Main Agenda: RI Luncurkan Program Kompor Listrik 2027, Bahlil Bahas Spesifikasinya
Dailynesia.com – Program kompor listrik menjadi fokus utama dalam agenda kebijakan energi Indonesia tahun 2027, demikian diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Dalam pertemuan dengan Komisi XII DPR RI, Bahlil menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mengurangi ketergantungan pada Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan mempercepat transisi energi ke sumber daya terbarukan. Selain itu, program ini bertujuan memperkenalkan teknologi kompor listrik yang lebih inovatif dan ramah lingkungan.
Ketergantungan LPG Masih Tinggi
Bahlil menekankan bahwa konsumsi LPG di Indonesia masih menguras devisa dan subsidi pemerintah secara signifikan. Dari total kebutuhan LPG nasional, sekitar 80% diimpor, menyebabkan beban finansial yang besar. “Setiap tahun, kita menghabiskan minimal Rp120 triliun untuk LPG, sementara biaya beli mencapai di atas Rp130 triliun. Subsidi energi juga mencapai sekitar Rp80 triliun,” paparnya dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026). Angka-angka ini menggarisbawahi pentingnya program kompor listrik sebagai solusi untuk mengurangi dampak ekonomi dan lingkungan dari penggunaan LPG.
“Main Agenda dalam tahun 2027 adalah pengembangan kompor listrik yang lebih maju dan efisien. Kami ingin memberikan dampak nyata dalam mengurangi emisi karbon serta menekan biaya subsidi,” tambah Bahlil di Kementerian ESDM, Rabu (17/6/2026). Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah pedesaan.
Menurut Bahlil, kompor listrik baru yang akan diluncurkan pada 2027 menggunakan teknologi terkini, termasuk integrasi dengan sistem listrik yang lebih stabil dan ramah lingkungan. Teknologi ini akan memastikan kompor listrik dapat digunakan oleh masyarakat luas, termasuk yang berpenghasilan rendah. “Kita juga sedang menata seberapa signifikan perbedaan antara kompor listrik lama dengan yang baru,” jelasnya. Dengan demikian, program ini diharapkan menjadi alternatif yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan dibandingkan LPG.
Anggaran Rp815,56 Miliar untuk Kompor Listrik
Kementerian ESDM telah menyiapkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar untuk program pengadaan kompor listrik pada 2027. Anggaran ini termasuk dalam pagu Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang tercantum dalam Surat Bersama Pagu Indikatif (SBPI). Dengan dana ini, pemerintah berupaya memastikan distribusi kompor listrik yang merata dan efektif, baik di perkotaan maupun daerah terpencil.
Bahlil menjelaskan bahwa anggaran tersebut akan digunakan untuk pembelian kompor listrik, pengembangan infrastruktur pendukung, serta pelatihan penggunaan teknologi baru. “Program ini tidak hanya tentang pengadaan, tetapi juga tentang kesadaran masyarakat tentang manfaat energi listrik,” kata Bahlil. Selain itu, dana Rp635,24 miliar juga dialokasikan untuk pengembangan motor listrik, sebagai bagian dari strategi kebijakan energi nasional.
Target Pemanfaatan dan Manfaat untuk Masyarakat
Program kompor listrik 2027 diharapkan bisa mencapai angka pemanfaatan yang signifikan, terutama di daerah yang mengalami keterbatasan akses ke LPG. Bahlil menyebutkan bahwa kompor listrik baru akan lebih tahan lama dan hemat energi, sehingga mengurangi biaya operasional jangka panjang bagi pengguna. “Main Agenda ini juga mencakup penguatan regulasi serta kolaborasi dengan pihak swasta untuk mempercepat distribusi,” terangnya.
Menurut Bahlil, penggunaan kompor listrik akan memberikan manfaat ganda, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Di sisi ekonomi, program ini berpotensi mengurangi beban subsidi energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional. Sementara di sisi lingkungan, kompor listrik diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca serta menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Kita juga menyiapkan pelatihan bagi petugas lapangan dan masyarakat untuk memastikan adopsi yang optimal,” katanya.
Dalam rangka mewujudkan Main Agenda ini, Kementerian ESDM juga berencana bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pengusaha, para ahli, serta masyarakat. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu mempercepat proses implementasi dan memastikan program kompor listrik tidak hanya menjadi mimpi tetapi juga kenyataan. “Program ini akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mencapai transisi energi yang berkelanjutan,” pungkas Bahlil.

