Produksi Minyak di Blok Cepu Turun di Awal Tahun, Ini Penjelasan Exxon

2 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
ec601d6a-0e17-480e-94fd-82aef51272e1-0

Produksi Minyak Blok Cepu Turun, Exxon Beri Penjelasan

Dailynesia.com – Produksi minyak dari Blok Cepu mengalami penurunan di awal tahun 2026, menurut data yang dikeluarkan oleh SKK Migas. ExxonMobil Cepu Ltd mencatatkan produksi sebesar 129.915 barel per hari (bph) pada Mei, yang berada di bawah target rencana APBN 2026 sebesar 148.500 bph. Meski penurunan ini terjadi, perusahaan tetap optimistis dan telah melakukan evaluasi strategis untuk memastikan kelangsungan operasional.

Analisis Penurunan Produksi dan Strategi Pengoptimalan

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senior Vice President ExxonMobil Indonesia, Muhammad Nurdin, menjelaskan bahwa penurunan produksi Blok Cepu diawal tahun disebabkan oleh faktor alami yang tidak terhindarkan. “Produksi mengalami penurunan atau decline karena lapangan migas yang dikelola memiliki siklus alami,” kata Nurdin. Ia menegaskan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kinerja produksi.

“Kami berkomitmen untuk memaksimalkan potensi lapangan melalui inovasi dan pengelolaan fasilitas yang lebih efisien,” jelas Nurdin dalam sesi meeting results yang dihadiri para pengambil kebijakan. Ia menambahkan bahwa perusahaan bersama mitra dan SKK Migas sedang mengevaluasi langkah-langkah teknis untuk mengatasi penurunan ini.

Permasalahan Nasional dan Tantangan Operasional

Penurunan produksi Blok Cepu tidak terjadi secara terisolasi. SKK Migas menjelaskan bahwa kondisi produksi nasional juga terpengaruh oleh berbagai gangguan operasional di beberapa wilayah. Salah satu penyebab utama adalah kebocoran pipa di Terminal Dumai, yang menyebabkan tujuh kontraktor kecil dan dua pemasok gas kehilangan kapasitas produksi sementara. “Di Januari, produksi nasional sangat rendah karena masalah tersebut,” ujar Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas.

“Setelah masalah tadi diperbaiki, produksi sempat pulih, namun di kuartal kedua muncul hambatan baru seperti gangguan listrik di PHR dan penurunan di Lapangan Banyu Urip,” tambah Djoko. Ia menekankan bahwa tantangan ini menuntut kolaborasi yang lebih intensif antara operator, mitra, dan pemerintah.

ExxonMobil Cepu Ltd, sebagai salah satu produsen utama minyak di Indonesia, tetap berupaya memperkuat kontribusinya terhadap target nasional. Dalam meeting results yang diadakan akhir Mei, perusahaan mengungkapkan bahwa penurunan produksi saat ini tidak menggangu rencana jangka panjang. Nurdin menyatakan bahwa perusahaan sedang mengoptimalkan subsurface dan memastikan stabilitas fasilitas operasional.

Kinerja Nasional dan Kebutuhan Kolaborasi

Produksi minyak siap jual nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 576.200 barel per hari, dengan 491.300 bph berasal dari minyak mentah, 55.800 bph kondensat, serta 29.100 bph NGL. Meski jumlah ini masih di bawah target 610.000 bph untuk tahun ini, kebutuhan perbaikan produksi tetap menjadi fokus utama. “Kolaborasi antara pihak-pihak terkait menjadi kunci untuk mencapai target,” terang Djoko Siswanto.

“ExxonMobil Cepu Ltd bersama mitra dan SKK Migas akan terus berupaya memperbaiki kinerja, terutama di Blok Cepu yang merupakan salah satu penopang utama produksi nasional,” imbuh Djoko. Ia menyoroti bahwa masalah lapangan migas seperti penurunan alami tidak bisa dihindari, tetapi harus dikelola secara terarah.

Meeting Results juga menyoroti pentingnya investasi dalam teknologi pengambilan minyak. Nurdin menyebutkan bahwa keberlanjutan produksi membutuhkan penggunaan metode pengeboran dan ekstraksi yang lebih modern. “Strategi ini tidak hanya untuk menangani penurunan saat ini, tetapi juga untuk mempersiapkan lapangan migas di masa depan,” jelasnya. Dengan upaya ini, ExxonMobil berharap dapat memperbaiki performa produksi hingga akhir tahun.

MORE FROM THIS CATEGORY