi ini membuatnya tidak dapat berbicara hingga usia 11 tahun dan baru bisa membaca pada akhir masa remajanya.

Kontroversi mulai mencuat setelah Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat Cambridge, mempertanyakan kualifikasi Arday secara terbuka. Pada 24 Juli, The Times of London menerbitkan analisis terhadap disertasi doktoral Arday tahun 2015. Analisis tersebut menyebut terdapat sejumlah bagian yang identik atau hampir identik dengan karya peneliti lain.

Media Inggris juga mempertanyakan klaim Arday mengenai penggalangan dana amal sebesar 5,5 juta pound sterling. Klaim tersebut berasal dari tantangan seperti berlari 30 maraton dalam 35 hari dan menempuh jarak 600 mil dalam enam hari.

Puluhan akademisi Cambridge kemudian menandatangani surat yang meminta penyelidikan independen terhadap proses pengangkatan Arday sebagai profesor. Awalnya, Cambridge membela Arday dengan menyatakan bahwa tuduhan plagiarisme telah diselidiki oleh Liverpool John Moores University, kampus yang memberikan gelar doktor kepadanya. Namun, universitas kemudian mengubah sikapnya dan membuka penyelidikan baru setelah muncul informasi tambahan mengenai kualifikasi dan jabatan kehormatan Arday.

Prentice menegaskan bahwa Cambridge juga akan meninjau kembali proses perekrutan staf akademiknya secara menyeluruh. Kasus Arday menjadi perhatian serius bagi institusi pendidikan tinggi di Inggris.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Profesor Termuda Ditemukan Tewas Usai Tersangkut?

Profesor Termuda Ditemukan Tewas Usai Tersangkut is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Profesor Termuda Ditemukan Tewas Usai Tersangkut matter?

Profesor Termuda Ditemukan Tewas Usai Tersangkut matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.