New Policy: Fenomena Aneh di Tiongkok: Pedagang Menjerit, Industri Cuan Tumbuh
Dailynesia.com – Ekonomi Tiongkok kini menghadapi dinamika yang mengejutkan, di mana New Policy yang baru diterapkan memicu ketimpangan antara sektor ritel dan industri manufaktur. Menurut laporan Reuters, penjualan ritel mengalami penurunan 0,6% pada Mei, menandai penurunan bulanan pertama sejak Desember 2022. Angka ini membalikkan kenaikan 0,2% di bulan sebelumnya dan bahkan di bawah perkiraan 0,0%. Sementara itu, industri manufaktur—terutama teknologi tinggi—masih tumbuh pesat, dengan kenaikan 15,1% pada Mei. Output industri juga melonjak 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih tinggi dari kenaikan 4,1% di April.
Ketenangan Pasar Mobil dan Dampak New Policy
Kondisi ini mencerminkan ketimpangan yang terjadi akibat New Policy yang sedang dijalankan. Peluncuran penjualan mobil domestik terus merosot selama delapan bulan berturut-turut di Mei, menunjukkan ketidakstabilan permintaan dalam pasar kendaraan terbesar dunia. Meski libur Hari Buruh lima hari di Mei tak cukup menjadi pemicu pertumbuhan, New Policy diharapkan mampu mengubah pola konsumsi. Namun, dampak program tukar tambah barang konsumen mulai menghilang, dan basis perbandingan yang tinggi pada tahun sebelumnya berkontribusi pada penurunan ini.
“Konsumen sekarang tidak seimpulsif dulu,” ujar Feng Jie’ao, manajer sebuah bar di distrik keuangan Shanghai.
Kesenjangan Antara Konsumsi dan Produksi
Pertumbuhan permintaan di sektor layanan mencapai 5,4% pada Januari–Mei, yang lebih baik daripada penjualan barang. Namun, peningkatan ini melambat dari 5,6% pada empat bulan sebelumnya. Xu Tianchen dari Economist Intelligence Unit menyatakan bahwa New Policy menciptakan kesenjangan dalam perekonomian Tiongkok, terutama antara konsumsi domestik dan ekspor, industri AI dengan industri tradisional, serta ritel barang dan layanan.
“Beberapa kesenjangan mencirikan perekonomian pada bulan Mei: kesenjangan antara permintaan domestik dan eksternal, kesenjangan antara industri AI dan industri tradisional, serta kesenjangan antara ritel barang dan konsumsi jasa,” kata Xu Tianchen.
Langkah New Policy untuk Stabilkan Ekonomi
Zhiwei Zhang, ekonom utama di Pinpoint Asset Management, mengingatkan bahwa data penjualan ritel yang lemah memberikan tekanan pada pemerintah untuk mengambil langkah New Policy yang bisa stabilkan konsumsi. Ia memperkirakan kebijakan penyesuaian akan diluncurkan pada Juli setelah data PDB kuartal kedua dirilis. Investasi aset tetap juga menunjukkan penurunan 4,1% dalam lima bulan terakhir, menambah tekanan pada perekonomian.
“New Policy ini berharap mampu mengimbangi permintaan yang melemah dan mendorong pertumbuhan yang lebih seimbang,” jelas Zhiwei Zhang.
Ketenjangan Ekspor dan Pertumbuhan Eksternal
Sektor pabrik Tiongkok tetap mengalami dorongan, terutama dari ekspor yang tumbuh lebih kuat dari yang diperkirakan. Namun, permintaan pasar properti yang stagnan selama bertahun-tahun berkontribusi pada melemahnya konsumsi. Fenomena ini menggambarkan pertumbuhan dua kecepatan—yang menimbulkan tantangan bagi New Policy pemerintah.
“New Policy mengakui bahwa pertumbuhan ekspor tetap menjadi pendorong utama, meski permintaan dalam negeri belum pulih sepenuhnya,” tambah Xu Tianchen.
Kebijakan Ekonomi Global dan Dampak New Policy
Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi tantangan dari lingkungan ekonomi global yang tidak stabil. Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua diperkirakan melambat menjadi 4,5% dari 5% di kuartal pertama. Meski target pertumbuhan tahunan 2026 masih bisa dicapai, intervensi New Policy tetap dibutuhkan di paruh kedua tahun ini. Selain itu, eksplorasi teknologi dan investasi global dalam AI membantu industri manufaktur mengimbangi potensi tekanan dari perang Iran yang sempat mengkhawatirkan.
Analisis menunjukkan bahwa New Policy membutuhkan perbaikan terus-menerus untuk mengatasi ketimpangan yang muncul. Pemerintah sedang berusaha mengarahkan sumber daya ke sektor-sektor yang lebih berpotensi, sementara sektor ritel masih mengalami tekanan. Dengan upaya ini, harapan ada pada New Policy yang diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara konsumsi dan produksi.

