Trump Tiba-Tiba Ancam Serang Oman Bila ‘Main Mata’ dengan Iran

2 months ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
presiden-as-donald-trump-mengadakan-konferensi-pers-di-ruang-briefing-pers-james-s-brady-di-gedung-putih-di-washington-dc-as-6-1776301833066_169

Meeting Results: Trump Ancam Serang Oman Jika Bersekongkol dengan Iran

Dailynesia.com – Dalam meeting results yang dilaporkan oleh Al Jazeera, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan ancaman militer terhadap Oman jika negara tersebut terlibat dalam kesepakatan yang memperkuat hubungan dengan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul saat ia dinilai mengevaluasi kebijakan luar negeri Oman dan Iran dalam mengelola jalur pelayaran kritis ini. Selat Hormuz menjadi pintu masuk utama minyak mentah ke pasar global, mengatur lebih dari 20% dari total lalu lintas energi dunia, menjadikannya lokasi strategis yang penuh perhatian.

Strategi Luar Negeri dan Konflik Diplomatik

Sebagai bagian dari strategi luar negeri pemerintahan Trump, ancaman terhadap Oman terkait langsung dengan kebijakan sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap Iran. Ancaman tersebut muncul setelah Iran mengungkap draf kesepakatan bersama dengan Oman, yang dianggap sebagai langkah untuk memperkuat dominasi regional. Trump mengkritik kebijakan ini sebagai “rekayasa sepenuhnya” dan menekankan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan negara-negara lain mengendalikan selat tersebut tanpa persetujuan.

“Apakah Anda akan menerima kesepakatan sementara yang memungkinkan Iran dan Oman mengendalikan Selat Hormuz?” tanya reporter, seperti dilaporkan Al Jazeera, Kamis (28/5/2026).

Trump menjawab dengan tegas, “Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan bertindak seperti negara lain, atau kita harus meledakkannya.” Meskipun awalnya ada dugaan kesalahan pengucapan, Departemen Luar Negeri AS mengunggah transkrip rapat kabinet yang merujuk pada Oman, membenarkan ancaman tersebut. Pernyataan ini menunjukkan sikap pemerintahan Trump yang semakin tegas dalam menghadapi tekanan dari Iran.

Kemitraan AS-Oman: Sejarah dan Tantangan Baru

Oman, yang dikenal sebagai negara netral dengan hubungan diplomatik kuat dengan AS sejak ratusan tahun, belum menyatakan keinginan untuk bergabung dengan Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz. Namun, ancaman Trump mengisyaratkan bahwa kebijakan luar negeri AS akan berubah jika Oman dianggap mendukung kekuatan regional Iran. Pemerintahan Trump juga mencoba menguatkan perjanjian keamanan dengan Oman, meski secara diam-diam mengincar langkah strategis yang bisa merusak dominasi Iran.

Dalam meeting results, Trump mempertahankan posisi bahwa Selat Hormuz adalah jalur pelayaran yang penting bagi keamanan energi global. Ia menekankan bahwa peningkatan peran Iran dalam mengendalikan wilayah tersebut akan memicu respons militer AS. Meski Oman dianggap sebagai sekutu, ancaman ini juga mencerminkan kekhawatiran Trump tentang perluasan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Dukungan Arab-Israeli: Pendorong Kebijakan Trump

Ancaman Trump terhadap Oman tidak terlepas dari upaya normalisasi hubungan Arab-Israeli. Pemerintahan Trump terus mendorong Arab Saudi dan Qatar untuk meresmikan hubungan dengan Israel sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran. Dalam meeting results, Trump menyebut kebijakan ini sebagai “langkah penting” untuk mengurangi tekanan Iran terhadap negara-negara Arab.

Dengan melakukan ancaman terhadap Oman, Trump ingin menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya akan berubah jika negara-negara Arab dianggap tidak loyal terhadap kepentingan AS. Dalam konteks ini, ancaman militer dilihat sebagai alat untuk memaksa Oman mengambil posisi yang lebih pro-AS dalam pertarungan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kritik terhadap Ancaman Trump: Perbedaan Perspektif

Para kritikus menilai ancaman Trump sebagai tindakan yang terkesan sembrono. Raed Jarrar, direktur advokasi di DAWN, menyebutnya mirip dengan komentar seorang “bos mafia”. “Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara manapun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat seperti mengikat negara lain,” tegas Jarrar kepada Al Jazeera. Ia menambahkan, “Ancaman ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang ditengahi pemerintahan Trump hanya akan bertahan hingga presiden kehilangan kesabarannya lagi.”

Banyak ahli internasional mengkhawatirkan penggunaan ancaman militer dalam meeting results ini, karena bisa memicu ketegangan regional. Mereka berpendapat bahwa ancaman tersebut tidak hanya mengganggu hubungan antara AS dan Oman, tetapi juga berpotensi memperburuk situasi di Selat Hormuz. Selat ini selama ini dianggap sebagai jalur internasional, tetapi ancaman Trump mengubahnya menjadi zona perang.

Konsekuensi untuk Keamanan Global

Ancaman Trump terhadap Oman memicu kekhawatiran tentang stabilitas keamanan global. Selat Hormuz, yang sebagian besar melewati wilayah teritorial Iran dan Oman, berpotensi menjadi pangkalan untuk konflik besar jika kedua negara dianggap saling memperkuat pengaruh. Dalam meeting results, Trump mengungkapkan bahwa AS bersedia mengambil tindakan ekstra untuk menjaga kepentingan energi dan keamanan lalu lintas minyak.

Para pakar juga menyoroti bahwa ancaman ini menunjukkan pergeseran strategi Trump dari pendekatan diplomatik ke kebijakan “diplomasi kapal perang”. Dengan memperkuat ancaman militer, Trump ingin menekan Oman dan Iran agar tidak mengendalikan Selat Hormuz secara bersama. Namun, keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan lalu lintas minyak dan dampaknya terhadap ekonomi dunia.

Respons Internasional dan Masa Depan Kebijakan Trump

Setelah ancaman Trump diterbitkan, berbagai pihak internasional mulai merespons. Beberapa negara meminta AS untuk mempertimbangkan kebijakan tersebut, sementara lainnya menganggapnya sebagai bentuk kekuasaan yang berlebihan. Dalam meeting results ini, Trump menegaskan bahwa keputusan militer akan dibuat jika semua upaya diplomatik gagal.

MORE FROM THIS CATEGORY