Langkah Kementerian Pertanian untuk Stabilkan Harga Telur Ayam
Dailynesia.com – Menjadi salah satu strategi utama Kementerian Pertanian (Kementan) dalam upaya menjaga stabilitas harga telur ayam. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengambil keputusan penting untuk memangkas 30% tunjangan kinerja (tukin) bagi pejabat eselon I. Tujuan utamanya adalah mengalihkan dana tersebut untuk membeli langsung produk dari peternak rakyat, terutama telur dan daging ayam. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan harga di tingkat peternak dan meningkatkan akses masyarakat Jabodetabek terhadap bahan pangan pokok tersebut.
Kebijakan dan Koordinasi Internal
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (1/7/2026), Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian tukin ini berlaku untuk seluruh jajaran eselon I. “Dengan mengurangi tukin 30%, kita bisa menyerap lebih banyak telur dan daging ayam dari peternak rakyat,” katanya. Langkah ini juga memperkuat koordinasi internal antar instansi untuk memastikan kebijakan Main Agenda berjalan efektif dan terarah.
“Kebijakan ini bukan hanya tentang menghemat anggaran, tetapi juga mendorong kerja sama antar pejabat Kementan untuk menyelesaikan masalah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan,” ujar Agung. “Main Agenda” dirancang agar tidak hanya menyelesaikan krisis jangka pendek, tetapi juga mewujudkan keberlanjutan sektor peternakan di masa depan.
Dorongan untuk Memperpendek Rantai Distribusi
Agung Suganda menekankan bahwa langkah Main Agenda juga menargetkan pengurangan waktu dan biaya distribusi. “Peternak telur diimbau menjual langsung ke konsumen akhir, bukan melalui tengkulak, agar harga lebih terjangkau,” jelasnya. Menurut dia, ketergantungan pada tengkulak terkadang membuat harga telur tidak stabil, terutama saat permintaan turun. Dengan memperpendek rantai distribusi, Kementan ingin memastikan bahwa kebijakan Main Agenda mencapai sasaran utamanya, yaitu stabilisasi harga.
Perspektif Ekonomi dan Kebutuhan Masyarakat
Suwandi, Sekretaris Jenderal Kementan, menambahkan bahwa kebijakan Main Agenda juga mengacu pada kebutuhan masyarakat. “Harga telur yang terlalu tinggi mengganggu akses konsumen, terutama keluarga berpenghasilan rendah,” katanya. Dengan distribusi gratis di Jabodetabek, Kementan berharap masyarakat dapat memenuhi kebutuhan gizi harian tanpa terganggu oleh fluktuasi harga. Ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam Main Agenda yang dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan peternak dan konsumen.
Kebijakan untuk Meningkatkan Permintaan
Menurut Suwandi, Kementan juga berupaya meningkatkan permintaan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Mentan telah menyarankan kepada Badan Gizi Nasional agar frekuensi konsumsi telur ditingkatkan dari sekali menjadi tiga kali seminggu,” terangnya. Program ini menjadi bagian dari Main Agenda untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar, sekaligus memastikan produk lokal tetap diminati. Selain itu, Kementan juga mengupayakan kerja sama dengan pihak swasta untuk memperluas jaringan distribusi.
Konteks Penurunan Harga Telur
Menurut data yang diungkapkan oleh Agung Suganda, penurunan harga telur ayam terutama terjadi di Pulau Jawa akibat kelebihan pasokan. “Sementara wilayah seperti Gorontalo, Maluku, dan Papua masih mengalami harga relatif tinggi karena faktor logistik dan permintaan yang belum menurun,” katanya. Konteks ini menjadikan Main Agenda sebagai respons tepat waktu untuk mengatasi ketidakseimbangan regional dan menghindari krisis lebih besar. Langkah penyesuaian tukin diharapkan menjadi pilar dalam strategi ini.
Evaluasi Kebijakan dan Perspektif Masa Depan
Kementan memperkirakan bahwa harga telur akan stabil pada pertengahan Juli 2026, terutama setelah kebijakan Main Agenda berjalan selama beberapa minggu. “InsyaAllah, harga minimal Rp19.500 per kg all size pada 15 Juli mendatang,” harap Agung. Ia menegaskan bahwa langkah ini hanya salah satu dari berbagai upaya, termasuk pembatasan investasi perusahaan besar di sektor peternakan ayam, untuk memastikan keberlanjutan harga. Dengan Main Agenda sebagai pilar utama, Kementan optimis dapat mengatasi tantangan pasar secara bertahap.

