Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Laut Merah Mencekam, Arab Saudi Putar Otak Kirim Minyak ke Pelanggan

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By William Moore - dailynesia.com

Foto : William Moore - dailynesia.com

Arab Saudi Mengubah Strategi Ekspor Minyak di Tengah Ancaman Laut Merah

Dailynesia.com – Jakarta — Kerajaan Arab Saudi kini mengalihkan jalur ekspor minyaknya melalui pipa yang melintasi wilayah Mesir, mengarah ke Laut Mediterania. Langkah strategis ini diambil guna meminimalkan potensi serangan di perairan Laut Merah. Keputusan tersebut menyusul pemberlakuan embargo maritim oleh kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran. Laut Merah Mencekam Arab Saudi dalam situasi yang menuntut perubahan signifikan pada logistik energi global.

Data Ekspor Melonjak di Pelabuhan Mesir

Berdasarkan informasi dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler, volume ekspor minyak dari Pelabuhan Sidi Kerir di Mesir mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Agustus, angka ini mencapai sekitar 2,3 juta barel per hari, naik drastis dari level 1 juta barel per hari di bulan Juli. Sebagian besar komoditas tersebut merupakan minyak mentah asal Arab Saudi.

"Ini bukan sekadar keputusan jangka pendek. Ini merupakan perubahan nyata dalam strategi maupun dinamika pasar," jelas Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, seperti dilansir CNBC International pada Kamis (13/8/2026).

Jalur pipa Sumed menjadi tulang punggung sistem baru ini. Pipa tersebut menghubungkan Pelabuhan Ain Sokhna di Laut Merah dengan Sidi Kerir di Mediterania. Melalui mekanisme ini, supertanker yang memiliki draft terlalu dalam untuk melewati Terusan Suez dapat memompa sebagian muatan di Ain Sokhna, mengangkutnya melalui pipa di daratan Mesir, lalu memuat ulang di Sidi Kerir. Laut Merah Mencekam Arab Saudi sehingga perusahaan minyak harus mencari alternatif yang lebih aman.

Tekanan dari Serangan Houthi dan Gangguan Jalur Pelayaran

Riyadh menghadapi tekanan berat seiring meningkatnya ancaman Iran dan sekutunya terhadap jalur pelayaran energi di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Arab Saudi sudah mengalihkan jutaan barel minyak per hari dari wilayah timur ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah akibat gangguan di Selat Hormuz.

Kini, serangan Houthi terhadap kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah semakin mengancam pengiriman dari Yanbu melalui Selat Bab el-Mandeb. Data Kpler mencatat penurunan ekspor Saudi dari Yanbu melalui selat tersebut hingga hampir 90%. Angka ini turun dari 11 juta barel pada pekan ke-20 Juli menjadi sekitar 1,3 juta barel pada pekan ke-3 Agustus, saat embargo Houthi pertama kali diumumkan. Laut Merah Mencekam Arab Saudi dan memaksa perusahaan untuk bereaksi cepat.

"Terjadi dislokasi besar di sini. Jelas bahwa pihak Saudi menanggapi hal ini dengan serius dan memperkirakan situasi ini akan menjadi tren baru," tambah Smith.

Konsekuensi dan Efek Domino di Pasar Global

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, juga mengakui bahwa Riyadh memiliki jalur alternatif melalui pipa Sumed dan Terusan Suez untuk menghindari bagian selatan Laut Merah serta Selat Bab el-Mandeb. Namun, strategi ini tidak tanpa konsekuensi. Kapal tanker yang harus mengirim minyak ke pelanggan Asia kini terpaksa menempuh rute lebih panjang dengan memutari benua Afrika. Menurut Nasser, hal ini dapat menambah waktu perjalanan sekitar 25 hari dibandingkan rute melalui Bab el-Mandeb.

Saat ini, sebagian besar minyak Saudi yang keluar dari Sidi Kerir mengalir ke Amerika Serikat dan Eropa. Smith menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya efek domino di pasar global. Pelanggan Asia kemungkinan akan menjual kembali sebagian muatan mereka, sementara minyak dari Afrika Barat yang sebelumnya menuju Eropa dapat dialihkan ke Asia.

Risiko keamanan juga belum sepenuhnya hilang. Pada 30 Juli, dua kapal LNG di Pelabuhan Damietta, Mesir, dihantam drone. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. Laut Merah Mencekam Arab Saudi dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya mempengaruhi jalur ekspor tetapi juga stabilitas harga minyak dunia.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Situasi Laut Merah

Apa yang menyebabkan Arab Saudi mengalihkan jalur ekspor minyak? Arab Saudi mengalihkan jalur ekspor minyak karena serangan Houthi di Laut Merah yang mengancam kapal tanker. Kelompok ini mendapat dukungan dari Iran dan memberlakukan embargo maritim terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel.

Berapa lama penambahan waktu perjalanan untuk pelanggan Asia? Menurut CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, kapal tanker yang mengirim minyak ke pelanggan Asia kini membutuhkan waktu tambahan sekitar 25 hari karena harus memutari benua Afrika.

Apakah jalur alternatif pipa Sumed sudah sepenuhnya aman? Meskipun pipa Sumed menawarkan jalur darat yang lebih aman, risiko keamanan masih ada. Pada 30 Juli, dua kapal LNG di Pelabuhan Damietta, Mesir, dihantam drone tanpa ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.

Bagaimana dampak terhadap harga minyak global? Perubahan jalur ekspor menciptakan efek domino di pasar global. Pelanggan Asia mungkin menjual kembali sebagian muatan mereka, sementara minyak dari Afrika Barat yang sebelumnya menuju Eropa dapat dialihkan ke Asia, mempengaruhi keseimbangan penawaran dan permintaan.

Related Reading