Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur-Pede Masuk Bisnis Toko Buku
Grup Ritel Joysparks Buka Gerbang Baru ke Dunia Toko Buku
Dailynesia.com – Di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebuah gerai buku baru bersiap beroperasi sebelum penutupan tahun 2026. Lintas Bookstore menjadi lini bisnis terbaru yang digarap Joysparks Group, sebuah konglomerasi ritel yang sebelumnya dikenal melalui Star Department Store dan Happy Harvest Supermarket. Keputusan melangkah ke pasar buku ini, menurut manajemen, tidak lahir semata dari kalkulasi angka pasar.
Motivasi di Balik Langkah ke Toko Buku
Andi Yuktipada, Bookstore Director Lintas Bookstore, menjelaskan bahwa ketertarikan personal manajemen terhadap budaya membaca menjadi pemicu utama. Ia mengakui pertanyaan tentang alasan masuk ke sektor ini kerap muncul dalam setiap diskusi internal.
"Pertanyaan kenapa grup kita masuk ke toko buku? Itu kayaknya ketemu 10 orang 11 orang nanya. Betul, semua pasti bilang orang Indonesia nggak ada yang baca buku, ngapain buka bookstore gitu ya? Sebenarnya jawabannya ada dua. Pertama agak sentimentalisme bahwa kita di manajemen dan owner memang pembaca buku dari lama sekali kami sangat suka baca buku," kata Andi dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).
Menurut Andi, pelemahan industri buku tidak serta-merta mencerminkan hilangnya minat masyarakat. Yang berubah adalah cara toko buku merancang pengalaman belanja dan mengintegrasikan produk buku dengan kebutuhan gaya hidup konsumen. Skor membaca PISA (Programme for International Student Assessment) turut menjadi rujukan dalam membaca lanskap literasi nasional.
Tekanan Margin dan Strategi Diferensiasi
Di sisi lain, bisnis ritel secara umum menghadapi tekanan berat akibat pergeseran pola belanja masyarakat. Persaingan harga yang kian tajam memaksa pelaku usaha mencari alternatif selain sekadar memangkas harga. Meshvara Kanjaya, Direktur Supermarket Happy Harvest, menyebut margin di sektor supermarket sangat tipis sehingga perusahaan tidak bisa bertumpu pada strategi diskon semata.
"Margin supermarket itu tipis sekali. Jadi bagaimana kita membalancing kalau istilah saya tuh bagaimana kita seperti main juggle, supaya sales-nya nggak naik aja tapi marginnya hancur. Bagaimana kita menjaga balance itu kami mempunyai slogan yang setiap pagi itu harus kita dengungkan," kata Mey, sapaan akrabnya dalam konferensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).
Sebagai respons, Happy Harvest mengembangkan serangkaian program yang mendorong pelanggan datang bukan hanya karena harga rendah. Program loyalitas, Stamp Rally, aktivitas komunitas, serta pengalaman berbelanja yang unik menjadi pilar strategi tersebut. Perusahaan juga memperkuat diferensiasi melalui produk lokal, termasuk puluhan varian kopi Indonesia dan berbagai teh dalam negeri. Di gerai terbarunya, manajemen bahkan mulai menguji penjualan udang hidup sebagai bagian dari konsep kesegaran yang ditawarkan kepada pembeli.
"Kalau kita cuma berjualan dengan harga diskon, diskon, diskon, how low can you go? Tapi kita harus berpikir kreatif membuat customer belanja beyond diskon, oh saya suka ke sini beyond just the products," ujar Mey.
Sasaran Konsumen yang Lebih Spesifik
Strategi Happy Harvest juga menyasar segmen tertentu secara langsung. Komunitas catur untuk anak-anak, program khusus warga lanjut usia, serta kegiatan yang mengangkat kuliner Indonesia menjadi contoh pendekatan tersebut. Tujuannya adalah membangun ikatan emosional antara konsumen dan toko yang melampaui sekadar transaksi jual-beli.
Diversifikasi dan Ekspansi Gerai
Joysparks Group memandang diversifikasi sebagai tameng menghadapi tekanan struktural industri ritel. Dengan menaungi Star Department Store, Happy Harvest Supermarket, dan kini Lintas Bookstore, sumber pendapatan grup tidak lagi bergantung pada satu lini bisnis saja.
Deddy Wongso, Finance Director Joysparks Group, menyatakan bahwa meskipun tren industri secara keseluruhan menurun, potensi pertumbuhan masih ada. Sejak tahun sebelumnya, grup mampu mempertahankan pertumbuhan single digit di saat banyak pesaing ritel kesulitan bertahan.
"Kami melihat growth ini bukan sekadar sesuatu itu tetapi secara keseluruhan menurun tetapi selalu ada potensi. Nah kami dari tahun lalu masih bisa growth single digit yang kita rasa banyak retailer struggling. Kami bersyukur kami masih bisa bertahan karena kita menyasar segmentasi yang kita rasa cukup bisa bertahan dengan kondisi saat ini," kata Deddy.
Terlepas dari tekanan margin, perusahaan tetap melangkah agresif dalam ekspansi. Choice Sparks mengalokasikan anggaran Rp150 miliar hingga Rp200 miliar per tahun selama dua tahun ke depan. Targetnya jelas: jumlah gerai yang saat ini berjumlah 10 unit diharapkan berlipat ganda dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
"Retailer nggak bisa diam, memang harus berubah. Ini yang dipahami oleh kami dan terus-menerus harus berinovasi untuk bisa bertahan," kata Deddy.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur?Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur matter?Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.