Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Netanyahu Jadi Beban, Trump Pusing Kena Hajar Sana-sini

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By Sandra Taylor - dailynesia.com

Foto : Sandra Taylor - dailynesia.com

Trump Menghadapi Tekanan Politik Akibat Penolakan Netanyahu Terhadap Rencana Perdamaian

Dailynesia.com – Keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menolak proposal perdamaian yang ditawarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyoroti adanya perbedaan kepentingan di antara kedua pemimpin tersebut. Situasi ini diperkirakan akan menimbulkan tantangan politik bagi Trump, terutama menjelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini menunjukkan bagaimana dinamika hubungan bilateral bisa berubah ketika kepentingan domestik masing-masing negara bertabrakan.

Alasan Politik di Balik Penolakan

Sesuai laporan Axios yang mengutip seorang pejabat senior AS, keputusan Netanyahu ini tidak lepas dari pertimbangan politik menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Langkah yang diambil oleh Netanyahu dinilai dapat mempersulit Trump dalam mempertahankan citranya sebagai pemimpin yang membawa perdamaian, bukan perang. Dalam konteks ini, Netanyahu Jadi Beban Trump Pusing karena tekanan domestik yang harus dihadapi oleh kedua pemimpin secara bersamaan.

"Hal ini membuat pemerintah tampak lemah dan pada dasarnya tidak paham situasi, karena apa yang kita ketahui sekarang mengenai kesulitan politik Netanyahu bukanlah hal baru," ujar Yossi Mekelberg, rekan konsultan senior di Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, sebagaimana dikutip Newsweek, Rabu (12/8/2026).

Mekelberg menambahkan bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak terus-menerus menyesuaikan kebijakannya hanya untuk membantu Netanyahu menghadapi pemilu. Kekhawatiran Netanyahu terutama berkaitan dengan potensi terbatasnya keleluasaan Israel dalam menghadapi ancaman keamanan, menurut Shalom Lipner, non-resident senior fellow di Atlantic Council. Hal ini memperkuat argumen bahwa Netanyahu Jadi Beban Trump Pusing dalam konteks kebijakan luar negeri AS.

Rencana Perdamaian Trump

Rencana yang diumumkan oleh Trump pada 30 Juli tersebut mendapat pujian sebagai "terobosan bersejarah" dari Dewan Perdamaian. Proposal ini mencakup beberapa poin penting, antara lain penghentian perang, pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pengalihan pemerintahan Gaza kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza yang beranggotakan para ahli independen Palestina. Detail-detail ini menunjukkan ambisi Trump untuk menciptakan solusi komprehensif.

Hamas sebelumnya telah menyatakan bahwa kelompok tersebut membubarkan pemerintahannya dan bersedia menyerahkan kekuasaan serta melucuti senjata. Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, menegaskan bahwa kelompoknya tetap "berkomitmen pada peta jalan yang disepakati bersama para mediator dan perwakilan BOP di Kairo sepuluh hari yang lalu." Komitmen ini menjadi kunci keberhasilan rencana perdamaian yang sedang diupayakan.

"Kami berharap para mediator dan pihak penjamin dari Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Netanyahu dan pemerintahannya agar ia mematuhi peta jalan tersebut," katanya.

Posisi Netanyahu dan Hamas

Di sisi lain, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya sebelum Hamas benar-benar dilucuti senjatanya. "IDF tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sampai Hamas dilucuti senjatanya," kata Netanyahu, seraya mengakui bahwa pemerintahannya masih membahas sejumlah gagasan dengan Washington. Posisi keras ini mencerminkan prioritas keamanan nasional Israel.

Direktur Jenderal Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, menjelaskan bahwa Hamas telah menyetujui penghentian operasi militer, persenjataan kembali, pelatihan, dan keberadaan pasukan bersenjata. Ia menegaskan proses pelucutan senjata juga mencakup senjata perorangan seperti senapan Kalashnikov dan dirancang melalui mekanisme yang dapat diverifikasi serta dihentikan jika diperlukan. Mekanisme verifikasi ini menjadi aspek krusial dalam implementasi perjanjian.

Dampak Terhadap Trump di Dalam Negeri

Persoalan ini menjadi makin sensitif di dalam negeri AS. Survei Pew Research Center pada Juli menunjukkan pandangan negatif terhadap Israel meningkat dari 43% pada 2022 menjadi 62% tahun ini, sementara tingkat kepercayaan terhadap Netanyahu juga turun menjadi 27% pada Maret dari 32% setahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan pergeseran opini publik yang signifikan.

Perubahan sikap itu tidak hanya datang dari kubu Demokrat. Sejumlah pendukung gerakan MAGA dan tokoh konservatif juga semakin kritis terhadap kebijakan Timur Tengah Trump. "Ketika Trump diserang baik oleh kubu MAGA maupun kelompok progresif, hal ini mungkin akan berdampak pada perolehan suara dalam pemilu," ujar Mekelberg. Dampak politik ini bisa menjadi faktor penentu dalam elektabilitas Trump.

Kondisi tersebut menempatkan Trump dalam posisi sulit. Jika kebuntuan Gaza berlanjut, perbedaan kepentingan antara Trump dan Netanyahu berpotensi berkembang menjadi konfrontasi terbuka, menurut Lipner. Dalam situasi ini, Netanyahu Jadi Beban Trump Pusing menjadi narasi utama yang akan terus berkembang seiring waktu.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Situasi Saat Ini

Apa penyebab utama penolakan Netanyahu terhadap rencana perdamaian Trump? Penolakan ini terutama didorong oleh pertimbangan politik domestik menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober 2026, serta kekhawatiran tentang keleluasaan Israel dalam menghadapi ancaman keamanan.

Berapa persen pandangan negatif terhadap Israel menurut survei terbaru? Survei Pew Research Center pada Juli 2026 menunjukkan bahwa pandangan negatif terhadap Israel meningkat menjadi 62%, naik dari 43% pada tahun 2022.

Apa yang akan terjadi jika kebuntuan Gaza berlanjut? Menurut Shalom Lipner dari Atlantic Council, perbedaan kepentingan antara Trump dan Netanyahu berpotensi berkembang menjadi konfrontasi terbuka jika situasi tidak segera membaik.

Related Reading