Klaim Trump Terbantahkan, Iran Masih Punya Drone Canggih Buat Hajar AS

2 months ago  ·  4 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
iran-memamerkan-rudal-balistik-terbaru-yang-diklaim-mampu-menempuh-jarak-1700-kilometer-minggu-222025-rudal-balistik-itu-dipam-1_169

Klaim Trump Terbantahkan, Iran Masih Punya Drone Canggih Buat Hajar AS

Downing Drone AS Menjadi Tanda Kekuatan Pertahanan Teheran

Dailynesia.com – Iran telah mengungkapkan bahwa mereka berhasil menembak jatuh drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat (AS) menggunakan sistem pertahanan udara baru di dekat Selat Hormuz, awal pekan ini. Insiden ini memberikan petunjuk bahwa Teheran masih mempertahankan kemampuan untuk membalas serangan dari AS dan Israel, meskipun situs militer mereka telah menjadi sasaran dalam beberapa bulan terakhir. Media lokal Iran melaporkan bahwa drone tersebut jatuh di sekitar Pulau Qeshm, yang terletak di jalur pelayaran strategis tersebut.

Sistem pencegatan baru yang digunakan dalam operasi ini, bernama Arash-e Kamangir, dilaporkan pertama kalinya diaktifkan. Meski belum ada bukti independen untuk memverifikasi klaim ini, kejadian serupa menunjukkan kemajuan teknologi pertahanan udara Iran yang mengarah pada penggunaan senjata canggih untuk menghadapi ancaman musuh. Penyerangan terhadap situs militer AS di Bandar Abbas juga terjadi pada saat yang sama, yang menimbulkan pertanyaan tentang apakah Iran benar-benar mampu mengambil peran aktif dalam konflik yang semakin memanas.

“Operasi ini, yang dilakukan dengan sistem memiliki kemampuan tersembunyi, adalah pesan yang jelas dan tegas dari Iran,” ujar pejabat anonim seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Sistem Arash-e Kamangir, menurut kantor berita semi-resmi Iran Fars News Agency, mampu mendeteksi teknologi siluman (stealth) meskipun informasi teknisnya masih terbatas. Keberhasilan penembakan drone AS dianggap sebagai peringatan bagi pesawat-pesawat musuh yang beroperasi di dekat ruang udara dan perbatasan laut Iran. Ini terutama relevan ketika Teheran mencoba memanfaatkan kendali parsialnya atas Selat Hormuz sebagai alat negosiasi gencatan senjata dengan AS.

Kehilangan drone Reaper di wilayah strategis ini terjadi saat Washington dilaporkan meluncurkan serangan baru terhadap situs militer Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian menyatakan telah melakukan serangan balik ke pangkalan udara AS, menunjukkan kemampuan Teheran untuk merespons tindakan agresif. Analis keamanan mengingatkan bahwa kejadian ini bukan hanya serangan isolasi, melainkan bagian dari pola lebih luas dalam strategi pertahanan Iran.

Kemajuan Militer Iran dan Strategi Biaya Rendah

Mark Hilborne, dosen senior di King’s College London, menilai bahwa meski detail teknis sistem Arash-e Kamangir belum diungkapkan secara menyeluruh, keberhasilannya dalam menembak jatuh drone AS sesuai dengan perencanaan jangka panjang Iran. “Sistem yang murah dan sederhana dapat menempatkan senjata AS yang lebih kompleks dalam risiko tinggi,” kata Hilborne kepada Al Jazeera. Hal ini mencerminkan upaya Iran untuk mengembangkan pertahanan udara seluler yang tidak bergantung pada radar tradisional, yang rentan terdeteksi.

Nama sistem ini, Arash-e Kamangir, dalam bahasa Farsi berarti “Arash sang pemanah,” mengambil referensi dari mitos Persia. Arash dikenal sebagai tokoh pahlawan yang mampu memanah musuh dengan keahlian tinggi. Penamaan ini menggambarkan harapan Iran bahwa sistem yang mereka bangun bisa menjadi “panah” yang mematahkan dominasi AS dalam pertahanan udara. Meski klaim kemajuan ini belum sepenuhnya diverifikasi, para ahli menyatakan konsep di baliknya masuk akal.

“Iran telah menjadi cukup mandiri dalam berbagai bentuk desain rudal, seperti Ukraina, yang mengubah ekonomi peperangan menjadi alat strategis,” tambah Hilborne.

Sementara itu, Alex Almeida dari Horizon Engage menduga bahwa Arash-e Kamangir bukan senjata revolusioner yang sepenuhnya baru, melainkan bagian dari pergeseran Iran ke sistem pertahanan udara berbiaya rendah. Menurutnya, sistem ini kemungkinan besar menggunakan teknologi panduan elektro-optik atau termal, yang bisa dipasang dan diluncurkan dengan cepat. “Ini mungkin merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem portabel yang telah diuji sebelumnya,” jelas Almeida.

Almeida menyoroti bahwa dengan mengurangi ketergantungan pada radar tradisional, Iran bisa membangun sistem pertahanan yang lebih fleksibel. Ini memungkinkan mereka menyerang target musuh tanpa perlu mengorbankan sumber daya besar. Strategi ini juga memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang, karena drone Shahed yang produksi murah bisa terus digunakan untuk operasi terus-menerus. Dengan demikian, Iran bisa menjaga kekuatan militer sambil menghemat anggaran.

Strategi Iran dalam Menghadapi Serangan AS

Dalam konteks perang dagang dan tekanan dari AS, Iran terus memperkuat pertahanannya. Downing drone Reaper di Selat Hormuz menjadi bukti bahwa negara ini mampu menyasar teknologi militer AS dengan senjata lokal. Meski drone AS dirancang untuk operasi di ruang udara, sistem Arash-e Kamangir menunjukkan kemampuan Iran untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

Kehilangan drone AS bisa memaksa Washington untuk lebih bergantung pada rudal mahal, yang harganya mencapai jutaan dolar. Sebaliknya, Teheran bisa tetap menggunakan drone Shahed yang lebih murah dan efisien, sehingga memperkuat posisi mereka dalam konflik yang berkepanjangan. Analis menilai bahwa ini adalah strategi yang cerdas, mengingat Iran terus berinvestasi dalam teknologi yang bisa diakses secara luas.

Penggunaan Arash-e Kamangir juga memperlihatkan bagaimana Iran mampu beradaptasi dengan kekurangan sumber daya. Dengan membangun sistem yang tidak terlalu mahal, mereka bisa menjamin kemampuan pertahanan tanpa mengandalkan dukungan luar. Hal ini berarti bahwa bahkan dalam situasi sulit, Iran tetap memiliki alat untuk melawan kekuatan besar seperti AS.

Klaim Iran atas sistem Arash-e Kamangir tidak hanya berdampak pada pertahanan udara, tetapi juga mengubah dinamika konflik di Selat Hormuz. Wilayah ini menjadi jalur vital bagi perdagangan global, dan pengambilalihan kendali atasnya oleh Iran bisa memberikan keuntungan geopolitik. Dengan sistem yang bisa digunakan secara lokal, Teheran memperlihatkan bahwa mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menyerang secara efektif.

Kelompok pahlawan mitos Persia menjadi simbol keberanian Iran dalam menghadapi ancaman dari luar. Dengan memperkenalkan Arash-e Kamangir, mereka menunjukkan kemampuan teknis yang semakin matang. Meski sistem ini belum sepenuhnya terbukti secara independen, keberhasilannya menembak jatuh drone AS adalah langkah signifikan dalam memperkuat posisi Teheran dalam negosiasi gencatan senjata.

MORE FROM THIS CATEGORY