BI Rate Naik, Airlangga Minta Himbara Tak Cepat Naikkan Bunga Kredit

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
baa93428-a5d9-4902-b8a3-887c34b29a80-0

BI Rate Naik, Airlangga Minta Himbara Tidak Terburu-buru Naikkan Bunga Kredit

Dailynesia.com – Dalam meeting results yang diadakan pada hari Rabu (18/6/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan pernyataan terkait dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Kenaikan ini dilakukan dengan peningkatan 25 basis poin, sehingga tingkat BI Rate kini mencapai 5,75%. Meski kenaikan bunga acuan ini memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian, Airlangga mengingatkan bahwa perbankan pemerintah (Himbara) sebaiknya menyesuaikan bunga kredit secara bertahap, bukan terburu-buru.

Konteks Kenaikan BI Rate

Kenaikan BI Rate menjadi sorotan utama dalam meeting results yang dihadiri oleh sejumlah direktur dan komisaris dari perbankan Himbara. Hadir dalam rapat tersebut antara lain Direktur Utama BRI Hery Gunardi, BNI Putrama Wahju Setyawan, BTN Nixon L.P. Napitupulu, Mandiri Riduan, dan BSI Anggoro Eko Cahyo. Selain itu, beberapa komisaris dan wakil direktur utama dari bank-bank nasional juga turut serta dalam diskusi tersebut. Menteri Airlangga menekankan bahwa keputusan kenaikan suku bunga harus diimbangi dengan pertimbangan dampak terhadap masyarakat dan sektor usaha.

Airlangga menambahkan bahwa kebijakan BI Rate yang dinaikkan memang penting untuk mengendalikan inflasi, tetapi perlunya keselarasan dalam transmisi kebijakan ke sektor kredit. Ia menyoroti bahwa kenaikan bunga kredit harus disesuaikan dengan kondisi makroekonomi yang stabil dan tidak berdampak terlalu besar pada pertumbuhan ekonomi. “Kenaikan bunga acuan adalah alat yang efektif, tetapi perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak merugikan masyarakat,” jelas Airlangga dalam meeting results yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan.

Dalam meeting results tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga turut memberikan pandangan. Ia meminta para direktur dan komisaris Himbara untuk menyesuaikan kebijakan bunga kredit dengan ketenangan, mengingat peran perbankan nasional dalam mendorong stabilitas perekonomian. Airlangga menyampaikan bahwa pengambilan keputusan bunga kredit oleh Himbara tidak boleh bersifat impulsif, karena bisa memengaruhi akses pembiayaan bagi masyarakat miskin dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). “Kita harus tetap memastikan bahwa kredit tetap bisa diakses oleh sektor yang membutuhkan,” tegasnya.

“Tidak mungkin kita mengabaikan kebutuhan pengendalian inflasi, tetapi kita juga harus mengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh terhenti hanya karena kenaikan bunga,” kata Airlangga dalam meeting results yang dibuka oleh Presiden.

Kebijakan kenaikan BI Rate ini diperkirakan akan berdampak pada tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah. Namun, Airlangga menekankan bahwa kebijakan Himbara dalam menyesuaikan bunga kredit harus dijalankan secara terstruktur. Ia mencontohkan bahwa penyesuaian bunga harus dilakukan dengan melihat kebutuhan masing-masing sektor, seperti pertanian, perkebunan, dan industri. “Jika Himbara terlalu cepat menaikkan bunga, efek domino bisa terjadi di sektor riil,” jelas Airlangga. Hal ini memperkuat pandangan bahwa meeting results pada hari tersebut juga menjadi momentum untuk mengoordinasikan kebijakan moneter dan keuangan.

Sebagai langkah lebih lanjut, Airlangga meminta pemerintah untuk terus memantau transmisi kebijakan bunga ke sektor riil. Ia menekankan bahwa kenaikan bunga kredit tidak boleh memicu kenaikan biaya operasional yang signifikan bagi usaha kecil dan menengah. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan BI Rate tidak membuat kehidupan masyarakat lebih sulit,” kata mantan Menteri Keuangan tersebut. Dalam meeting results, pihak Himbara juga diberi kesempatan untuk menanggapi rencana penyesuaian bunga kredit, termasuk strategi mereka dalam menghadapi tekanan inflasi yang sedang meningkat.

MORE FROM THIS CATEGORY