Jamu RI Diakui UNESCO, Pengusaha Bidik Peluang Pasar Wellness Global

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
ketua-umum-gabungan-pengusaha-gp-jamu-jony-yuwono-memberi-pemaparan-dalam-acara-health-forum-di-studio-cnbc-indonesia-jakarta-1779773488603_169

Jamu RI Diakui UNESCO, Pengusaha Bidik Peluang Pasar Wellness Global

Key Issue: Pengakuan UNESCO Mengubah Perspektif Industri Jamu

Dailynesia.com – Yang tengah menjadi perhatian global adalah pengakuan UNESCO terhadap jamu Indonesia sebagai warisan budaya tak benda. Penghargaan ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengusaha lokal untuk menembus pasar wellness internasional. Dengan meningkatnya minat masyarakat dunia terhadap kesehatan alami dan tradisional, jamu RI dipandang sebagai solusi yang relevan dalam konteks kehidupan sehat modern.

“Key Issue ini menjadi titik balik penting bagi industri jamu Indonesia. Dengan diakui UNESCO, jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan relevansi global,” ujar Jony Yuwono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) dalam acara Health Forum pada 26 Mei 2026.

Key Issue ini menunjukkan bahwa jamu bukan hanya sebatas budaya, tetapi juga memiliki potensi menjadi bagian dari industri kesehatan global. Penelitian menunjukkan bahwa permintaan akan produk wellness alami di pasar internasional tumbuh 12 persen per tahun, menempatkan jamu RI sebagai komoditas yang menjanjikan. Jony Yuwono menekankan bahwa UNESCO telah membuka jalan bagi pengusaha untuk memasarkan jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.

Key Issue: Potensi Ekspor ke Pasar Global

Pengakuan UNESCO menjadi momentum penting bagi pengusaha jamu Indonesia untuk mengeksplorasi peluang ekspor. Key Issue ini memicu perusahaan lokal untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih agresif, termasuk kolaborasi dengan merek internasional dan penyesuaian standar produksi sesuai permintaan pasar global. Sejumlah pengusaha telah memulai eksplorasi di Eropa, Asia, dan Amerika, dengan respons positif dari konsumen.

“Key Issue ini membuka ruang bagi kita untuk menjual jamu ke luar negeri dengan label global. Konsumen di luar negeri kini lebih terbuka terhadap produk tradisional Indonesia yang memiliki manfaat kesehatan terbukti,” tambah Jony Yuwono.

Konsumsi jamu yang semakin populer di luar negeri, seperti produk kunyit, jahe, dan temulawak, menunjukkan bahwa Key Issue ini sudah mulai berbuah hasil. Beberapa perusahaan telah mulai memasarkan jamu dengan kemasan modern dan dipasarkan sebagai minuman kesehatan yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Langkah ini membuka jalan untuk menjadikan jamu sebagai bagian dari industri wellness internasional.

Key Issue: Tantangan dalam Memasuki Pasar Global

Key Issue dalam pemasaran jamu ke pasar global melibatkan tantangan dalam menyesuaikan standar kualitas dan regulasi. Meski potensi ekspor besar, industri jamu masih harus menghadapi proses verifikasi yang ketat, seperti sertifikasi halal, organic, dan keamanan bahan. Jony Yuwono mengungkapkan bahwa perusahaan lokal perlu meningkatkan riset dan standarisasi agar produk jamu bisa bersaing dengan produk internasional.

“Key Issue ini menuntut perusahaan jamu untuk lebih konsisten dalam menjaga kualitas bahan dan proses produksi. Dengan demikian, jamu Indonesia bisa diakui tidak hanya sebagai budaya, tetapi juga sebagai solusi kesehatan yang andal,” jelas Jony.

Key Issue dalam ekspor jamu juga mencakup kebutuhan untuk memahami preferensi konsumen global. Misalnya, di Jepang dan Tiongkok, konsumen lebih memilih produk dengan kemasan sederhana dan bahan alami, sementara di Eropa, keberagaman rasa dan kandungan nutrisi menjadi faktor utama. Pengusaha harus menyesuaikan produk dengan kebutuhan setiap pasar, agar bisa membangun merek yang kuat di luar negeri.

Key Issue: Strategi Pemasaran yang Adaptif

Dalam rangka memaksimalkan Key Issue pengakuan UNESCO, pengusaha jamu mulai menerapkan strategi pemasaran yang lebih adaptif. Ini melibatkan pemanfaatan media sosial, kerja sama dengan influencer kesehatan, dan promosi melalui acara internasional. Selain itu, pengembangan inovasi produk seperti jamu yang dicampur dengan teknologi modern atau formula yang lebih lengkap menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi di pasar global.

“Key Issue ini menuntut kreativitas dalam memasarkan jamu. Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, kita bisa memenuhi ekspektasi konsumen dunia yang semakin beragam,” kata Jony Yuwono.

Pengusaha juga memanfaatkan peluang Key Issue ini dengan menjual produk jamu dalam bentuk siap konsumsi, seperti jamu dalam botol atau kemasan tetrapack. Ini memberi kemudahan bagi konsumen di luar negeri, terutama yang memprioritaskan kenyamanan dan efisiensi. Dengan strategi pemasaran yang tepat, Key Issue pengakuan UNESCO bisa menjadi pemicu pertumbuhan industri jamu Indonesia secara signifikan.

MORE FROM THIS CATEGORY