Dunia Perang Lama, Prabowo: RI Aman-Banyak Negara Minta Beras

3 months ago  ·  4 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
presiden-prabowo-subianto-resmikan-operasionalisasi-1061-koperasi-desakelurahan-merah-putih-di-kabupaten-nganjuk-jawa-timur-sa-1778908040891_169

Dunia Perang Lama, Prabowo: RI Aman-Banyak Negara Minta Beras

Dailynesia.com – Dalam situasi global yang penuh ketegangan, Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia tetap menjadi negara yang relatif aman dan damai. Hal ini diungkapkannya saat memberikan sambutan di acara peresmian operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Ia menyoroti betapa sibuknya dunia saat ini karena berbagai konflik bersenjata yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah. Di Eropa pula, Ukraina dan Rusia belum mampu menyelesaikan perang mereka sejak 2022.

“Di tengah dunia yang penuh perang, perpecahan, konflik, negara kita masih cukup damai dan aman,” kata Kepala Negara dalam pidato yang disampaikannya. Ia menekankan bahwa kestabilan dalam negeri menjadi fondasi penting untuk menghadapi tantangan eksternal.

Dalam kondisi yang aman dan damai, Prabowo menyatakan bahwa pemerintah berhasil mempertahankan swasembada pangan, yang berarti memenuhi kebutuhan makanan bagi 287 juta penduduk. Ia menggarisbawahi bahwa masalah pangan merupakan kunci untuk memastikan kelangsungan hidup suatu bangsa. “Swasembada pangan menjadi penting karena urusan perut rakyat menentukan hidup dan mati suatu negara,” tambahnya.

Menurut Prabowo, beras, jagung, atau bahan pokok lainnya tidak boleh hanya dilihat sebagai komoditas biasa. Di tengah kondisi perang di berbagai negara, ia menegaskan bahwa pangan harus dianggap sebagai alat penting untuk memastikan kelangsungan hidup bangsa. “Survival bangsa bukan sekadar soal harga yang lebih murah, tapi soal ketersediaan dan keandalan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa konsep swasembada pangan memperkuat daya tahan Indonesia di tengah krisis global. “Karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apapun di luar negara kita, kita relatif lebih siap menghadapi cobaan,” kata Prabowo. Pidatonya menyoroti bagaimana kebijakan pangan nasional berperan sebagai benteng bagi kestabilan sosial dan ekonomi.

Dalam konteks tersebut, Prabowo menyatakan bahwa banyak negara kini meminta beli beras dari Indonesia. Ia menggambarkan situasi ini dengan menyebutkan tetangga-tetangga kita yang sebelumnya dianggap lebih hebat, kini harus datang ke Indonesia untuk memastikan pasokan beras. “Ada yang apa, ada yang masih harga diri, ya kan? Mereka agak lamban minta, mungkin mencoba beli lagi dari mana,” jelasnya.

Prabowo menjelaskan bahwa kebijakan ekspor beras Indonesia berbeda dengan negara lain. Banyak negara, seperti India dan Bangladesh, telah menutup ekspor bahan pokok mereka akibat ketegangan internasional. “Ternyata berapa hari yang lalu, India mengumumkan tutup. Tidak ekspor beras, jagung, gandum. Disusul oleh Bangladesh yang juga menghentikan ekspor,” katanya. Meski begitu, Indonesia masih bisa mempertahankan ekspor beras karena mampu memenuhi kebutuhan internal.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi krisis, harga beras Indonesia tidak akan ditawarkan murah. Prabowo meminta agar petani tetap diuntungkan dengan harga yang wajar. “Kita jual kepada mereka, tapi harganya ya yang oke lah. Jangan petani kita jadi korban! Ingat, krisis bisa lama, jadi yang utama adalah amankan rakyat kita dulu,” tegasnya. Ia juga menyoroti adanya tawaran diskon berlebihan dari negara-negara yang membeli beras, yang menurutnya mencerminkan ketidakstabilan dunia saat ini.

Kesadaran Nasional dan Keadilan Ekonomi

Prabowo mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada pangan harus dirayakan sebagai pencapaian nasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan makanan sendiri, tetapi juga bisa menjadi penyangga bagi negara-negara lain yang terkena dampak konflik. “Ini yang kita capai, ya. Jadi saudara-saudara, itu adalah bukti bahwa kita bisa berdiri sendiri,” katanya.

Kepala Negara menekankan bahwa pertanian harus diprioritaskan untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Ia menilai bahwa ekspor beras adalah bentuk kerja sama internasional yang bermanfaat bagi kedua pihak. “Kita tidak hanya menyelamatkan rakyat kita, tetapi juga memberi manfaat kepada negara-negara yang membutuhkan,” papar Prabowo. Ia menambahkan bahwa pertanian menjadi jantung perekonomian, dan kebijakan yang tepat akan memastikan kelangsungan hidup segenap masyarakat.

Menurut Prabowo, swasembada pangan tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan impor. Ia mengkritik pandangan yang mengatakan beras dan bahan pangan lainnya lebih efisien jika diimpor, karena dalam situasi perang, keberadaan bahan makanan bisa menjadi jaminan ketergantungan. “Jadi saya tidak ikut-ikut paham-paham yang mengatakan beras lebih efisien kalau kita impor. Kita harus memandangnya sebagai instrumen survival bangsa,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Prabowo juga mengingatkan tentang pentingnya keadilan dalam distribusi hasil pertanian. Ia menilai bahwa harga beras yang ditawarkan kepada negara lain harus tetap adil, agar tidak merugikan petani. “Harga harus minimal untung sedikit, jangan ngetok tapi jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa berlangsung lama. Yang utama adalah petani kita aman dan sejahtera,” jelasnya.

Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan adalah bukti kekuatan Indonesia dalam menghadapi ancaman global. Ia mencontohkan bagaimana kondisi dunia yang tidak stabil justru memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang bisa menjadi sumber bahan makanan. “Ini bukti bahwa kita sudah mampu menjaga kebutuhan makanan rakyat kita, bahkan saat dunia tengah berperang,” katanya.

Menyimpulkan, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia harus terus berupaya menjaga kemandirian pangan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya tentang produksi, tetapi juga tentang strategi distribusi yang tepat. “Kita harus bangga, karena berkat swasembada pangan, rakyat kita tidak perlu khawatir saat negara lain mengalami krisis,” tegasnya. Pidatonya menjadi pengingat bahwa pertanian merupakan bagian penting dari kebijakan nasional yang membangun masa depan bangsa.

MORE FROM THIS CATEGORY