Pertemuan Trump dan Xi Jinping Dorong Kerja Sama Energi dengan China
Dailynesia.com – Beijing, negara yang selama ini bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, kini mengambil langkah penting untuk memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS) dalam sektor energi. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap gangguan pasokan global yang terjadi akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut. Pemerintah AS dan China dianggap sebagai mitra yang saling melengkapi, dengan AS sebagai produsen minyak terbesar dunia dan China sebagai importir utama.
Konflik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama pergeseran logistik energi. Jalur utama ekspor dari Teluk Persia terganggu hampir sepenuhnya selama beberapa minggu karena blokade yang diberlakukan Iran. Meski begitu, China memiliki cadangan strategis yang cukup besar, memungkinkan negara itu bertahan meski pasokan mengalami hambatan.
“Ada perdagangan energi yang alami di sana,” kata Menteri Energi AS Chris Wright kepada Brian Sullivan dari CNBC dalam wawancara di Port Arthur, Texas pada Jumat (15/05/2026).
Sebelumnya, China tergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Namun, dengan kondisi yang berubah, negara tersebut kini memperhatikan opsi lain, termasuk dari AS. Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing beberapa hari lalu memperkuat komitmen ini. Trump menyatakan bahwa China telah menyetujui kesepakatan besar untuk mengamankan pasokan energi dari AS.
Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan rencana pengiriman kapal ke Texas, Louisiana, dan Alaska sebagai bagian dari kerja sama ini. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai adanya perjanjian tertulis. “Mereka ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, dan kita akan mulai mengirim kapal ke wilayah-wilayah tersebut,” ujarnya.
Ketegangan di Selat Hormuz juga berdampak signifikan pada perekonomian Arab. Sebelum serangan militer AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini. Blokade Iran menghentikan aliran tersebut, menyebabkan gangguan energi terbesar sejak era modern. Sebagai antisipasi, negara-negara produsen di Teluk Arab sedang membangun jaringan pipa alternatif.
Uni Emirat Arab, misalnya, meluncurkan proyek pipa Barat-Timur yang dipercepat untuk menghindari risiko dari jalur laut yang rentan. Wright menilai Selat Hormuz tetap penting, tetapi keberadaannya akan berubah dalam jangka panjang. “Akan ada rute lain bagi energi keluar dari Teluk Persia. Selat Hormuz mungkin kehilangan posisinya, tapi produksi energi dari kawasan tersebut tetap vital,” tuturnya.

