Harga Naik Ada Sampai Rp50.000-Warga RI Mulai “Pelit” Ganti Oli Muncul

2 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
harga-oli-motor-meledak-di-kawasan-mampang-jakarta-selatan-jumat-562026-1780650466026_169

Important Visit: Harga Oli Naik hingga Rp50.000, Warga RI Mulai Pelit

Dailynesia.com – Dalam rangka Important Visit, kenaikan harga minyak dunia yang terus memanas akibat ketegangan di Timur Tengah berdampak signifikan pada biaya hidup masyarakat Indonesia. Pasar minyak global memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai US$200 per barel, yang kemudian memengaruhi harga pelumas atau oli mesin. Kenaikan ini membuat beberapa warga mulai lebih bijak dalam penggunaan atau penggantian oli kendaraan, terutama saat tarif yang meningkat bisa mencapai Rp50.000 per botol.

Statistik BPS: Inflasi Oli di Mei 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga oli mesin sebesar 3,85% pada Mei 2026. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor utama dalam kenaikan tarif sektor transportasi. Di bengkel-bengkel di Jakarta Selatan, harga oli yang sebelumnya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp65.000 kini melonjak hingga Rp75.000. Perubahan ini mengindikasikan tekanan ekonomi yang terus berlanjut, terutama dalam Important Visit yang menghubungkan kenaikan harga global dengan kebutuhan lokal.

Analisis Yusuf Rendy Manilet: Faktor Tekanan Produksi

Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyebutkan bahwa kenaikan harga oli terkait erat dengan kenaikan biaya produksi industri pelumas. Dalam Important Visit yang dilakukan CNBC Indonesia, ia menjelaskan bahwa produsen menghadapi tantangan ganda, yakni kenaikan bahan baku utama serta ketergantungan pada komponen impor. Fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang memperparah situasi ini.

“Kenaikan harga oli terus berlanjut karena dua faktor tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan. Jika konflik Timur Tengah berlanjut, harga minyak akan tetap stabil, sehingga tekanan pada oli mesin akan bertahan. Sementara itu, Bank Indonesia perlu menjaga kebijakan moneter untuk mencegah inflasi yang lebih besar,” tutur Yusuf kepada CNBC Indonesia, Jumat (5/6/2026).

Pelumas sebagai produk turunan minyak bumi membuat kenaikan harga mentah langsung memengaruhi biaya produksi. Dalam Important Visit yang dilakukan di Jakarta, Yusuf menekankan bahwa pasokan base oil terbatas, sehingga harganya melonjak. “Produk premium yang menggunakan bahan baku impor lebih rentan terhadap gejolak pasar global,” jelasnya.

Dampak pada Kebiasaan Konsumen

Kenaikan harga oli tidak hanya memengaruhi industri, tetapi juga kebiasaan konsumen. Banyak pemilik usaha dan montir bengkel mengeluhkan tekanan biaya operasional yang meningkat. Sementara itu, kunjungan ke bengkel mengalami penurunan signifikan hingga 50%. “Biasanya ada 10 pelanggan, kini hampir tiga bulan hanya lima orang yang datang,” kata salah satu montir bengkel. Fenomena ini mencerminkan respons warga Indonesia yang mulai lebih hemat dalam penggunaan produk pelumas.

Dalam Important Visit yang diadakan di Jakarta, para ekspert mengungkapkan bahwa masyarakat mulai beradaptasi dengan kenaikan harga. Beberapa pelanggan mengganti oli dengan merek lokal yang lebih murah, sementara yang lain mengurangi frekuensi penggantian. Kebijakan subsidi pemerintah juga dinilai menjadi penentu dalam menstabilkan harga, terutama di tengah tekanan eksternal yang berlangsung.

Perkembangan di Masa Depan

Kenaikan harga oli di Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Dalam Important Visit, Yusuf menyebutkan bahwa industri pelumas menargetkan kenaikan sekitar 15-20% dalam satu hingga dua bulan ke depan. Arah perubahan ini bergantung pada dua faktor utama: kestabilan situasi Timur Tengah dan kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah. Jika kenaikan harga terus berlangsung, masyarakat akan terus mengalami tekanan dalam pengeluaran sehari-hari.

MORE FROM THIS CATEGORY