Kudeta Senyap Ancam PM Inggris, Starmer di Ujung Tanduk
Dailynesia.com – Menjadi isu utama yang mengemuka dalam situasi politik Inggris saat ini. Partai Buruh, yang sedang berkuasa, terlihat mengalami gejolak internal yang semakin menggelora. Perdana Menteri (PM) Keir Starmer kini harus menghadapi ancaman kudeta yang bergerak perlahan dari dalam partainya sendiri. Faktor ini memicu ketidakpastian mengenai masa depan kepemimpinan Starmer, terutama dalam persiapan pemilu mendatang.
Krisis Internal di Partai Buruh
Kehilangan 1.498 kursi dewan dalam pemilu lokal 7 Mei menjadi pemicu krisis politik yang menghantui konsistensi Key Strategy Starmer. Kepercayaan anggota parlemen terhadapnya mulai merosot, yang memperkuat tuntutan untuk perubahan kepemimpinan. Situasi ini menunjukkan bahwa Key Strategy partai Buruh sedang diuji, terutama dalam menghadapi tekanan dari kalangan internal yang ingin tampil lebih dominan.
Kekhawatiran di Cabinet
Kabinet terlibat kepanikan setelah hasil pemilu mengguncang. Starmer dianggap kehilangan kemampuan untuk memimpin partai secara stabil, sehingga Key Strategy masa depannya menjadi bahan perdebatan. Pihak oposisi, seperti Partai Konservatif, menyatakan bahwa Starmer tidak lagi memiliki dominasi kuat di panggung politik. Kemi Badenoch, pemimpin Partai Konservatif, mengkritik kurangnya kekuasaan aktual Starmer, meski ia masih menjalankan fungsi PM.
“PM telah menunjukkan keberadaannya di kantor, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang nyata,” kata Kemi Badenoch.
Sejarah Kudeta dalam Politik Inggris
Kudeta senyap di Partai Buruh meniru pola sejarah konflik kepemimpinan di Inggris. Seperti Margaret Thatcher pada 1990 atau Theresa May pada 2018, Starmer kini dihadapkan pada persaingan internal yang bisa menggoyahkan Key Strategy pemerintahannya. Perbedaan utama adalah Partai Buruh memiliki proses pemilihan ulang yang lebih rumit, membutuhkan dukungan minimal 20% anggota parlemen. Dalam situasi ini, para menteri senior berupaya membangun koalisi untuk menggantikan Starmer.
Analisis dari buku The End of the Party mengingatkan bahwa konflik di partai Buruh sering kali bermuara pada ketidakstabilan. Penulis Andrew Rawnsley menyoroti bahwa ketidakmampuan para pembunuh raja (kudeta) bisa mengakibatkan kegagalan strategi jangka panjang. Hal ini terjadi berulang kali dalam sejarah, termasuk pada usaha kudeta terhadap Gordon Brown tahun 2008-2010.
“Brown terpecah antara hasrat untuk menjatuhkan Blair dan ketakutan akan konsekuensi jika dirinya dianggap menguasai senjata,” tulis Andrew Rawnsley, kepala komentator politik *The Observer*.
Kemungkinan Skenario di Depan
Keberhasilan Key Strategy Starmer tergantung pada kemampuan mengatasi krisis internal. Aksi pengunduran diri massal dari menteri strategis menunjukkan bahwa tekanan terhadapnya semakin besar. Wes Streeting, mantan Menteri Kesehatan, menyatakan bahwa anggota parlemen dan serikat pekerja ingin fokus pada perdebatan ide, bukan pertarungan kepribadian atau faksionalisme.
Figur yang paling populer sebagai calon suksesor Starmer adalah Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham. Jajak pendapat YouGov menunjukkan bahwa Burnham menempati posisi paling kuat dengan kesukaan bersih +4, berbeda dengan Starmer yang jatuh ke angka -46. Burnham terlihat memperkuat Key Strategy dengan pendekatan lebih terbuka terhadap para anggota parlemen yang ingin menggantikannya.

