Mandatori Bensin E5 Bakal Meluncur Juli 2026, DEN Ungkap Kesiapannya

2 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
bbm-pertamax-green-ron-95-pt-pertamina-persero-di-spbu-pertamina-mt-haryono-jakarta-selatan-senin-2472023-3_169

Mandatori Bensin E5 Siap Diluncurkan Juli 2026, DEN Pastikan Kesiapan

Dailynesia.com – Dalam rangka mendorong penggunaan energi berkelanjutan, program latest program terbaru dari Dewan Energi Nasional (DEN) menargetkan peluncuran wajib campuran bahan bakar minyak (BBM) berbasis bioetanol 5% (E5) pada bulan Juli 2026. Ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan keberlanjutan energi. Program ini akan segera diikuti oleh implementasi biodiesel 50% (B50), yang diharapkan dapat memberikan dampak lingkungan yang signifikan. Dalam penjelasannya, DEN menyatakan bahwa seluruh pabrik etanol nasional sedang diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan kemampuan produksi sesuai standar yang dibutuhkan.

“Program latest program ini adalah langkah penting dalam mengejar energi hijau. Kami mengevaluasi kekuatan produksi pabrik etanol lokal, karena tantangan utama terletak pada regulasi dan efisiensi. Dengan menyelesaikan masalah ini, kita bisa mencapai implementasi yang ekonomis dan ramah lingkungan,” ujar Satya Widya Yudha, anggota DEN, dalam Sarasehan Energi yang diadakan di Kampus IPB Bogor, Rabu (10/6/2026).

Proses evaluasi dan persiapan ini melibatkan kunjungan DEN ke sejumlah pabrik etanol di Jawa Timur, yang menjadi pusat produksi utama. Selama kunjungan tersebut, tim DEN mengecek kemajuan produksi dan meninjau presentasi dari produsen bioetanol yang ingin berpartisipasi dalam program ini. Berdasarkan laporan yang diterima, para pelaku usaha sudah menyiapkan rencana pengembangan yang matang, dan DEN berharap masalah distribusi bisa diatasi agar target peluncuran E5 pada Juli 2026 tercapai tepat waktu.

Daftar Pabrik Etanol dan Kapasitas Produksi

Program latest program ini melibatkan beberapa pabrik bioetanol yang beroperasi di Indonesia. Di antaranya adalah PT Indonesia Ethanol Industry di Lampung dengan kapasitas 20.000 kiloliter, PT Madu Baru di Yogyakarta dengan kapasitas 7.500 kiloliter, dan PT Indo Acidatama di Solo dengan kapasitas 3.000 kiloliter. Di Jawa Timur, PT Energi Agro Nusantara dan PT Molindo Raya Industrial menjadi mitra strategis dengan kapasitas masing-masing 30.000 kiloliter dan 10.000 kiloliter. Keseluruhan kapasitas ini diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam tahap awal implementasi.

Menurut Satya Widya, DEN juga sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan pengadaan bahan baku yang cukup. “Kami menilai bahwa ekspansi kapasitas produksi sangat penting agar kebutuhan nasional terpenuhi. Dengan keterlibatan pabrik-pabrik ini, kita bisa menciptakan sistem yang lebih stabil dan berkelanjutan,” tambahnya. Dukungan dari produsen lokal menjadi kunci keberhasilan program latest program ini, karena mereka mampu mengurangi impor bahan bakar fosil dan menciptakan lapangan kerja.

Wilayah Implementasi E5 dan Rencana Perluasan

Program latest program E5 akan dimulai di enam wilayah prioritas, yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Setiap wilayah tersebut akan diintegrasikan secara bertahap ke dalam sistem bahan bakar yang ramah lingkungan. Dalam beberapa tahun mendatang, yaitu pada 2028, kadar bioetanol akan ditingkatkan menjadi 10% (E10) dengan wilayah tetap sama. Perluasan ke Lampung juga direncanakan untuk dilakukan pada 2029–2030, sehingga cakupan wilayah semakin luas.

Deni Suryadi, direktur dari Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa penyebaran E5 di seluruh Indonesia akan berdampak besar pada pengurangan emisi karbon. “Dengan latest program ini, kita bisa mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebesar 10% dalam kurun waktu lima tahun. Ini adalah langkah awal dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan,” tuturnya. Target peningkatan kadar bioetanol juga menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak impor.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari E5

Implementasi E5 bukan hanya berdampak lingkungan, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi yang signifikan. Satya Widya Yudha menyatakan bahwa program latest program ini bisa meningkatkan pendapatan petani pangan, karena bahan baku utama bioetanol berasal dari sumber daya lokal seperti jagung dan tebu. Selain itu, penggunaan E5 akan mengurangi biaya impor bahan bakar minyak, yang selama ini menjadi beban anggaran negara.

Menurut data yang dirilis oleh Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, ada pabrik baru yang sedang dalam tahap produksi etanol fuel grade (FGE) dengan kadar 99%. Dengan adanya FGE, kualitas bioetanol dapat dipastikan memenuhi standar nasional dan internasional. Proses implementasi akan dijalankan secara bertahap, dengan E5 di tahun 2026, kemudian E5 pada 2027, E10 pada 2028, dan E10 pada 2029–2030. Dengan langkah ini, Indonesia semakin dekat dengan tujuan pengurangan emisi dan peningkatan ekonomi hijau.

MORE FROM THIS CATEGORY