AS Langgar Gencatan Senjata, Upaya Damai dengan Iran Berantakan Lagi?
Dailynesia.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak setelah Teheran mengklaim serangan militer AS sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh. Tuduhan tersebut muncul ketika dua negara sedang berupaya mencapai kesepakatan awal untuk berhenti dari konflik yang telah berlangsung tiga bulan lebih. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, serangan di Provinsi Hormozgan, wilayah selatan, disebut sebagai “pelanggaran besar” yang berpotensi menghancurkan upaya perdamaian. Pada Selasa (27/5/2026), media Iran melaporkan terdengar suara ledakan di area tersebut. Ini memicu kekhawatiran bahwa operasi militer AS telah mengganggu proses dialog yang sedang berlangsung.
Kementerian Luar Negeri AS menegaskan bahwa serangan militer yang dilakukan Washington bersifat defensif. Pemerintah AS menyatakan target utama dari operasi itu adalah lokasi rudal Iran serta kapal yang diduga mencoba menanam ranjau laut di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengungkapkan bahwa negosiasi untuk memperkuat gencatan senjata masih membutuhkan waktu beberapa hari. Dalam wawancara dengan wartawan di pesawatnya saat kunjungan ke India, Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz harus kembali terbuka, “dengan satu cara atau cara lainnya,” menurut laporan Reuters.
“Selat Hormuz harus terbuka, dengan satu cara atau cara lainnya,” ujar Rubio kepada wartawan.
Konflik antara Iran dan AS dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Peristiwa ini memicu gangguan pasokan minyak global yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta menurunkan harga bahan bakar, pupuk, dan pangan di berbagai belahan dunia. Durasi perang ini menyebabkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun drastis, padahal jalur sempit tersebut biasanya digunakan oleh sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dan gas alam cair global. Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa 25 kapal tanker minyak serta kapal lain telah melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir dengan izin dari Teheran.
Di tengah situasi ini, harga minyak mentah Brent dunia melonjak 3,5% pada Selasa, mencapai hampir US$100 per barel. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk membalas serangan AS terbaru. Pasukan elite Iran menegaskan bahwa unit pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh sebuah drone AS, serta menghancurkan drone lain dan jet tempur yang disebut masuk ke wilayah udara Iran di Teluk.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali memperkuat retorika keras terhadap AS dan Israel. Dalam pesan yang diunggah ke kanal Telegram resminya, Khamenei mengatakan: “Mulai sekarang, slogan ‘Kematian untuk Amerika’ dan ‘Kematian untuk Israel’ akan menjadi slogan bangsa Islam dan rakyat tertindas dunia.” Pernyataan ini sejalan dengan pendekatan Donald Trump, yang sebelumnya sering menggunakan slogan serupa sebagai alasan untuk mendukung tindakan militer terhadap Iran.
“Mulai sekarang, slogan ‘Kematian untuk Amerika’ dan ‘Kematian untuk Israel’ akan menjadi slogan bangsa Islam dan rakyat tertindas dunia,” ujar Mojtaba Khamenei.
Dalam upaya memperbaiki situasi, pejabat Iran dan AS mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung. Iran menegaskan bahwa nota kesepahaman awal menjadi pintu menuju perundingan damai lebih luas. Menurut laporan media Iran, negosiator utama Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf, baru kembali dari Qatar setelah meminta pencairan sekitar US$24 miliar dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan awal. Kantor berita Fars menyebut bahwa pencairan dana ini kini menjadi hambatan terakhir dalam negosiasi.
Sementara itu, Iran juga menekankan kebutuhan penghentian konflik di Lebanon. Sejak pertengahan April, gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran tidak mampu mencegah bentrokan berkelanjutan. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya justru memperluas operasi militer di Lebanon. “Israel memperdalam operasinya di Lebanon,” kata Netanyahu, sambil menambahkan bahwa pasukan militer mereka kini bergerak dengan “kekuatan besar di lapangan,” menurut laporan media.
Kesepakatan awal yang diharapkan segera tercapai akan mencakup beberapa poin penting. Poin utama termasuk penghentian permusuhan di semua front perang, pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama 30 hari, serta kemungkinan bantuan finansial tertentu bagi Iran. Isu-isu yang lebih rumit, seperti program nuklir Iran, akan dibahas dalam tahap negosiasi berikutnya. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Iran mulai mengizinkan sebagian kapal melewati Selat Hormuz, dengan prioritas diberikan kepada kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara sahabat Teheran.
Secara keseluruhan, situasi geopolitik antara Iran dan AS terus memanas. Meski ada harapan untuk mencapai perjanjian, ketegangan yang berulang mengingatkan bahwa proses perdamaian bisa terganggu oleh serangan militer. Pencairan dana Iran, yang diharapkan menjadi katalis perundingan, masih menunggu kepastian dari pihak AS. Sementara itu, Iran menegaskan komitmennya untuk melindungi wilayah udara dan laut dari ancaman luar, termasuk menghadapi tekanan dari negara-negara sekutu AS.
Kepala negara Iran juga menekankan pentingnya dukungan internasional dalam menjaga stabilitas wilayah. Dengan adanya perjanjian awal, diharapkan akan tercipta kerangka kerja yang lebih baik untuk memperkuat hubungan bilateral. Namun, langkah-langkah taktis seperti serangan militer di Selat Hormuz bisa menjadi pengingat bahwa persaingan antara Iran dan AS masih belum selesai. Berbagai aspek ekonomi, politik, dan militer tetap menjadi fokus utama dalam perang dagang yang berlangsung sejak akhir tahun lalu.
Dalam situasi ini, selain mengejar kebijakan defensif, AS juga mencoba mempercepat penyelesaian konflik melalui komunikasi diplomatik. Pemerintah AS berharap agar kesepakatan yang dicapai nanti dapat memulihkan perdagangan minyak global, yang saat ini terganggu akibat serangan terus-menerus. Meski ada kemajuan dalam pembicaraan, keberhasilan perundingan masih bergantung pada kepercayaan yang terbangun antara kedua pihak, serta komitmen untuk menghormati kesepakatan yang tercapai.
Kelanjutan konflik ini juga memengaruhi aliansi regional dan global. Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, negara-negara lain seperti Qatar dan Arab Saudi terus berperan sebagai mediator. Di sisi lain, pengaruh ekonomi dari perang ini terasa di berbagai negara, terutama di pasar minyak dan bahan bakar. Lonjakan harga bahan bakar yang terjadi sebelumnya kembali terjadi, menambah tekanan terhadap perekonomian global. Masa depan perundingan dam

