Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Presiden Ini Memerintah Sejak 1984, Mendadak “Hilang” Tak Berjejak

Published August 16, 2026 · Updated August 16, 2026 · By Linda Miller - dailynesia.com

Foto : Linda Miller - dailynesia.com

Biya, Pemimpin Kamerun yang Sudah Dua Bulan Tak Terlihat

Dailynesia.com – Jakarta — Paul Biya, presiden Kamerun yang telah memimpin negara tersebut sejak 1984, kini berusia 93 tahun dan masih menduduki jabatan kepala negara. Namun, kehadiran Biya selama dua bulan terakhir telah menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat Kamerun. Menurut laporan CNN, Biya meninggalkan Kamerun pada 7 Juni 2026 untuk menjalani apa yang disebut kantornya sebagai "kunjungan pribadi singkat ke Eropa". Hingga saat ini, ia belum kembali ke tanah airnya.

Ketidakhadiran Biya merupakan yang terlama tanpa jeda dari negara Afrika Tengah tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Pekan lalu, juru bicara pemerintah René Emmanuel Sadi menyampaikan kepada radio Prancis RFI bahwa Biya berada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Meskipun demikian, ia tidak memberikan penjelasan rinci mengenai lokasi maupun aktivitas sang presiden.

Situasi yang Memunculkan Pertanyaan

Situasi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kesehatan Biya dan siapa yang sebenarnya menjalankan pemerintahan selama ia berada di luar negeri. Biya merupakan presiden kedua Kamerun sejak negara itu merdeka pada 1960 dan menjadi salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Ia pertama kali berkuasa pada 1982 setelah mengambil alih kepemimpinan ketika presiden saat itu mengundurkan diri.

Dua tahun kemudian, ia memenangkan pemilihan presiden pertamanya dalam sistem satu partai. Sejak sistem multipartai diberlakukan, Biya kembali memenangkan enam pemilu berikutnya. Tahun lalu, ia memenangkan masa jabatan kedelapan yang diperselisihkan lawan-lawan politiknya. Kemenangan itu berpotensi membuatnya tetap berkuasa hingga mendekati usia 100 tahun.

"Yang terbaik masih akan datang," kata Biya sebelum pemilu, yang oleh para penentangnya disebut penuh kecurangan dan diwarnai bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat kepolisian.

Rumor Kesehatan dan Keadaan Biya

Presiden yang jarang muncul di publik ini bukan kali pertama menjadi bahan spekulasi. Rumor mengenai kesehatan dan keberadaan Biya bukanlah hal baru di Kamerun. Ia dikenal sangat jarang tampil di depan publik, sehingga spekulasi tentang kondisinya kerap beredar. Pemerintah beberapa kali membantah kabar bahwa Biya sakit parah atau telah meninggal dunia. Pada 2024, pemerintah bahkan melarang media membahas kesehatan presiden dengan alasan keamanan nasional.

Bagi jutaan warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal. Abit Riassai Acha, mahasiswa doktoral berusia 26 tahun di Universitas Yaoundé II, mengatakan generasinya tumbuh tanpa pernah mengenal presiden lain.

"Sejak kecil, Presiden Biya adalah satu-satunya presiden yang saya kenal, sehingga kepemimpinannya menjadi bagian dari seluruh pengalaman saya tentang Kamerun," katanya, dikutip dari CNN, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Acha, warga memang mulai terbiasa dengan absennya Biya dalam jangka waktu lama, tetapi hal itu tidak berarti mereka harus berhenti mempertanyakan bagaimana negara dijalankan.

"Karena ini sudah berulang kali terjadi selama bertahun-tahun, banyak warga Kamerun menjadi terbiasa. Tetapi terbiasa terhadap sesuatu tidak berarti orang harus berhenti bertanya bagaimana negara ini diperintah," ujarnya.

Keputusan Tetap Diambil dari Luar Negeri

Meski berada di luar negeri, Biya masih terus mengambil sejumlah keputusan penting. Awal bulan ini, pemerintah mengumumkan perombakan besar di tubuh militer yang disetujui presiden. Sadi menepis kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan. Ia menegaskan kepada RFI bahwa "Presiden Paul Biya masih hidup" dan "akan segera kembali".

Namun, seruan untuk mempertanyakan status kepresidenan Biya mulai bermunculan. Samuel Hiram Iyodi, kandidat oposisi muda yang maju dalam pemilu tahun lalu, meminta parlemen mengajukan permohonan kepada Dewan Konstitusi untuk menilai apakah absennya Biya dapat dianggap sebagai kekosongan jabatan presiden. Meski demikian, langkah tersebut dinilai sulit berhasil karena dominasi partai berkuasa Cameroon People's Democratic Movement.

Analis politik Collins Molua Ikome, warga Kamerun yang kini tinggal di Jerman, mengatakan ia menyaksikan langsung berbagai persoalan negara itu saat berkunjung pada April lalu.

"Jalan-jalan di Kamerun sangat buruk. Saya bahkan menyaksikan kecelakaan yang menewaskan seseorang," katanya kepada CNN.

Ikome juga menyoroti pemadaman listrik yang sering terjadi, korupsi, dan minimnya lapangan kerja bagi generasi muda. Profesor hukum publik dan internasional dari Universitas Dschang, Wilson Tamfuh, mengatakan institusi negara sebenarnya tetap dapat menjalankan pemerintahan ketika presiden mendelegasikan kewenangan kepada perdana menteri, sekretaris jenderal kepresidenan, atau pejabat lainnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Presiden Ini Memerintah Sejak 1984 Mendadak?

Presiden Ini Memerintah Sejak 1984 Mendadak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Presiden Ini Memerintah Sejak 1984 Mendadak matter?

Presiden Ini Memerintah Sejak 1984 Mendadak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.