Macron Serang Armada Bayangan Rusia, Kremlin Kritik: Pembajakan dalam Latest Program
Dailynesia.com – Pada Senin (1/6/2026), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan operasi penyitaan kapal tanker Tagor, yang diduga tergabung dalam armada bayangan Rusia, di Samudra Atlantik. Tindakan ini memicu reaksi tajam dari Kremlin, yang menyebutnya sebagai bentuk pembajakan internasional. Kapal tersebut menjadi yang ketiga dalam sebulan terakhir yang disita oleh negara-negara Barat, karena diduga melanggar sanksi ekspor minyak Moskow. Operasi ini segera menjadi fokus perhatian internasional, terutama dalam konteks kebijakan sanksi yang terus dikembangkan dalam Latest Program.
Kapal Tagor dan Daftar Sanksi Internasional
Kapal tanker Tagor, yang terdaftar di Madagaskar, terakhir terpantau berada di Atlantik Utara lima hari sebelumnya setelah berangkat dari Rusia. Menurut laporan CNN International, kapal ini tercantum dalam daftar sanksi yang diterapkan oleh Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Macron menjelaskan bahwa tindakan penyitaan dilakukan secara ketat sesuai hukum laut, dengan dukungan dari mitra strategis seperti Inggris. “
Operasi ini dilakukan di perairan internasional, dengan kepatuhan penuh terhadap peraturan internasional, termasuk Latest Program yang mengatur kebijakan sanksi terhadap ekspor minyak Rusia,” tutur Macron.
Armada bayangan Rusia, yang terdiri dari ratusan kapal tanker, menjadi alat utama Moskow untuk mengangkut minyak ke pasar global sambil menghindari pembatasan sanksi. Dengan menyita Tagor, Prancis menunjukkan komitmen untuk menegakkan kebijakan Latest Program secara tegas. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa negara-negara Barat tidak akan mengabaikan keberadaan kapal-kapal yang dikaitkan dengan konflik Rusia-Ukraina.
Kritik dari Rusia dan Pertimbangan Hukum
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menganggap penyitaan Tagor sebagai bentuk tindakan tidak sah. Ia menyatakan bahwa operasi Prancis “mendekati pembajakan internasional” karena dianggap mengabaikan kepentingan Rusia. Kedutaan Besar Rusia di Paris juga menyoroti bahwa kapten Tagor adalah warga negara Rusia, menantikan klarifikasi lebih lanjut dari Prancis. “Kami berharap dapat mengidentifikasi awak kapal lain yang mungkin terlibat dalam operasi ini sebagai bagian dari Latest Program,” ujar pesaing Rusia.
Keputusan Prancis untuk menyita kapal ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi hukum internasional. Sementara AS dan Inggris berpendapat bahwa sanksi harus diimplementasikan secara ketat, Rusia menekankan bahwa tindakan tersebut bisa merusak stabilitas perdagangan global. Macron, dalam pidatonya, menegaskan bahwa tindakan ini bukan hanya untuk menegakkan sanksi, tetapi juga untuk melindungi keamanan pelayaran dan lingkungan laut.
Konteks Politik dan Strategi Eropa
Penyitaan Tagor terjadi dalam konteks perbedaan pendekatan antara Eropa dan Amerika terhadap sanksi terhadap Rusia. Meski AS telah melonggarkan sebagian batasan ekspor minyak, Eropa tetap konsisten dalam menindak armada bayangan Rusia yang dituduh menghindari pembatasan. “
Latest Program ini adalah bagian dari upaya kolektif Eropa untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan internasional, bahkan di tengah tekanan politik global,” kata diplomat Eropa.
Kapal-kapal yang termasuk dalam armada bayangan Rusia dianggap mengirimkan minyak ke negara-negara yang tidak terlibat dalam sanksi, seperti Tiongkok dan India. Dengan menyita Tagor, Prancis memberikan sinyal bahwa Latest Program akan terus diperkuat, meskipun perbedaan strategi antarnegara di Eropa mungkin menghambat keseragaman tindakan. Kebijakan ini juga berdampak pada hubungan diplomatik dengan Rusia, yang terus mencoba menyesuaikan eksportasinya melalui jalur alternatif.
Kapal Tagor dan Keterlibatan Rusia
Penyitaan Tagor menunjukkan bahwa Prancis terus mengejar kebijakan Latest Program untuk menghentikan alur pasokan minyak Rusia ke luar negeri. Kapal tersebut diduga terkait dengan operasi militer Ukraina, dan Angkatan Laut Prancis menegaskan bahwa tindakan ini sesuai dengan hukum laut. Namun, Rusia berargumen bahwa kapal-kapal ini masih berada di bawah pengawasan negara-negara mitra, sehingga tindakan penyitaan dianggap sebagai intervensi berlebihan.
Sebelumnya, Prancis juga menyita kapal tanker di Laut Mediterania pada Maret 2026, menyebutnya bagian dari armada bayangan Rusia. Keberhasilan operasi ini menjadi bukti bahwa Latest Program tidak hanya sekadar retorika, tetapi juga diterapkan secara langsung dalam upaya menghambat ekonomi Rusia. Macron menekankan bahwa negara-negara Barat akan terus memantau aktivitas armada ini, terutama dalam konteks perang di Ukraina dan pengaruhnya terhadap ketersediaan energi global.
Impak Terhadap Pasar Energi dan Hubungan Internasional
Kapal-kapal armada bayangan Rusia menjadi ancaman signifikan bagi pasar energi global, terutama karena memungkinkan Moskow mengirimkan minyak ke negara-negara yang tidak terlibat dalam sanksi. Dengan menyita Tagor, Prancis menunjukkan kemampuannya untuk memperkuat Latest Program melalui tindakan langsung. Ini juga berdampak pada hubungan diplomatik dengan Rusia, yang kini terlihat lebih tegang setelah serangkaian penyitaan terjadi.
Macron menegaskan bahwa tindakan ini selaras dengan kebijakan luar negeri Prancis untuk mendukung Ukraina. “
Latest Program adalah cara efektif untuk menegakkan aturan internasional, bahkan ketika Rusia memanfaatkan jalur alternatif untuk memperkuat pasokan energinya,” ujarnya. Sementara itu, Rusia menantikan penjelasan lebih lanjut dari Prancis, terutama mengenai standar penyitaan yang digunakan dan pengaruhnya terhadap perdagangan internasional. Tindakan ini diharapkan menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan global pada minyak Rusia.

