Bos PHR Blak-blakan Tantangan Garap Ladang Migas Non Konvensional

3 weeks ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
strategi-phg-genjot-produksi-migas-pakai-teknologi-ceor-terapkan-prinsip-esg-1783650467867_169

Key Strategy: PHR Tantangan Minyak Non-konvensional

Dailynesia.com – Jakarta, 15 Juli 2026 – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan tantangan signifikan dalam pengembangan ladang minyak non-konvensional (MNK) di Indonesia, terutama di wilayah Blok Rokan, Riau. Direktur Utama PHR, Muhammad Arifin, menyoroti bahwa kunci strategi pengembangan MNK terletak pada penguasaan teknologi dan pembentukan ekosistem industri yang solid. “MNK adalah sumber daya yang berbeda dari minyak konvensional, jadi tantangan utamanya adalah ekosistem industri yang belum terbentuk secara optimal di Indonesia,” kata Arifin dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Perbedaan Teknologi dan Lingkungan

Kadarnya minyak non-konvensional memerlukan pendekatan teknis yang lebih kompleks dibandingkan sumur konvensional. Arifin menjelaskan bahwa pengembangan MNK membutuhkan teknologi tinggi seperti multi-stage fracturing dan pengeboran terarah untuk memecah reservoir yang menyebarkan minyak di dalam batuan. “Karena minyak di MNK terjebak dalam struktur geologis yang sulit, kita harus mengandalkan teknologi global dan SDM yang spesialisasi di bidang ini,” tambahnya.

“MNK membutuhkan sistem yang lebih canggih untuk mengakses cadangan. Teknologi dan sumber daya manusia yang kita gunakan tidak bisa dibandingkan dengan minyak konvensional. Kita harus menyesuaikan strategi dengan kondisi geologi dan lingkungan yang berbeda,” ujar Arifin.

Dalam Key Strategy PHR, penguasaan teknologi jadi elemen penting untuk meningkatkan efisiensi produksi. Proses pengeboran di sumur MNK membutuhkan langkah-langkah yang lebih rumit, termasuk penggunaan alat-alat khusus dan pembelajaran dari pengalaman operasional di luar negeri. Arifin menekankan bahwa PHR sedang membangun ekosistem yang mendukung pengembangan MNK secara mandiri, mulai dari peralatan hingga keahlian tenaga ahli.

Kendala Lokasi dan Perspektif Masa Depan

Key Strategy PHR juga menghadapi tantangan geografis, seperti lokasi pengeboran di perairan dalam dan area tengah hutan. Ini memperparah kesulitan dalam memulai proyek MNK, karena memerlukan persiapan ekstra untuk mengakses wilayah yang sulit dijangkau. “Tantangan lokasi ini memengaruhi waktu dan biaya operasional. Tapi, itu adalah bagian dari proses pengembangan yang harus kita lalui,” imbuh Arifin.

“Kita harus menyesuaikan Key Strategy dengan kondisi lokasi yang beragam. Tantangan seperti geografis dan ekosistem industri bisa diatasi selama ada komitmen untuk berinovasi,” kata Arifin.

Menurut Arifin, pengembangan MNK tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang ekosistem yang siap mendukung. Pihaknya sudah menemukan potensi MNK di sumur Gulamo dan Kelok, dengan cadangan kategori 2C mencapai hampir 740 juta barel setara minyak. Ini menjadi penemuan terbesar di lapangan minyak Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. “Dengan Key Strategy yang tepat, kita bisa meningkatkan produksi hingga 50.000 barel per hari saat masa puncaknya,” tambahnya.

PHR juga memperkuat Key Strategy dengan menggandeng mitra strategis di Asia Tenggara untuk mempercepat pengembangan teknologi lokal. Arifin menegaskan bahwa pengembangan MNK adalah langkah penting untuk memastikan keberlanjutan energi nasional, terutama dengan adanya kebutuhan minyak yang meningkat. “Kita harus fokus pada Key Strategy yang berkelanjutan agar industri migas bisa beradaptasi dengan perubahan global,” ujarnya.

Dalam perjalanan mengeksplorasi MNK, PHR terus memperbaiki strategi produksi dan meningkatkan kapasitas SDM. Perusahaan juga mengoptimalkan Key Strategy dengan penggunaan data geologi dan analisis risiko yang lebih teliti. “Kita belajar dari pengalaman dan pengembangan teknologi di negara-negara lain, tapi kita juga ingin mewujudkan ekosistem MNK yang bisa berdiri sendiri,” tambah Arifin.

MORE FROM THIS CATEGORY