Program Terbaru: Menteri PU Soroti Proyek Sekolah Rakyat yang Masih Setengah Mangkrak
Penilainya dalam Tahun Ajaran Baru CNBC Indonesia
Dailynesia.com – Jakarta – Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap proyek sekolah rakyat yang belum mencapai target pembangunan. Menurutnya, hingga akhir April 2026, proyek ini masih mengalami keterlambatan signifikan, sehingga terkesan hanya selesai setengah bagian.
Dody Hanggodo mengatakan bahwa sekolah rakyat menjadi salah satu proyek yang kritis dalam Latest Program, dengan masalah pelaksanaan yang memprihatinkan.
Proyek sekolah rakyat ini awalnya direncanakan selesai pada Juli 2026 untuk mendukung pendidikan dasar bagi masyarakat pedesaan. Namun, berbagai hambatan seperti kesulitan finansial dan koordinasi antar-instansi membuat realisasi terus tertunda. Dody menyebut beberapa sekolah sudah terlihat bangunannya, tetapi infrastruktur seperti ruang belajar dan fasilitas pendukung belum mencukupi standar.
Analisis dari Pihak Terkait
Dalam Latest Program yang disiarkan oleh CNBC Indonesia, Dody juga menyoroti kebutuhan pengawasan lebih ketat terhadap proyek pembangunan sekolah. Ia menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya penting untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga menjadi indikator kinerja pemerintah dalam mencapai target pembangunan infrastruktur publik. Menurut data Kementerian PUPR, 70% dari 150 proyek sekolah rakyat di seluruh Indonesia masih dalam tahap pengerjaan.
Beberapa pejabat daerah menyampaikan bahwa ada upaya untuk menyelesaikan proyek secara bertahap, terutama di wilayah dengan anggaran terbatas. Namun, Dody mengingatkan bahwa keterlambatan ini bisa memengaruhi kualitas pendidikan di daerah-daerah yang membutuhkan bantuan pemerintah. Ia menyarankan perlu adanya evaluasi kembali dalam Latest Program untuk memastikan alokasi dana yang tepat.
Respons dari Masyarakat
Komentar Menteri PU ini memicu perdebatan di media sosial, di mana warga pedesaan mengeluhkan kesulitan memperoleh akses ke sekolah yang layak. Sejumlah netizen menyoroti bahwa beberapa sekolah hanya selesai bagian atapnya, sementara lantai, pintu, dan fasilitas tambahan masih kurang. “Sekolah rakyat yang disebut setengah mangkrak, padahal banyak anak di sini masih belum punya tempat belajar yang nyaman,” tulis salah satu warganet.
Sementara itu, pihak berwenang mengakui bahwa proyek ini memerlukan penyesuaian jadwal dan penggunaan sumber daya yang lebih optimal. Dody juga menyinggung peran Latest Program sebagai wadah untuk menyoroti isu-isu penting dalam sektor pendidikan, termasuk perlu adanya transparansi dalam penggunaan dana dan progres pekerjaan.

