New Policy: Indonesia Masuki Era Logam Tanah Jarang, Ini Daftar Negara Pemilik Teknologi
Dailynesia.com – Dalam New Policy terbaru, Indonesia berupaya untuk meningkatkan penguasaan teknologi logam tanah jarang (LTJ) yang menjadi komoditas strategis. Dalam webinar yang diadakan Institut Pertambangan Indonesia (IMI), kesulitan dalam menguasai teknologi pemurnian dan pemisahan LTJ dijelaskan oleh Irwandy Arif, ketua IMI, sebagai tantangan utama. Meski pemerintah mulai menggarap sektor ini, posisi Indonesia hingga kini masih kalah jauh dari beberapa negara yang sudah membangun infrastruktur pemrosesan skala besar.
“Indonesia belum memiliki pengalaman signifikan dalam teknologi ini, Pak. Kita masih berada di tahap eksplorasi awal,”
ujar Irwandy dalam acara webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).
Kesulitan Teknologi Hilirisasi Jadi Tantangan Utama
China tetap menjadi pemimpin dalam pengembangan teknologi LTJ, dengan dominasi hampir 91% dari proses pemurnian dan pemisahan global. Perusahaan seperti Shenghe Resources Group serta China Northern Rare Earth menjadi pelaku utama. Tiongkok tidak hanya menguasai penambangan, tetapi juga mengendalikan rantai pasok dan produksi skala industri.
“Pengelolaan LTJ di Tiongkok sangat matang, Pak. Dari penambangan hingga pemasaran, mereka mampu mengontrol seluruh tahapan,”
tambah Irwandy. Negara ini menghasilkan 68% hingga 70% dari total produksi tambang LTJ dunia, menurut laporan terkini.
Sementara itu, India juga memiliki kemajuan dalam teknologi hilirisasi, dengan fasilitas pengolahan yang dikelola Indian Rare Earths. Metode caustic cracking yang digunakan di negara ini menawarkan alternatif dalam pengolahan LTJ. Di Asia Tenggara, Malaysia menjadi pelaku utama melalui pabrik Lynas Corporation yang dimiliki perusahaan asal Australia.
“Lynas Corporation memegang peranan penting dalam pengembangan teknologi di kawasan ini. Namun, kerja sama dengan sektor tambang Timah belum berhasil mencapai titik optimal,”
jelas Irwandy. Lokasi pabrik tersebut di Pahang menjadi salah satu titik strategis dalam perluasan keahlian teknis.
Peran Negara-Negara Pemilik Teknologi Hilirisasi
Kanada dan Australia juga sedang membangun kapasitas teknologi LTJ melalui perusahaan-perusahaan seperti Medallion Resources dan Hastings Technology Metals. Kanada memulai tahap pra-komersial, sementara Australia dalam proses konstruksi pabrik.
“New Policy telah memberikan dorongan bagi pengembangan teknologi ini, Pak. Kita perlu bergerak cepat untuk tidak tertinggal,”
tegas Irwandy. Dalam konteks ini, Indonesia baru berada di tingkat eksperimen laboratorium dan pilot plant kecil, seperti di Bangka, yang menunjukkan awal dari upaya besar.
Pemerintah Indonesia, melalui BIM dan PT Perminas, sedang mempercepat riset teknologi hilirisasi LTJ sebagai bagian dari New Policy. Perusahaan-perusahaan nasional seperti PT Timah dan PT Vale juga terlibat dalam mengembangkan kapasitas ini.
“Tantangan utamanya adalah keterbatasan infrastruktur pemrosesan. Namun, New Policy memberikan jaminan untuk mendukung peningkatan teknologi,”
ujar Irwandy. Penelitian yang sedang berlangsung berpotensi mengubah pola ekspor dan ekonomi tambang nasional.
Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada impor teknologi, pemerintah mengalokasikan dana khusus dan menetapkan kerja sama internasional. Negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa juga memperlihatkan minat dalam kolaborasi teknologi dengan Indonesia.
“New Policy memperkuat komitmen untuk membangun ekosistem hilirisasi. Ini bukan hanya tentang penambangan, tetapi juga tentang transformasi industri,”
lanjut Irwandy. Keterlibatan lembaga internasional diharapkan bisa memberikan pengetahuan dan pengalaman yang berharga.
Pengembangan teknologi LTJ berdampak signifikan pada sektor energi, teknologi, dan manufaktur. Dengan New Policy, Indonesia berharap dapat mengisi kekosongan teknologi hilirisasi dan memperkuat kemandirian industri.
“Jika teknologi ini dikuasai, nilai tambah ekonomi mineral akan meningkat drastis. New Policy menjadi kunci untuk mengubah paradigma,”
ujar Irwandy. Ini merupakan langkah penting dalam persaingan global dan keberlanjutan ekonomi.

