Key Discussion: Hemat Naik Banyak Transportasi Umum Selama 3 Jam Hanya Rp10 Ribu
Dailynesia.com – Jakarta – Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta kini mendorong penggunaan transportasi umum melalui skema tarif hemat yang memungkinkan warga membayar Rp10.000 untuk perjalanan selama tiga jam, tanpa memperhatikan jam sibuk atau tidak. Kebijakan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan aksesibilitas dan mengurangi biaya transportasi di kawasan Jabodetabek, dengan berbagai moda seperti Metrotrans, Transjakarta, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta sudah terintegrasi.
Penerapan Sistem Tarif Satu Perjalanan
Sistem tarif ini dirancang agar pengguna tidak perlu repot menghitung harga tiket setiap moda transportasi yang digunakan. Dedy Cahyadi, Sekretaris Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) Kementerian Perhubungan, menjelaskan bahwa kebijakan ini diterapkan dengan memanfaatkan teknologi pembayaran digital, seperti JakLingko, yang bisa diakses melalui kartu uang elektronik seperti e-money, BNI Tapcash, atau BRI.
“Tarif Rp10 ribu berlaku selama tiga jam, dan ini membuka kemungkinan pengguna beralih antar moda transportasi secara fleksibel. Dengan mekanisme ini, biaya perjalanan menjadi lebih terjangkau, terutama untuk pengguna yang sering bepergian ke berbagai area Jabodetabek,” kata Dedy dalam sesi media briefing di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Persiapan Integrasi dengan KRL Jabodetabek
Selain mengintegrasikan moda yang dikelola Pemprov DKI, sistem ini juga sedang dikembangkan untuk melibatkan KRL Jabodetabek. Dedy menekankan bahwa integrasi dengan KRL memerlukan kesepakatan antara DKI Jakarta dan pemerintah pusat, karena subsidi KRL berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Key Discussion tentang integrasi tarif ini akan terus dilakukan untuk memastikan sistem yang efisien dan transparan. Rencananya, setelah mencapai kesepakatan, KRL Jabodetabek akan bisa menjadi bagian dari skema tarif satu perjalanan,” tambah Dedy.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan transportasi umum, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta mendorong pengurangan emisi karbon. Selain itu, pengguna bisa menikmati fleksibilitas bepergian dengan berbagai opsi transportasi yang lebih nyaman. Pemprov DKI juga sedang melakukan sosialisasi melalui media dan aplikasi JakLingko untuk memastikan masyarakat memahami manfaat dari skema ini.
Tantangan dan Langkah Masa Depan
Meski memiliki banyak keuntungan, skema tarif satu perjalanan masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah koordinasi antara berbagai operator transportasi umum di Jabodetabek, yang memiliki kebijakan tarif dan teknologi pembayaran berbeda. Dedy menyebut pihaknya terus berupaya mengatasi masalah ini dengan membangun sistem yang kompatibel dan mudah digunakan.
“Key Discussion tentang integrasi tarif akan menjadi fokus utama dalam beberapa bulan ke depan. Kami juga sedang mengevaluasi kemungkinan ekspansi ke moda transportasi lainnya, seperti bus kota atau angkutan wisata, agar lebih banyak warga bisa menikmati manfaatnya,” ungkap Dedy.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya membangun sistem transportasi yang lebih inklusif dan ramah lingkungan. Dedy menegaskan bahwa pengujian sistem akan dilakukan sebelum diterapkan secara menyeluruh. Selain itu, pihaknya juga berharap masyarakat bisa memanfaatkan skema ini secara optimal, terutama di area yang memiliki keramaian dan permintaan tinggi, seperti sekitar stasiun MRT atau LRT.
Pemprov DKI Jakarta juga mengajak masyarakat untuk memberikan masukan selama masa uji coba. Dedy menuturkan, feedback dari pengguna akan menjadi dasar untuk menyempurnakan kebijakan tarif tersebut. Dengan sistem yang konsisten, kebijakan ini diperkirakan bisa menurunkan angka penumpang kendaraan pribadi sebesar 10-15% dalam waktu tiga bulan pertama pelaksanaan.

