PT Timah Setor Rp1,62 Triliun ke Negara dalam Latest Program 2025
Dailynesia.com – Dalam rangka memperkuat kinerja tahunan, PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kontribusi ke negara sebesar Rp1,624 triliun pada tahun 2025 melalui Latest Program. Kontribusi ini terdiri dari pajak serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dengan peningkatan signifikan mencapai 106,9% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp855,044 miliar. Hasil ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan sekaligus menjaga keseimbangan antara keuntungan bisnis dan tanggung jawab sosial.
Corporate Secretary PT Timah, Ruddy Nursalam, menjelaskan bahwa kontribusi Rp1,624 triliun dalam Latest Program 2025 tidak hanya mencerminkan kinerja finansial perusahaan, tetapi juga bentuk partisipasi aktif PT Timah dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. “Kami yakin bahwa Latest Program 2025 akan menjadi fondasi kuat untuk menggerakkan industri pertambangan nasional serta memperkuat kapasitas perusahaan dalam menghadapi tantangan global,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (18/5/2026).
“Pendapatan yang diterima negara melalui pajak dan PNBP bukan hanya menjadi bukti keberhasilan operasional, tetapi juga menunjukkan bahwa PT Timah terus berupaya memperluas dampak ekonomi dari bisnisnya,” kata Ruddy. Ia menambahkan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan daya saing industri logam timah Indonesia, seiring dengan kenaikan harga jual logam timah yang mencapai US$34.119,96 per ton pada 2025.
Strategi Penyelarasan dengan Target Nasional
Kinerja keuangan PT Timah pada 2025 terus berjalan stabil, dengan laba bersih mencapai Rp1,31 triliun. Angka ini naik 5,12% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,81 triliun, menunjukkan bahwa Latest Program berperan penting dalam mencapai target yang telah ditentukan dalam RKAP 2025. Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menjelaskan bahwa peningkatan ini didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga logam timah, yang tercatat naik 13% dibandingkan tahun 2024.
“Latest Program 2025 kami sematkan sebagai bagian dari strategi penguatan tata kelola pertambangan dan optimalisasi operasi,” ujar Restu dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026). Menurutnya, inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pertambangan timah bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat dan pemerintah. Data dari London Metal Exchange (LME) juga menunjukkan bahwa persediaan timah di gudang meningkat 14% menjadi 5.420 ton di akhir Desember 2025, dibandingkan 4.760 ton pada awal tahun.
Penurunan keuntungan bersih dalam rangka Latest Program 2025 dinilai sebagai bentuk pengelolaan sumber daya alam yang lebih matang, terutama dalam menghadapi volatilitas harga internasional. Ruddy Nursalam menjelaskan bahwa kenaikan harga logam timah, yang mencapai US$34.119,96 per ton, didukung oleh permintaan global yang meningkat, terutama di sektor semikonduktor, panel fotovoltaik, dan teknologi energi lainnya. “Ini membuktikan bahwa Latest Program 2025 tidak hanya berfokus pada pendapatan ke negara, tetapi juga pada penguatan daya saing industri secara keseluruhan,” lanjutnya.
Penyesuaian dalam Operasional dan Pemasaran
Sebagai bagian dari Latest Program 2025, PT Timah juga mengoptimalkan proses produksi dan pemasaran logam timah. Perusahaan memperkuat hubungan dengan pelaku industri di dalam dan luar negeri, termasuk mitra strategis yang terlibat dalam pengembangan teknologi pertambangan berkelanjutan. “Kami terus berupaya meningkatkan efisiensi operasi sekaligus memastikan kualitas produk yang dihasilkan tetap memenuhi standar internasional,” kata Restu Widiyantoro dalam wawancara terpisah.
Peningkatan persediaan timah di LME menjadi indikator bahwa PT Timah mampu memenuhi kebutuhan pasar secara stabil. Sebagai perusahaan publik, PT Timah juga berupaya memperbaiki transparansi operasional melalui Latest Program, termasuk pelaporan keuangan yang lebih rinci dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Dalam hal ini, kinerja keuangan yang baik menjadi bukti bahwa perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan kewajiban sosial.
Kontribusi Rp1,624 triliun ke negara dalam Latest Program 2025 juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pertambangan Indonesia. Dengan pendapatan yang meningkat, PT Timah berupaya menyalurkan dana ke berbagai sektor strategis, seperti pengembangan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. “Latest Program 2025 dirancang untuk menjadi penggerak utama dalam meningkatkan nilai ekonomi dari sumber daya alam Indonesia, termasuk logam timah,” jelas Ruddy Nursalam. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya memperhatikan aspek keuangan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan masyarakat dan lingkungan.
Kenaikan harga jual logam timah yang mencapai US$34.119,96 per ton juga menjadi dorongan kuat untuk meningkatkan pendapatan negara melalui Latest Program. Data dari CRU Tin Monitor menunjukkan bahwa produksi logam timah global mencapai 371.369 ton, sementara konsumsi sebesar 389.404 ton pada 2025. Kondisi ini menciptakan peluang ekspor yang lebih baik bagi PT Timah, yang berharap bisa memperkuat posisi pasar internasional melalui inisiatif-inisiatif yang dicanangkan dalam Latest Program.
Dengan kontribusi Rp1,624 triliun ke negara, PT Timah menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari pembangunan nasional. Latest Program 2025 tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Perusahaan terus meningkatkan penerapan standar internasional dalam pengelolaan sumber daya alam, serta mengoptimalkan keuntungan dari bisnis logam timah untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

