New Policy: Rupiah Tertekan, Harga Baju-Sepatu Naik Mulai Juli
Dailynesia.com – Dengan adanya New Policy, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi isu utama yang menimbulkan kekhawatiran di sektor ritel. Para pengusaha menyebutkan bahwa kenaikan harga produk seperti baju dan sepatu akan terjadi secara signifikan mulai Juli mendatang. Ini terjadi karena stok barang lama yang tersisa di toko mulai habis dan harus diganti dengan barang baru yang harganya lebih tinggi akibat tekanan kurs.
Ketua Hippindo: Kenaikan Harga Bisa Terjadi Lebih Cepat
Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), mengungkapkan bahwa sebagian peritel saat ini masih mampu menahan kenaikan harga karena menyimpan stok barang yang masuk sebelum New Policy diterapkan. Namun, situasi ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Menurut Budihardjo, peritel akan kesulitan jika nilai rupiah tidak segera stabil.
“Dengan New Policy ini, kita khawatir jatuh tempo pembayaran akan berdampak besar. Jika rupiah tidak segera diturunkan, kenaikan harga akan terjadi lebih cepat lagi,”
Peritel Hadapi Tantangan Ekonomi
Kenaikan harga tidak bisa dihindari ketika stok barang lama habis dan pengusaha wajib membeli produk baru dengan biaya yang lebih mahal. Budihardjo menjelaskan bahwa dampak ini terutama dirasakan pada produk lifestyle, seperti pakaian dan alas kaki. Ia menambahkan, pelemahan rupiah berdampak langsung pada profit margin peritel, sehingga mereka harus mengambil langkah cepat untuk menyesuaikan harga.
“New Policy ini memberi tekanan ekonomi yang signifikan. Ketika jatuh tempo pembayaran, stok barang sudah habis, dan kita harus mengimbangi dengan biaya yang naik. Itu adalah hitungan ekonomi yang tidak bisa dielakkan,”
Menurut Budihardjo, tekanan New Policy tidak hanya berasal dari kurs rupiah. Peritel juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan barang impor, karena penghambatan masuknya produk asing ke dalam negeri. Hal ini membuat ketersediaan barang di toko terbatas, dan mendorong peritel untuk fokus pada produk lokal.
Solusi dari Pemerintah
Untuk mengatasi masalah ini, Hippindo berupaya berkoordinasi dengan pemerintah agar pelaku usaha ritel yang memiliki toko dan merek di pusat perbelanjaan dapat lebih fleksibel dalam mengimpor barang. Budihardjo menyatakan bahwa New Policy ini menjadi momentum untuk mengoptimalkan kebijakan impor dan menjaga ketersediaan stok.
“Dengan New Policy ini, kita harapkan pemerintah memberikan keleluasaan untuk mengimpor barang. Ini bisa mempercepat penyesuaian harga dan meminimalkan dampak pada masyarakat,”
Peritel juga memperkirakan bahwa kenaikan harga barang akan berdampak pada daya beli konsumen. Budihardjo memprediksi bahwa para pengusaha akan mulai mengurangi biaya operasional dan menyesuaikan harga jual untuk menjaga keuntungan. Meski begitu, ia menekankan bahwa New Policy ini perlu disertai dengan stimulus ekonomi yang tepat agar perekonomian tetap seimbang.
Kebijakan New Policy yang diterapkan pemerintah seharusnya menjadi penggerak untuk stabilisasi ekonomi. Budihardjo mengingatkan bahwa selama kenaikan harga berlangsung, masyarakat akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menyarankan pemerintah segera mengambil langkah konkret, seperti memberikan insentif pajak atau mengatur kembali kebijakan impor, untuk mencegah dampak negatif yang lebih besar.

