Krisis Politik di Bolivia Memuncak, Menhan Mundur dalam Tengah Gelombang Demonstrasi
Dailynesia.com – Kota Jakarta, 3 Juni 2026 – Tensi politik di Bolivia semakin memuncak setelah Menteri Pertahanan Marcelo Salinas mengambil langkah resmi untuk mengundurkan diri, di tengah gelombang aksi demonstrasi yang telah berlangsung selama sebulan terakhir. Kesepakatan ini memperkuat tekanan terhadap Presiden Rodrigo Paz, yang kini juga dihadapkan pada seruan untuk meletakkan jabatannya. Menurut laporan Reuters, dua sumber pemerintahan mengonfirmasi bahwa Salinas menyerahkan tugasnya pada Selasa (3/6/2026), sebagai respons atas krisis yang semakin dalam. Pernyataan ini mengguncang stabilitas pemerintahan Paz, yang sejak November lalu menjabat setelah meraih kemenangan dalam pemilu yang mengakhiri hampir dua dekade pemerintahan partai kiri di negara tersebut.
Kelompok Buruh dan Evo Morales Jadi Pemicu Utama
Protes yang melibatkan serikat pekerja serta pendukung mantan presiden Evo Morales menjadi motor utama dari krisis ini. Mereka menuntut pemerintah membatalkan kebijakan penghematan anggaran dan mengambil langkah konkret untuk menurunkan biaya hidup masyarakat. Demonstrasi yang semula dimulai dari aksi mogok kerja di bulan Mei, kini telah berkembang menjadi blokade jalan raya yang memutus akses ke dua kota utama, La Paz dan El Alto, yang secara keseluruhan ditinggali sekitar dua juta penduduk. Kota El Alto, kata wali kotanya Eliser Roca, mengalami kerugian hingga US$6,5 juta per hari akibat pemblokiran jalan. Roca menyerukan para pengunjuk rasa untuk melakukan dialog dengan pemerintah, mengingat pengusaha kecil menjadi kelompok yang paling terdampak.
“Banyak keluarga hidup dari hari ke hari… mereka juga memiliki hak untuk makan,” ujar Roca kepada wartawan.
Blokade tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi, tetapi juga merugikan ekonomi secara signifikan. Sementara itu, situasi keamanan semakin memburuk saat Presiden Paz mengumumkan rencana deklarasi keadaan darurat, yang berpotensi memungkinkan pengerahan militer ke jalan raya untuk memulihkan ketertiban. Namun, keputusan ini justru menimbulkan kritik lebih lanjut dari pihak oposisi dan serikat pekerja.
Perombakan Kabinet dan Pertukaran Kementerian
Dalam upaya mengatasi krisis, pemerintahan Paz melanjutkan perombakan kabinet. Ernesto Justiniano, mantan wakil menteri yang menangani pemberantasan perdagangan narkotika, terpilih sebagai pengganti Salinas di kementerian pertahanan. Perubahan ini bukan hanya di sektor pertahanan, tetapi juga menyerang bidang lain. Menteri Pendidikan Beatriz Garcia dilaporkan mengundurkan diri pada Selasa malam, menurut media lokal. Sebelumnya, pada Mei 2026, Paz telah mengganti Menteri Tenaga Kerja Edgar Morales, yang meninggalkan jabatannya karena berbeda pandangan dengan pemerintah.
Keputusan perombakan kabinet ini dianggap sebagai respons terhadap keluhan publik, yang semakin meningkat akibat tekanan ekonomi. Kekurangan bahan bakar dan penyusutan cadangan devisa menjadi faktor utama yang memicu ketidakpuasan masyarakat. Situasi ini mengakibatkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang signifikan, sehingga memperkuat kemarahan para pengunjuk rasa. Mario Argollo, Sekretaris Eksekutif dari serikat buruh Central Obrera Boliviana (COB), mengkritik langkah Paz, menilai ia gagal memanfaatkan peluang untuk bersatu dengan rakyat yang sebelumnya mendukungnya.
“Pemerintah pusat tidak memanfaatkan kesempatan untuk berdamai dengan rakyatnya, dengan 54% masyarakat yang menurut presiden membawanya ke kekuasaan, tetapi sayangnya setelah ia tiba di kekuasaan, ia melupakan basis pemilihnya,” ujar Argollo di hadapan pengunjuk rasa di El Alto.
Dalam aksi terbaru, para demonstran kembali menyerukan pengunduran diri Paz. Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak ada rencana untuk menggantikan presiden. Jose Luis Lupo, Menteri Kepresidenan, menepis isu tersebut dalam wawancara dengan Reuters, menyebut tuntutan pengunduran diri sebagai tindakan bertentangan dengan prinsip demokrasi. Paz naik ke jabatan presiden dengan janji membuka Bolivia untuk investasi asing, khususnya di sektor pertambangan dan energi. Namun, ketika memimpin negara, Bolivia justru menghadapi krisis ekonomi yang parah.
Langkah Pemimpin dan Tantangan Politik
Krisis politik ini memicu pergolakan besar di Bolivia, dengan aksi mogok kerja dan blokade jalan menjadi bentuk protes utama. Selain itu, kebijakan ekonomi pemerintahan Paz, seperti penghematan anggaran, juga disalahartikan sebagai peningkatan beban rakyat. Protes memperlihatkan kesenjangan antara janji kampanye dan kenyataan di lapangan, yang membuat dukungan publik terhadap pemerintah menurun. Kelompok buruh dan pendukung Morales menilai kebijakan tersebut memperburuk kondisi ekonomi, terutama bagi keluarga miskin.
Sebagai respons, Paz mencoba mengambil langkah keras dengan mengumumkan keadaan darurat. Namun, tindakan ini justru memicu ketegangan lebih lanjut. Kritik terhadap pemerintah semakin meningkat, terutama dari kalangan serikat pekerja dan oposisi. Di sisi lain, pemerintah mengklaim bahwa langkah-langkahnya telah menciptakan stabilitas, meski masih memperdebatkan efektivitasnya. Menteri Salinas, yang sebelumnya bertugas mengelola kebijakan pertahanan, meninggalkan jabatan dalam kondisi yang tidak stabil.
Prospek Masa Depan dan Tantangan Kebijakan
Krisis yang berlangsung di Bolivia menggambarkan tekanan terhadap pemerintahan yang terus meningkat. Upaya perombakan kabinet dan penggantian menhan dianggap sebagai bagian dari strategi untuk menenangkan masyarakat. Namun, tantangan utama tetap ada, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya hidup dan kesenjangan ekonomi. Pemerintah harus mencari solusi yang cepat dan efektif untuk mengembalikan kepercayaan rakyat, sebelum krisis semakin mengguncang kehidupan politik dan sosial negara ini.
Kebijakan penghematan anggaran yang diterapkan Paz menimbulkan kontroversi, karena dianggap memperparah kesulitan masyarakat. Serikat pekerja dan kelompok oposisi menginginkan perubahan arah kebijakan, terutama dalam memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Meski pemerintah menegaskan komitmen untuk menstabilkan ekonomi, kritik terhadap langkah-langkahnya tetap mengalir deras. Dengan munculnya gelombang protes yang semakin kuat, krisis ini menjadi ujian besar bagi presiden yang baru menjabat sebelas bulan lalu.
Masa Depan Bolivia dalam Tekanan
Bolivia yang sempat menjadi negara dengan pendekatan kiri di masa lalu kini berada di ambang perubahan besar. Protes yang dimulai dari aksi mogok kerja telah berubah menjadi gerakan yang mengguncang pemerintahan. Dengan meninggalkan jabatan, Salinas memberikan sinyal bahwa krisis ini tidak hanya tentang kebijakan ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Pemerintahan Paz, yang mengandalkan dukungan dari kelompok tengah, kini menghadapi tekanan untuk memperbaiki kebijakan dan menjaga stabilitas nasional.

