Main Agenda: Kerusuhan di Singapura, 18 Tewas Gegara Perebutan Hak Asuh Gadis Cimahi
Dailynesia.com – Kota Singapura menjadi sorotan internasional pada Desember 1950 karena sebuah peristiwa yang mengguncang masyarakat. Main Agenda melaporkan bahwa kerusuhan antar komunitas berujung pada 18 korban jiwa dan 173 luka akibat sengketa hak asuh Maria Hertogh, seorang gadis kelahiran Cimahi, Jawa Barat. Konflik ini memicu kekacauan besar yang mengubah suasana damai Singapura menjadi kota kacau dalam beberapa hari.
Awal Peristiwa dan Latar Belakang
Main Agenda menjelaskan bahwa kejadian ini dimulai dari perbedaan keyakinan antara komunitas Melayu-Muslim dan Eropa di Singapura. Maria, anak keturunan Belanda, ditinggalkan oleh ayahnya setelah Jepang menguasai Hindia Belanda selama Perang Dunia II. Adelaine, ibu kandungnya, menitipkan putrinya kepada Aminah, seorang wanita Melayu, karena kesulitan mengasuhnya sendirian. Di bawah bimbingan Aminah, Maria dibesarkan dalam lingkungan Melayu dengan nama baru, Naadra Maarof, dan dipelajari bahasa Melayu.
Dia tumbuh besar sebagai Muslim, dipakaikan pakaian Melayu, dan diajarkan agama serta budaya setempat,” demikian dijelaskan dalam buku *The Tangled World: The Story of Maria Hertogh* (2015). Hal ini memperkuat identitas baru Maria, yang seolah menjadi bagian dari masyarakat lokal.
Konflik Hak Asuh dan Penyelesaian
Pasca perang, Aminah membawa Maria ke Singapura tanpa izin Adelaine, yang kembali ke Belanda. Main Agenda menyebutkan bahwa Adelaine mengajukan permohonan kepada pemerintah kolonial Inggris untuk mengambil kembali hak asuh Maria, termasuk menawarkan hadiah US$500. Proses penyelesaian melalui pengadilan berlangsung sengit hingga tingkat Pengadilan Tinggi.
Pada 11 Desember 1950, hakim memutuskan Maria harus kembali ke Belanda. Keputusan ini memicu kemarahan sebagian besar Muslim Melayu, yang merasa pihak Eropa mengambil keputusan secara sewenang-wenang. Sentimen anti-kolonial semakin memuncak setelah foto Maria terlihat berada di lingkungan gereja. Main Agenda menyoroti bagaimana keputusan ini menjadi pemicu utama kekacauan yang terjadi.
Perkembangan Kekacauan dan Tanggapan Pemerintah
Konflik yang awalnya dianggap sebagai protes kecil berubah menjadi peristiwa sosial-keagamaan besar. Media seperti *Pikiran Rakyat* edisi 12 Desember 1950 melaporkan bahwa lebih dari 3.000 orang dari komunitas Islam India, Pakistan, dan Malaya menggelar demonstrasi menentang keputusan pengadilan. Aksi massa menyerang fasilitas umum, kantor pemerintah, dan kendaraan milik warga Eropa.
Polisi Singapura mengambil langkah tegas dengan menembakkan tembakan peringatan, memperketat pengamanan, dan mengerahkan kendaraan lapis baja. Meski demikian, situasi justru memburuk. Menurut catatan Perpustakaan Nasional Singapura, 72 mobil terbakar, 119 lainnya rusak, serta bangunan mengalami kerusakan dengan kerugian sekitar US$20.000. Main Agenda menyoroti keterlibatan pemerintah dalam upaya menstabilkan keamanan setelah kekacauan memuncak.
Implikasi Sosial dan Sejarah
Kasus Maria Hertogh tetap menjadi kenangan kelam dalam sejarah Singapura. Main Agenda menegaskan bahwa konflik ini memperlihatkan ketegangan antar komunitas yang dipicu oleh masalah hak asuh. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang hubungan Melayu-Eropa, tetapi juga mengubah perspektif masyarakat terhadap identitas nasional dan agama.
Dampak jangka panjang dari peristiwa ini terasa hingga hari ini. Main Agenda menyebutkan bahwa kekacauan tahun 1950 menjadi bahan pembelajaran penting bagi pemerintah Singapura dalam mengelola keragaman budaya dan agama. Konflik yang dimulai dari sengketa hak asuh Maria Hertogh menjadi peristiwa yang mengubah pola interaksi sosial di kota itu.
Kerusuhan di Singapura, yang disebut Main Agenda sebagai ‘peristiwa yang terlupakan,’ menjadi contoh bagaimana masalah sehari-hari bisa memicu konflik besar. Pemerintah akhirnya memperketat jam malam dan menurunkan pasukan bersenjata untuk mengembalikan ketenangan. Main Agenda menekankan pentingnya penyelesaian konflik yang melibatkan kesadaran akan keberagaman dan kesetaraan antar komunitas.

