RI Belum Punya, Ini Daftar Negara Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
c604a460-3fb7-4b48-9bf6-283decd0ac25-0

New Policy: Indonesia Belum Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

Indonesia Masih dalam Tahap Awal Penguasaan Teknologi

Dailynesia.com – Menjadi fokus utama pemerintah Indonesia dalam upaya memperkuat sektor logam tanah jarang (LTJ). Menurut Indonesian Mining Institute (IMI), negara ini masih menghadapi tantangan besar dalam menguasai teknologi pemurnian LTJ. Meskipun pemerintah mulai mengambil langkah untuk mengembangkan sektor ini, pengolahan LTJ di dalam negeri belum mencapai tingkat industri yang matang. Chairman IMI, Irwandy Arif, menekankan bahwa industri LTJ Indonesia masih berada di tahap awal. “Jadi kalau kita bicara logam tanah jarang di Indonesia ini sebenarnya belum ada yang pengalaman, Pak. Jadi kita masih pada tahap awal,” ujarnya dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, yang dikutip Senin (18/5/2026).

China Dominasi Teknologi Pemrosesan Global

Kontribusi dominan China dalam industri LTJ sangat signifikan. Negara tersebut tidak hanya memimpin dalam penambangan, tetapi juga menguasai hampir seluruh proses pemisahan dan pemurnian global. Perusahaan seperti Shenghe Resources Holding Co dan China Northern Rare Earth menjadi tulang punggung dalam mengontrol teknologi ini. “68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang dunia dari Tiongkok. Lebih 90% persisnya kurang lebih 91% itu proses pemurnian dan pemisahan global dikuasai oleh mereka juga,” tambah Irwandy. New Policy diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, termasuk dari Tiongkok, dengan mempercepat pengembangan inovasi lokal.

India dan Malaysia Jadi Pemain Utama

India juga sudah memiliki fasilitas pengolahan LTJ melalui Indian Rare Earths, yang menggunakan metode caustic cracking. Di wilayah Asia Tenggara, Malaysia menjadi salah satu negara yang lebih dulu mengembangkan teknologi ini. Pabrik milik Lynas Rare Earths (sebelumnya Lynas Corporation) di Pahang, Malaysia, berperan sebagai pusat pengolahan global. “Lynas Corporation yang dari Australia yang punya pabrik di Malaysia, ini salah satu yang pernah dirintis diupayakan untuk kerja sama dengan Timah tapi kemudian belum berhasil,” papar Irwandy. New Policy di Indonesia bisa menjadi peluang untuk mengadopsi model kerja sama seperti yang dilakukan oleh Malaysia.

New Policy dan Strategi Masa Depan

Adopsi New Policy di sektor logam tanah jarang menjadi langkah strategis untuk mempercepat penguasaan teknologi hilirisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menyoroti pentingnya LTJ sebagai komponen kunci dalam industri teknologi global, seperti elektronik, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. New Policy ini dirancang untuk mendorong kolaborasi antar institusi, mendorong inovasi, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Dengan New Policy, kita bisa mengubah paradigma pengolahan logam tanah jarang dari penggunaan teknologi luar negeri menjadi inovasi lokal yang mampu bersaing,” kata Irwandy. Langkah ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan nilai ekonomi dari sumber daya alam Indonesia.

Penugasan dari Presiden untuk Percepatan Penguasaan Teknologi

Indonesia saat ini hanya memiliki beberapa rintisan pengolahan dalam skala laboratorium dan pilot plant kecil, seperti di Tanjung Ular, Bangka. “Sampai dengan saat ini Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan atau pemrosesan logam tanah jarang yang mencapai skala ekonomi,” lanjut Irwandy. Pemerintah, melalui BIM dan PT Perminas, sedang diberi instruksi oleh Presiden untuk mempercepat riset dalam penguasaan teknologi. New Policy diharapkan bisa mempercepat lahirnya teknologi hilirisasi yang memadai, sehingga Indonesia bisa berkiprah dalam industri global. Selain tantangan, ada peluang strategis karena BIM sedang melakukan penelitian untuk menguasai teknologi pemrosesan LTJ.

Klasifikasi Logam Tanah Jarang dan Persaingan Global

Irwandy Arif menjelaskan bahwa LTJ terdiri dari 17 unsur kimia, termasuk skandium, yttrium, dan lantanum, yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Unsur-unsur ini dibagi menjadi dua kategori utama: logam tanah jarang ringan dan berat. “Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan,” terangnya. Dengan New Policy, Indonesia berharap bisa mengembangkan teknologi pemilahan yang efisien untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin tinggi.

Peran Teknologi Harta Karun Langka dalam Ekonomi Global

Logam tanah jarang yang terkait dengan New Policy menjadi aset penting dalam perekonomian modern. Teknologi pemurnian dan pemanfaatan LTJ tidak hanya mempengaruhi keberlanjutan industri, tetapi juga memainkan peran krusial dalam pengembangan teknologi hijau dan energi terbarukan. Sejumlah negara, seperti Jepang dan Eropa, mengandalkan pasokan LTJ dari Indonesia sebagai bagian dari rantai pasok global. New Policy bertujuan untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan baku, tetapi juga penghasil teknologi yang mandiri. “Kita perlu mengembangkan ekosistem teknologi yang lengkap, mulai dari penambangan hingga hilirisasi,” ujarnya. Langkah ini akan membuka peluang ekspor yang lebih bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada negara lain.

MORE FROM THIS CATEGORY