Main Agenda: Temuan KNKT Sebelum Tabrakan Maut: Jalur Komunikasi KA dan KRL Rumit

3 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
petugas-gabungan-mengevakuasi-puing-puing-di-lokasi-kecelakaan-kereta-api-di-stasiun-bekasi-timur-jawa-barat-selasa-2842026-1777353344419_169

Temuan KNKT Sebelum Tabrakan Maut di Bekasi: Komunikasi KA dan KRL Terbukti Rumit

Dailynesia.com – Sebagai poin utama, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengungkap penyebab kecelakaan maut antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, 27 April 2026. Insiden tersebut menewaskan 16 korban jiwa, dengan KNKT menyoroti kompleksitas jalur komunikasi antara dua unit operasi transportasi ini sebagai faktor utama.

Proses Investigasi KNKT dan Miskomunikasi Antara PK

Penyelidikan awal KNKT menunjukkan bahwa miskomunikasi antara Pusat Kendali (PK) Selatan dan PK Timur menjadi penyumbang signifikan dalam kecelakaan ini. Soerjanto Tjahjono, ketua KNKT, menjelaskan bahwa kesulitan dalam koordinasi antara petugas pengendali dan masinis KA terjadi karena perbedaan sistem komunikasi yang digunakan.

“Sistem komunikasi antar PK terlalu membingungkan. KA 5568A menggunakan radio Sepura dan berada di wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan), sementara KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada di S.1 (PK Timur). Ini membuat proses transmisi informasi menjadi lambat dan rentan kesalahan,” ujar Soerjanto dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).

Kelalaian PK dalam memberikan instruksi yang tepat juga menjadi sorotan. Dalam beberapa detik sebelum tabrakan, petugas di PK Selatan hanya meminta masinis KA 4B Argo Bromo Anggrek untuk melakukan pengereman bertahap, padahal situasi membutuhkan respons darurat. Dengan sistem komunikasi yang kurang efektif, kesalahan ini bisa terjadi.

Detail Teknis dan Penjelasan dari Data Logger

Analisis data logger dari KRL dan KA menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi setelah KA 4B Argo Bromo Anggrek melakukan pengereman dari jarak 1,3 km. Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa meski ada upaya pengereman, informasi yang disampaikan ke PK tidak lengkap, sehingga tidak ada tindakan pencegahan yang tepat.

“Dari data yang dianalisis, kecepatan KA Argo Bromo Anggrek saat tabrakan berkisar antara 40 hingga 60 km/jam. Ini menunjukkan bahwa sistem komunikasi antara PK Timur dan Selatan tidak hanya memperlambat respons, tetapi juga menyebabkan ketidaksejajaran informasi yang bisa berdampak fatal,” tambah Soerjanto.

KNKT juga menyoroti bahwa kesalahan ini bisa terjadi karena kurangnya standarisasi dalam sistem komunikasi transportasi. Pihak penyelidik menyarankan adanya perbaikan terhadap prosedur koordinasi antara PK Timur dan Selatan untuk mencegah insiden serupa di masa depan. Perbaikan ini sangat penting dalam rangka memperkuat Main Agenda keselamatan transportasi.

Hasil investigasi lebih lanjut akan diumumkan oleh KNKT dalam tiga bulan ke depan. Namun, penyelidikan awal telah mengungkap bahwa peningkatan komunikasi antar PK adalah Main Agenda utama untuk mencegah kecelakaan besar. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, risiko tabrakan antar kereta bisa diminimalkan.

Dalam perjalanan penyelidikan, KNKT mengungkap bahwa kesalahan dalam koordinasi bukan hanya terjadi pada hari kejadian, tetapi juga sering terjadi dalam operasi sehari-hari. Kompleksitas sistem komunikasi menyebabkan petugas kesulitan mengakses informasi terkini mengenai posisi dan kecepatan kereta, terutama di area stasiun yang padat.

Selain itu, KNKT menyarankan penerapan teknologi komunikasi modern seperti sistem GPS real-time atau aplikasi mobile untuk mempermudah koordinasi antara PK. Dengan perubahan ini, Main Agenda keselamatan transportasi bisa lebih terjamin. Pihak terkait, termasuk Kementerian Perhubungan, diharapkan segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi lagi.

MORE FROM THIS CATEGORY