Dolar AS Tembus Rp17.500, BBM Naik, Awas Harga Rumah di RI “Meledak”
Dailynesia.com – Dalam latest program terkini, tekanan inflasi dan kenaikan harga properti terus meningkat, terutama di tengah fluktuasi mata uang global dan kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM). Dolar AS yang mencapai level Rp17.500 per lembarnya menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi ekonomi, karena mendorong peningkatan harga bahan baku impor. Kenaikan BBM juga turut berkontribusi pada tekanan inflasi, yang dianggap bisa memicu lonjakan harga rumah. Milda Abidin, Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, mengingatkan bahwa pasar perumahan RI sedang menghadapi tantangan besar. “Dalam latest program ekonomi global yang sedang berubah, kita harus memperhatikan bagaimana harga rumah bisa ‘meledak’ akibat faktor-faktor ini,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (12/5/2026).
Economic Factors Behind the Price Surge
Kenaikan nilai dolar AS menjadi isu yang krusial karena menyebabkan peningkatan biaya impor. Dengan ekspor yang stagnan dan impor yang naik, rupiah terus melemah, sehingga mengurangi daya beli masyarakat. Milda menjelaskan bahwa tekanan ini dirasakan secara langsung pada sektor konstruksi. “Kenaikan harga BBM yang terus berlanjut memaksa pengembang untuk menyesuaikan harga jual, karena biaya operasional meningkat,” katanya. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneternya pemerintah juga menjadi faktor yang memengaruhi dinamika pasar properti.
“Dalam latest program kebijakan pemerintah, peningkatan subsidi BBM tidak cukup menyeimbangkan kenaikan harga bahan baku konstruksi yang signifikan. Hal ini mendorong pengembang untuk menaikkan harga properti, meski mereka berupaya agar tidak terlalu berat bagi konsumen,”
Strategies to Mitigate Market Impact
Pengembang properti mulai mengambil langkah strategis untuk mengurangi dampak kenaikan harga. Salah satu taktik yang digunakan adalah peningkatan penggunaan bahan lokal. “Kita berusaha meningkatkan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) untuk mengontrol biaya, karena bahan baku impor bisa naik hingga 30-40% dalam latest program kenaikan nilai tukar dolar,” kata Milda. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahan lokal seperti baja ringan dan batu bata daur ulang bisa mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Menurut analisis, harga properti terutama di kawasan perkotaan terus mengalami tekanan. Peningkatan biaya konstruksi yang signifikan, kombinasi dengan kenaikan harga BBM, menyebabkan peningkatan harga jual properti hingga 15-20% dibandingkan tahun sebelumnya. “Meski dalam latest program ini kita bisa melihat sedikit penyesuaian, tetapi secara total, harga rumah diprediksi akan mengalami lonjakan yang cukup signifikan,” jelas Milda. Ia menekankan pentingnya pemerintah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar perumahan.
Dalam upaya menghadapi kenaikan harga, beberapa pengembang memilih fokus pada proyek hunian vertikal di kawasan CBD (Central Business District). “Dengan model ini, biaya konstruksi bisa terbagi rata ke seluruh unit, sehingga pengembang tidak perlu menaikkan harga secara keseluruhan,” kata Milda. Proyek vertikal dianggap lebih efisien dalam penggunaan lahan dan bahan, serta mengurangi risiko kenaikan biaya yang tidak terduga. Namun, penyesuaian ini tidak sepenuhnya mencegah kenaikan harga properti.
Analisis terkini menunjukkan bahwa kenaikan harga rumah di Indonesia terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama: pelemahan rupiah dan kenaikan BBM. Dalam latest program kebijakan pemerintah, langkah-langkah seperti pembatasan subsidi BBM dan perbaikan kebijakan moneter diharapkan mampu mendinginkan inflasi. Namun, dampaknya belum terasa signifikan dalam jangka pendek. “Kita masih dalam proses menyesuaikan, tetapi jika inflasi terus meningkat, harga rumah bisa naik hingga 25% dalam beberapa bulan ke depan,” tambah Milda.
Pengamat ekonomi lainnya mengingatkan bahwa kenaikan harga properti bisa berdampak pada daya beli masyarakat. “Dalam latest program ini, kita perlu memastikan bahwa harga rumah tidak melebihi kemampuan beli masyarakat, terutama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok,” ujarnya. Meski kenaikan harga terjadi, para pengembang berharap dapat menjaga keseimbangan antara profit dan kebutuhan konsumen. Selain itu, peran perbankan dalam memberikan kredit properti juga menjadi faktor penentu dalam stabilisasi pasar.

