Maskapai Penerbangan Ini Ungkap Skenario ‘Kiamat’, Beri Warning

3 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
94037cbc-d482-4765-8630-f9dd949dc8b7-0

Maskapai Penerbangan Ini Beri Peringatan Soal Skenario ‘Kiamat’ dalam New Policy

Dailynesia.com – Dalam rangka menghadapi krisis bahan bakar yang semakin menghawatirkan, new policy terbaru dari Ryanair, maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Irlandia, telah memicu peringatan serius terkait kemungkinan situasi apokaliptik. Hal ini diungkapkan oleh Neil Sorahan, kepala keuangan perusahaan, dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia yang dilansir Senin (18/5/2026). Sorahan menegaskan bahwa perusahaan ini telah mengambil langkah proaktif untuk memastikan kelangsungan operasional meski menghadapi tekanan harga bahan bakar yang membelakangi.

Strategi New Policy untuk Menghadapi Krisis Bahan Bakar

“Kami memiliki new policy yang sangat ketat untuk menjaga stabilitas biaya operasional, terutama di tengah ketidakpastian pasokan minyak,” jelas Sorahan. “Meski tidak melihat skenario kiamat akan terjadi, kami tetap bersiap dengan berbagai kemungkinan, termasuk risiko perusahaan lain yang lebih rentan mengalami kebangkrutan.”

Langkah-langkah ini termasuk pengaturan harga bahan bakar musim panas dengan biaya sekitar US$668 per metrik ton, yang telah dilakukan Ryanair sejak awal tahun. Sorahan menjelaskan bahwa perusahaan memantau secara ketat pergerakan harga minyak, terutama karena konflik di Timur Tengah dan penghalang Selat Hormuz berdampak langsung pada ketersediaan bahan bakar jet. Meskipun demikian, new policy yang diterapkan menjamin bahwa Ryanair tidak akan membatalkan jadwal penerbangan, sekaligus mempertahankan pangkalan pelanggan yang sudah dibangun.

Krisis Bahan Bakar dan Dampak pada Industri Penerbangan

CEO Ryanair, Michael O’Leary, sebelumnya memprediksi bahwa sejumlah maskapai penerbangan di Eropa mungkin akan bangkrut jika harga bahan bakar tetap tinggi hingga musim dingin. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini memberi peluang untuk menguatkan posisi Ryanair, yang telah menginvestasikan dana signifikan dalam new policy untuk meminimalkan risiko finansial. Sebagai contoh, Spirit Airlines, maskapai AS, telah mengajukan kebangkrutan setelah krisis bahan bakar memperparah masalah utang dan biaya operasional mereka.

“Jika harga minyak terus naik hingga Juli, Agustus, dan September, maka industri penerbangan Eropa akan mengalami tekanan besar,” tegas O’Leary. “Namun, new policy kami memberi kami keuntungan jangka menengah, karena kami telah membangun lindung nilai bahan bakar yang cukup solid.”

Ryanair melaporkan kenaikan laba bersih hampir 40% menjadi 2,3 miliar euro pada tahun berakhir di bulan Maret, sementara jumlah penumpang juga meningkat 4% menjadi 208,4 juta. Meski pendapatan mengalami penurunan 11% ke 15,54 miliar euro, perusahaan tetap optimis dalam menghadapi tantangan ini. Sorahan menambahkan bahwa new policy ini tidak hanya fokus pada efisiensi biaya, tetapi juga pada keberlanjutan operasional di tengah fluktuasi harga global.

Dalam konteks lebih luas, ketergantungan Eropa terhadap pasokan minyak dari Selat Hormuz telah berkurang berkat new policy yang dirancang untuk diversifikasi sumber bahan bakar. Ryanair telah menjalin kerja sama dengan negara-negara seperti AS, Venezuela, dan Brasil sebagai alternatif pemasok. Meski harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi, Sorahan yakin perusahaan masih memiliki kekuatan finansial untuk bertahan.

Analisis dari Citi menyebutkan bahwa Ryanair kemungkinan akan menurunkan harga tiket untuk menarik pelanggan di awal musim panas, namun harga tiket mungkin stabil seperti tahun sebelumnya di kuartal kedua. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan pemesanan mendadak, yang menunjukkan kepercayaan pasar terhadap new policy perusahaan. Sorahan menegaskan bahwa perusahaan terus memantau dinamika pasar, termasuk dampak dari new policy terhadap kinerja keuangan dan strategi pemasaran.

Kebijakan ini juga menjadi bahan perbandingan dengan maskapai lain yang belum mengambil langkah serupa. Dalam situasi krisis, new policy Ryanair dianggap sebagai contoh inovasi dalam manajemen risiko bahan bakar. Sejumlah analis menilai bahwa keberhasilan perusahaan ini bisa menjadi acuan bagi industri penerbangan global, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim yang memengaruhi pasokan energi.

MORE FROM THIS CATEGORY