Key Discussion: Israel Tingkatkan Mata-Matai AS, Pentagon Beri Status Ancaman Kritis
Dailynesia.com – Badan Intelijen Pentagon, yaitu Defense Intelligence Agency (DIA), telah memberikan peringatan bahwa ancaman spionase Israel terhadap Amerika Serikat mencapai tingkat kritis. Penilaian ini diumumkan dalam laporan yang dirilis beberapa pekan belakangan ini, yang menyebutkan peningkatan signifikan dalam aktivitas intelijen Israel, terutama dalam memantau kebijakan luar negeri AS. Laporan ini pertama kali diungkap oleh NBC News pada Jumat (5/6/2026) dan kemudian dikonfirmasi oleh The New York Times di hari berikutnya.
Faktor-Faktor yang Memicu Kekhawatiran
Laporan tersebut didasarkan pada kekhawatiran terhadap intensitas upaya intelijen Israel yang terus meningkat, khususnya dalam konteks persaingan antara AS dan Iran. DIA menilai bahwa Israel semakin giat mengumpulkan data mengenai keputusan strategis pemerintah AS, terutama terkait perang dan kebijakan diplomatik. Menurut sumber anonim yang dikutip dalam laporan, peningkatan ini terjadi setelah perbedaan pandangan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump, yang menekankan keinginan untuk berdamai dengan Iran, terus memicu kecemasan di kalangan intelijen Israel. Sebaliknya, Netanyahu memperkuat dukungan terhadap operasi militer meskipun gencatan senjata telah diumumkan sejak 8 April 2025. DIA mengungkapkan bahwa Israel aktif mengamati pejabat tinggi AS, termasuk utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan sejumlah anggota Pentagon seperti Elbridge Colby serta Michael DiMino IV, guna memperoleh informasi tentang kebijakan internal pemerintah.
Insiden yang Mendasari Status Ancaman Kritis
Penilaian DIA terhadap ancaman kritis Israel didasari oleh sejumlah insiden spionase yang tercatat sejak akhir 2024. DIA mencatat bahwa kegiatan mata-mata Israel melibatkan pemasangan perangkat penyadap di kantor-kantor pemerintah AS, termasuk dalam kasus pada tahun 2021 di mana perangkat serupa ditanam di kantor intelijen AS. Selain itu, intelijen domestik Israel, Shin Bet, dikabarkan mencoba memasang perangkat penyadap di kendaraan Secret Service pada 2025, yang menggambarkan koordinasi lebih intensif antara keamanan dalam dan luar negeri.
“Aktivitas spionase Israel menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan negara-negara sekutu lainnya, termasuk negara-negara dengan hubungan diplomatik yang kompleks dengan Washington,” tulis The New York Times dalam laporan terpisah.
Kerja sama militer antara AS dan Israel sudah terjalin selama bertahun-tahun, dengan Washington memberikan bantuan senjata dan persenjataan dalam jumlah besar. Namun, laporan DIA mengingatkan bahwa ancaman ini bisa mengubah dinamika hubungan strategis antara kedua negara. Kongres AS saat ini juga sedang membahas rancangan undang-undang pertahanan baru yang akan memperkuat integrasi pengembangan persenjataan dengan Israel.
Kebutuhan Key Discussion dalam upaya mengidentifikasi potensi konflik internasional semakin terasa. DIA menilai bahwa tingkat mata-matai Israel mencerminkan keseriusan mereka dalam memahami kebijakan luar negeri AS, bahkan sampai ke level keputusan penting yang bisa memengaruhi keseimbangan kekuasaan global. Laporan ini juga menyoroti bagaimana Israel memanfaatkan kebijakan AS untuk mencapai tujuan mereka sendiri, terutama dalam konteks taktik yang berulang kali dilakukan sejak 2024.
Dalam upaya memperkuat posisi mereka, Israel terus mengumpulkan informasi melalui jaringan mata-mata yang beragam. Peningkatan ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memantau aktivitas militer AS, tetapi juga menginjak kebijakan diplomatik dan ekonomi. DIA mengatakan bahwa strategi ini memerlukan koordinasi antara intelijen nasional Israel dan unit-unit militer mereka, yang memperlihatkan keterlibatan lebih dalam dalam mengarungi kebijakan AS.

