Harga Pakan Naik Saat Telur Anjlok, Peternak Ayam Terjepit!
Dailynesia.com – Yang tengah menghantui sektor pertanian ternak ayam adalah kenaikan harga bahan pakan yang signifikan, sementara harga telur mengalami penurunan tajam. Hal ini membuat para peternak mengalami tekanan ekonomi yang luar biasa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Mengapa Harga Pakan Ayam Terus Meningkat?
Kenaikan harga pakan ayam tidak bisa diabaikan, terutama akibat fluktuasi harga bahan baku seperti jagung dan kedelai yang menjadi komponen utama. Pasokan bahan baku terbatas dan permintaan tinggi di pasar global menyebabkan kenaikan biaya produksi yang terus-menerus. Pada akhir April 2026, harga bahan pakan mencapai Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram, jauh di atas tingkat sebelumnya. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya operasional peternak, terutama mereka yang mengandalkan bahan pakan lokal. Beberapa peternak mengeluhkan bahwa biaya produksi naik hingga 20% dalam sebulan terakhir, sementara pendapatan dari penjualan telur dan ayam hidup justru melorot. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Harga pakan ayam kembali naik, sehingga Key Issue utama saat ini adalah peningkatan biaya produksi yang tidak sebanding dengan penurunan harga jual telur,” kata Irham, petugas kandang di Desa Kalisuren, Kabupaten Bogor, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Kita terjepit karena harga telur turun drastis dari Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram menjadi Rp22.000, sementara biaya produksi kita kini mencapai Rp25.000 per kilogram,” tambah Irham. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Harga Telur Turun karena Pasokan Melimpah
Penurunan harga telur ayam ras tidak hanya disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, tetapi juga oleh ketersediaan pasokan yang melimpah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur di Jawa Barat meningkat 15% dibanding bulan sebelumnya, sementara permintaan di tingkat konsumen belum sebanding. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kondisi ini mengakibatkan persaingan ketat di pasar, dengan harga jual terus mengalami tekanan. Meski harga pakan naik, produsen telur masih berusaha menurunkan harga untuk menarik pembeli. Namun, harga telur di tingkat peternak sekarang hanya berkisar Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Key Issue lainnya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah dalam menstabilkan harga telur. Meski pemerintah telah mencoba mengatur harga jual melalui mekanisme HAP, harga di tingkat produsen tetap bervariasi. Beberapa peternak menyebutkan bahwa mekanisme ini belum cukup efektif untuk mencegah penurunan harga. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Para peternak juga mengalami kesulitan dalam mengatur strategi penjualan. Sebagian besar mengandalkan pasar lokal, yang terbukti tidak stabil. Beberapa mulai beralih ke ekspor, tetapi persaingan dari negara-negara tetangga membuat peluangnya terbatas. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di sisi lain, konsumen rumah tangga tetap mengalami penurunan harga telur, yang seolah menjadi penyeimbang dari keuntungan yang semakin kecil. Namun, untuk peternak, ini justru memperparah situasi mereka. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Kita harus beradaptasi dengan Key Issue ini, karena kenaikan biaya pakan dan penurunan harga jual telur membuat kita kewalahan,” ujar Irham. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Meski ada sedikit peningkatan permintaan di pasar ekspor, volume produksi dalam negeri tetap mengakibatkan tekanan harga yang besar,” tambah Irham. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Permasalahan ini juga memengaruhi rantai pasokan seluruhnya. Dari produsen bahan pakan hingga peternak, semua terlibat dalam Key Issue yang sama. Pasokan yang tidak seimbang, perubahan permintaan, dan kenaikan biaya produksi menjadi faktor utama yang mengganggu kestabilan pasar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

