Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Motor & Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal Laut, Ini Alasannya!

Published September 27, 2026 · Updated September 27, 2026 · By Anthony Johnson - dailynesia.com

Foto : Anthony Johnson - dailynesia.com

Distribusi Kendaraan Listrik Lewat Laut Masih Terkendala Standar Keselamatan

Dailynesia.com – Pengiriman kendaraan listrik melalui kapal laut masih menjadi tantangan bagi industri otomotif di Indonesia. Sejumlah operator kapal disebut belum bersedia membawa mobil, sepeda motor, truk, maupun kendaraan listrik penumpang karena mempertimbangkan risiko keselamatan, terutama jika terjadi kebakaran pada baterai lithium.

Isu ini menjadi penting seiring kebutuhan distribusi kendaraan listrik ke berbagai wilayah kepulauan. Jalur laut memiliki peran besar dalam menghubungkan pusat produksi dan pasar di banyak daerah. Namun, kelancaran logistik tersebut harus berjalan seiring dengan kesiapan prosedur penanganan risiko di atas kapal.

Ketua Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, menilai standar operasional prosedur atau SOP khusus diperlukan untuk seluruh proses pengangkutan kendaraan listrik. Kebutuhan itu tidak hanya berlaku bagi pelayaran, melainkan juga transportasi melalui jalan darat.

“SOP perlunya untuk transportasi pengangkutan kendaraan motor listrik, baik itu sepeda motor maupun passenger, maupun juga komersil yang melalui darat maupun laut,” kata Moeldoko dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, dikutip Minggu (27/9/2026).

Operator Kapal Masih Menolak Pengangkutan

Hambatan paling nyata muncul ketika pelaku usaha berusaha mengirim unit kendaraan listrik menggunakan kapal. Moeldoko menyampaikan bahwa masih terdapat larangan atau penolakan pengangkutan dari pihak kapal bagi kendaraan listrik, baik roda dua, kendaraan penumpang, maupun truk.

“Karena sekarang ini pengusaha-pengusaha di sektor itu apabila mau mengirimkan kendaraan sepeda motor maupun truk maupun yang passenger, itu ada larangan di kapal laut,” ujarnya.

Penolakan tersebut berpotensi membuat distribusi kendaraan listrik menjadi lebih rumit, terutama bagi produsen dengan skala usaha terbatas. Pabrikan besar mungkin mempunyai pilihan logistik yang lebih luas, termasuk pengaturan pengiriman dalam jumlah besar. Akan tetapi, industri kecil tidak memiliki keleluasaan yang sama untuk menyediakan kapal sendiri hanya demi membawa produk dalam volume terbatas.

“Kecuali kalau BYD kan memang suatu pabrikan bawa kapal sendiri. Tapi industri-industri kecil kan perlu distribusi yang jumlahnya tidak banyak, enggak mungkin akan menyiapkan satu kapal,” tutur Moeldoko.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keselamatan di laut juga dapat memengaruhi persaingan usaha. Tanpa mekanisme distribusi yang dapat diakses berbagai pelaku industri, produsen kecil akan menghadapi biaya dan hambatan logistik lebih besar ketika ingin menjangkau pasar di luar wilayah produksinya.

Baterai Lithium Memerlukan Penanganan Khusus

Fokus utama kekhawatiran operator kapal berkaitan dengan karakter baterai lithium. Jika terjadi kebakaran, penanganannya tidak dapat diperlakukan seperti kebakaran biasa. Peralatan pemadam konvensional tidak selalu memadai untuk menyelesaikan risiko yang muncul dari baterai jenis tersebut.

“Karena litium itu bukan barang yang disiram air itu bisa selesai. Dia tidak bisa menggunakan alat pemadam konvensional,” jelas Moeldoko.

Karena itu, standar keselamatan perlu mencakup langkah pencegahan, kesiapan kru, tata cara penempatan kendaraan di kapal, serta prosedur respons saat keadaan darurat terjadi. Tujuannya bukan hanya melindungi kendaraan yang diangkut, tetapi juga menjaga keselamatan penumpang, awak kapal, muatan lain, dan kapal itu sendiri.

Moeldoko menekankan perlunya ketentuan tersendiri untuk mengatasi kebakaran yang melibatkan baterai lithium. Standarisasi tersebut dinilai harus dibangun secara jelas agar kebutuhan keselamatan tidak berlawanan dengan kebutuhan distribusi industri kendaraan listrik.

“Nah, ini standarisasi untuk menyelesaikan kebakaran baterai lithium itu juga perlu standar yang tersendiri,” ucap Moeldoko.

Aturan Pemerintah Menjadi Acuan Keselamatan

Kementerian Perhubungan sebelumnya juga mengakui bahwa sebagian operator masih enggan menerima kendaraan listrik untuk diangkut melalui laut. Sikap itu berhubungan dengan kewajiban memenuhi ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Ketentuan tersebut saat ini mengacu pada surat edaran Kementerian Perhubungan. Direktur Perkapalan dan Kepelautan Kementerian Perhubungan, Samsuddin, menyatakan pihaknya masih mendapatkan informasi mengenai operator kapal yang belum membuka layanan angkutan untuk kendaraan listrik.

“Memang kami masih mendapat informasi ada beberapa operator yang masih enggan mengangkut kendaraan listrik,” kata Samsuddin di Kementerian Perhubungan beberapa waktu lalu.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, persoalan ini menunjukkan bahwa perkembangan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan penjualan unit, infrastruktur pengisian daya, atau teknologi baterai. Rantai distribusi juga menjadi bagian penting dari ekosistemnya, khususnya di negara kepulauan yang sangat bergantung pada moda laut.

Penyusunan SOP yang lebih terperinci dapat menjadi titik temu antara kebutuhan industri dan tuntutan keselamatan pelayaran. Dengan prosedur yang tepat, operator kapal memiliki pedoman yang jelas untuk menilai, menerima, menempatkan, serta menangani kendaraan listrik selama perjalanan. Di sisi lain, produsen kecil memperoleh kepastian jalur distribusi tanpa harus menanggung beban logistik yang sulit dijangkau.

Pada akhirnya, penguatan standar bukan sekadar soal membuka ruang pengangkutan kendaraan listrik di kapal. Langkah tersebut juga diperlukan untuk membangun kepercayaan seluruh pihak terhadap keamanan distribusi kendaraan berbasis baterai, dari pabrik hingga kendaraan tiba di tangan konsumen.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Motor Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal?

Motor Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Motor Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal matter?

Motor Mobil Listrik Dilarang Naik Kapal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.