Bulog Mulai Guyur Jagung SPHP ke 5.000 Peternak Gara-Gara Harga Naik

3 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
644c956c-040f-4d4d-9e83-2e4c10b74e80-0

New Policy: Bulog Mulai Guyur Jagung SPHP ke 5.000 Peternak Gara-Gara Harga Naik

Jakarta, 11 Mei 2026

Dailynesia.com – Sebuah New Policy baru diluncurkan oleh pemerintah melalui Perum Bulog untuk menstabilkan harga jagung pakan ternak. Program ini, yang dikenal sebagai Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), telah berjalan sejak Sabtu (9/5/2026) lalu. Tujuan utamanya adalah menekan kenaikan harga jagung yang terus mengalami peningkatan, sehingga memberi dampak signifikan pada biaya produksi peternak. Kebijakan ini menjadi solusi kritis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berlangsung di sektor pertanian.

“New Policy SPHP jagung telah kami luncurkan ke seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah sentra peternakan ayam dan ternak lainnya, untuk mengendalikan lonjakan harga jagung yang mencapai tingkat kritis,” jelas Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, saat diwawancara di Jakarta, Senin (11/5/2026). “Ini adalah langkah strategis pemerintah guna menjaga keseimbangan pasar dan memastikan keberlanjutan industri peternakan.”

Bulog menyiapkan 240.000 ton jagung sebagai bagian dari New Policy ini, dengan harga yang ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Penyaluran bahan baku ini dilakukan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan peternak, terutama yang termasuk dalam skala mikro, kecil, dan menengah. Rizal menegaskan bahwa persediaan jagung di Bulog saat ini mencapai 300.000 ton, sehingga mampu menutupi kebutuhan peternak hingga beberapa bulan ke depan.

Program SPHP Jagung: Latar Belakang dan Tujuan

Kebijakan New Policy SPHP jagung lahir sebagai respons terhadap kenaikan harga yang signifikan. Menurut data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga jagung telah melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) peternak sebesar 16,81% dengan acuan Rp5.800 per kg. Lonjakan harga ini memicu peningkatan biaya produksi peternak, yang berdampak pada kenaikan harga daging ayam ras nasional. Sebagai contoh, pada 8 Mei 2026, harga daging ayam ras mencapai Rp37.616 per kg, meningkat 0,38% dibandingkan hari sebelumnya.

“New Policy ini dirancang agar peternak tidak terbebani oleh fluktuasi harga jagung, terutama selama musim panen yang tidak merata,” terang Rizal. “Kebijakan ini juga bertujuan mengurangi risiko ketidakstabilan pasokan pakan ternak di tengah kondisi inflasi yang terus meningkat.”

Kenaikan Harga Jagung Memicu Intervensi

Program SPHP jagung diinisiasi guna mengantisipasi kenaikan biaya produksi yang berpotensi mengganggu keberlanjutan industri peternakan. Bapanas dan Bulog melakukan distribusi jagung secara terencana, dengan fokus pada 26 provinsi sentra peternakan. Total populasi unggas yang didukung oleh New Policy ini mencapai 53 juta ekor, menjadikannya salah satu langkah terbesar dalam sejarah kebijakan pangan Indonesia.

Distribusi jagung SPHP juga diharapkan dapat mendorong keterlibatan lebih luas dari peternak skala kecil. “Kami telah menyalurkan jagung sebanyak 213.100 ton dalam tahap awal program ini,” tambah Rizal. “Distribusi ini akan terus diperluas agar mencapai target 5.000 peternak dalam waktu dekat.”

Manfaat dan Dampak New Policy SPHP

New Policy SPHP jagung dianggap sebagai upaya pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pangan dengan harga terjangkau. Dengan harga jual yang ditetapkan di bawah HET, peternak diharapkan bisa mengurangi beban biaya operasional dan mempertahankan produktivitas. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan menurunkan risiko kenaikan harga daging ayam ras, yang secara tidak langsung memengaruhi daya beli masyarakat.

Analisis dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga daging ayam ras nasional terus naik, dari Rp37.309 per kg pada 30 April 2026 menjadi Rp37.616 per kg pada 8 Mei 2026. Kenaikan ini diprediksi akan berdampak pada inflasi dan memperkuat kebutuhan pemerintah untuk menjaga harga pangan tetap stabil. New Policy SPHP menjadi salah satu instrumen utama dalam upaya tersebut.

Implementasi New Policy dan Pelaku Pasar

Proses implementasi New Policy SPHP jagung dimulai dengan penyaluran ke 26 provinsi secara bertahap. Bulog melakukan distribusi melalui sejumlah mitra lokal, termasuk perusahaan distributor dan kelompok tani, untuk memastikan keberlanjutan penyaluran. Rizal menyebutkan bahwa serapan jagung Bulog mencapai rekor tertinggi sejak kemerdekaan, dengan jumlah 300.000 ton dalam beberapa minggu terakhir.

Di sisi lain, peternak skala kecil menilai New Policy ini sebagai bentuk dukungan yang signifikan. “Kebijakan ini memberi ruang bagi peternak untuk memperoleh pasokan jagung secara terstruktur, sehingga tidak tergantung sepenuhnya pada harga pasar yang fluktuatif,” kata salah satu peternak dari Jawa Timur. Namun, beberapa peternak juga mengingatkan bahwa keberhasilan New Policy ini bergantung pada keterlibatan aktif dari semua pihak, termasuk pengusaha pakan dan konsumen akhir.

Pertumbuhan Serapan Jagung dan Proyeksi Masa Depan

Dalam jangka panjang, New Policy SPHP jagung diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional. Rizal menyebutkan bahwa serapan jagung Bulog telah meningkat drastis, mencapai 300.000 ton, dibandingkan dengan 102.000 ton pada tahun lalu. Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan program distribusi yang digagas pemerintah.

Menurut Bapanas, kebijakan New Policy ini juga membantu menekan inflasi pangan yang terjadi di tengah lonjakan permintaan. “New Policy SPHP jagung menjadi salah satu faktor penekan inflasi, terutama dalam sektor pangan,” kata salah satu pejabat Bapanas. “Dengan menstabilkan harga pakan ternak, kita bisa memastikan keberlanjutan industri pertanian dan meminimalkan risiko kenaikan harga daging ayam ras di pasar nasional.”

MORE FROM THIS CATEGORY