Negara Kaya Ini Akan Batasi Penduduk, Alasannya?
Dailynesia.com – Swiss, negara dengan pendapatan per kapita tinggi, sedang menghadapi rencana pembatasan jumlah penduduk melalui referendum yang akan digelar akhir pekan ini. Penduduk Swiss akan memilih dalam referendum minggu ini mengenai rencana membatasi populasi hingga 10 juta jiwa dan menerapkan kebijakan imigrasi yang ketat. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap pertumbuhan populasi yang terus meningkat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir.
Perubahan Demografi dan Pertumbuhan Populasi
Populasi Swiss naik hingga 10% dalam dekade terakhir, mencapai lebih dari 9,1 juta jiwa per akhir 2025. Kondisi ini menciptakan ketimpangan demografi, di mana jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun kini lebih banyak dibandingkan warga berusia di bawah 20 tahun. Tahun lalu, migrasi bersih dan penurunan angka kelahiran terjadi, memicu diskusi lebih lanjut tentang dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan populasi yang terus berkembang.
Menurut data resmi, 41% penduduk Swiss memiliki latar belakang imigrasi, termasuk anak-anak imigran yang lahir di negeri itu. Sekitar 32,5% penduduk tetap adalah imigran generasi pertama, sedangkan sekitar 1,4 juta warga Uni Eropa tinggal di Swiss. Setiap hari, 340.000 warga UE melintasi perbatasan untuk bekerja di negara tersebut.
Penolakan dan Pendukung Pembatasan
Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa 52% responden menolak usulan batasan populasi, sementara 45% mendukung. Jika rencana ini disahkan, sistem imigrasi akan diperketat, dengan program suaka dan reunifikasi keluarga menjadi prioritas untuk dipangkas. Referendum ini juga bisa mengakhiri inisiatif kebebasan bergerak Swiss dengan Uni Eropa, jika ambang batas 10 juta jiwa terlebihi.
Penduduk Swiss, yang sebagian besar bergantung pada zona perjalanan Schengen tanpa batas, kini menghadapi tekanan untuk mengatur mobilitas. Perjanjian bebas pergerakan antara Swiss dan negara-negara Eropa lainnya akan terganggu jika populasi melebihi 9,5 juta dalam 24 tahun ke depan.
Kekhawatiran dan Argumen Pihak Penolak
“Kami memahami bahwa kekhawatiran terkait perumahan, infrastruktur, dan pertumbuhan penduduk harus ditanggapi dengan serius, dan tantangan-tantangan ini memerlukan solusi politik yang pragmatis,”
kata Rudolf Minsch, kepala ekonom Economiesuisse, dalam keterangan tertulis.
Organisasi bisnis ini menolak usulan pembatasan, mengingat Swiss sangat bergantung pada tenaga kerja asing yang terampil, terutama di bidang farmasi, teknologi, dan kesehatan. Minsch juga menyebutkan bahwa kebijakan imigrasi yang ketat berisiko melemahkan daya saing negara tersebut, terlebih dalam kondisi ekonomi yang terpuruk dan menghadapi pertumbuhan lambat, penguatan franc Swiss, serta dampak dari tarif AS yang diterapkan Donald Trump.
Partai sayap kanan Swiss People’s Party (SVP) menjadi pengusung utama rencana pembatasan. Anggota parlemen Piero Marchesi mengatakan pertumbuhan populasi menyebabkan tekanan pada layanan publik, upah, harga sewa, pendidikan, dan pasar tenaga kerja. Meski demikian, SVP menegaskan bahwa negara ini masih bisa menerima sekitar 40 ribu pendatang baru per tahun meski ada batasan.

