Saat China Jadi Penopang Ekonomi RI Buat Tumbuh Tinggi

3 months ago  ·  2 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
a1070886-cd85-4225-b4d1-17168f0151d2-0

Saat China Jadi Penopang Ekonomi RI Buat Tumbuh Tinggi

Dailynesia.com – BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal I-2026, melebihi proyeksi konsensus pasar yang dipublikasikan CNBC Indonesia sebesar 5,4%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39%. Pertumbuhan ini berkat kontribusi signifikan dari konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah.

Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ekonomi nasional tumbuh 5,61% secara tahunan (yoy) selama tiga bulan pertama 2026. Kinerja tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang naik 5,52% yoy, yang terbantu oleh momentum Ramadan, Idulfitri, serta penyesuaian jadwal libur Lebaran. Selain itu, belanja pemerintah juga meningkat 21,81% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, khususnya karena percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kontribusi Investasi Asing dari China

Dalam kondisi risiko perlambatan ekonomi global, China menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Laporan The Focal Point dari BCA menunjukkan aliran investasi langsung asing (FDI) dari negara tersebut naik 5,2% yoy, sementara investasi baru dari negara lain mulai menurun. Meski dana asing mengalami arus keluar dari pasar keuangan domestik, FDI China tetap memberikan dampak positif terhadap ekonomi.

“FDI dari China berpotensi memperkuat proses industrialisasi RI, karena menciptakan lebih banyak lapangan kerja per unit investasi dibandingkan dari negara lain,” tulis BCA dalam analisisnya.

Berdasarkan perhitungan BCA, setiap US$1 juta investasi langsung dari Tiongkok dapat menyerap sekitar 18,4 tenaga kerja, lebih tinggi dibandingkan FDI dari negara-negara lain yang menciptakan 17,3 lapangan kerja per US$1 juta. Faktor ini penting mengingat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan pendapatan masyarakat.

Kenaikan Harga dan Tekanan Industri Lokal

Adanya impor barang murah dari Tiongkok membantu menekan kenaikan harga di dalam negeri, terutama di tengah pelemahan rupiah. Namun, kebijakan ini juga berpotensi mengganggu kompetitivitas industri manufaktur lokal, karena produsen asing memiliki skala produksi lebih besar dan rantai pasok yang lebih efisien. Jika terus berlanjut, perusahaan dalam negeri mungkin kesulitan mempertahankan pangsa pasar.

Pemerintah Indonesia juga mulai mengandalkan pendanaan dalam bentuk obligasi berdenominasi yuan. Instrumen ini menarik karena imbal hasilnya lebih rendah dibandingkan obligasi global, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan belanja negara. Namun, keberhasilan ini tergantung pada keseimbangan antara peningkatan ekspor dan penyerapan nilai tambah di dalam negeri.

MORE FROM THIS CATEGORY